LANGIT7.ID-, New York -
Zohran Mamdani dilantik sebagai
Wali Kota New York di stasiun kereta bawah tanah Balai Kota yang terbengkalai pada Kamis (1/1/2025).
Sebagai penganut agama Islam, Mamdani disumpah dengan meletakan tangannya di atas Al-Qur'an. Dalam prosesi pelantikan tersebut, Mamdani meletakkan tangannya di atas
Al-Qur'an milik kakeknya, yang bagian dari komunitas Muslim Gujarat.
Selain prosesi tersebut, Mamdani juga akan menjalani pelantikan lanjutan di Balai Kota New York pada hari pertama tahun baru.
Di acara tersebut, Mamdani akan menggunakan
Al-Qur'an ketiga yang sarat dengan nilai sejarah.
Baca juga: Zohran Mamdani Cetak Sejarah Jadi Wali Kota Pertama yang Dilantik dengan Al-Qur'anAl-Qur'an tersebut merupakan manuskrip saku yang berasal dari akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Manuskrip itu adalah koleksi dari Pusat Penelitian Budaya Kulit Hitam Schomburg di Perpustakaan Umum New York.
Menurut kurator studi Timur Tengah dan Islam di New York Public Library Hiba Abid, salinan Al-Quran tersebut melambangkan keragaman dan keberadaan
umat Muslim di New York.
“Ini adalah Al-Quran kecil, tetapi menyatukan unsur-unsur iman dan identitas dalam sejarah Kota New York,” kata Abid.
Manuskrip tersebut sebelumnya dimiliki oleh Arturo Schomburg, sejarawan kulit hitam Puerto Rico yang koleksinya mendokumentasikan kontribusi global orang-orang keturunan Afrika.
Tidak seperti manuskrip keagamaan yang berornamen yang terkait dengan keluarga kerajaan atau kaum elit, salinan Al-Quran yang akan digunakan Mamdani memiliki desain yang sederhana.
Kitab suci yang akan digunakan Mamdani memiliki tampilan sederhana, yakni sampul berwarna merah tua dengan medali bunga sederhana dan ditulis dengan tinta hitam dan merah.
Baca juga: Kemenangan Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York City, Simbol Perubahan Tradisi LamaTulisannya polos dan mudah dibaca, menunjukkan bahwa Al-Qur'an itu dibuat untuk penggunaan sehari-hari daripada untuk pajangan seremonial.
Ciri-ciri tersebut menunjukkan bahwa manuskrip tersebut ditujukan untuk pembaca biasa, kata Abid, sebuah kualitas yang ia gambarkan sebagai inti dari maknanya.
“Pentingnya Al-Quran ini terletak bukan pada kemewahan, tetapi pada aksesibilitasnya,” katanya.
Karena manuskrip tersebut tidak memiliki tanggal maupun tanda tangan penyalin, para ahli memperkirakan
Al-Qur'an tersebut dibuat sekitar akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19 selama periode Ottoman di wilayah yang sekarang meliputi Suriah, Lebanon, Israel, wilayah Palestina, dan Yordania.
Meskipun tidak jelas bagaimana Schomburg memperoleh Al-Quran tersebut, para ahli percaya bahwa hal itu mencerminkan hubungan historis antara Islam dan budaya kulit hitam di Amerika Serikat dan di seluruh Afrika.
Baca juga: Pidato Kemenangan Zohran Mamdani: Janji Hilangkan Islamofobia di New YorkSementara dari sisi filosofi, Abid menilai perjalanan manuskrip tersebut ke New York mencerminkan latar belakang berlapis Mamdani sendiri.
Mamdani adalah warga New York keturunan Asia Selatan yang lahir di Uganda, sementara Duwaji adalah warga Amerika-Suriah.
(est)