LANGIT7.ID- Dalam sejarah peradaban manusia, hubungan antara agama dan sains sering kali digambarkan sebagai sebuah drama ketegangan yang tak kunjung usai. Kita mengingat bagaimana Galileo Galilei harus berhadapan dengan inkuisisi karena teori heliosentrisnya, atau bagaimana teori evolusi Darwin memicu debat teologis yang membara di Barat. Namun, dalam perspektif pemikiran Islam kontemporer, ketegangan itu dipandang sebagai sebuah kesalahpahaman sejarah. Prof. Dr. M. Quraish Shihab, melalui karya monumentalnya Membumikan Al-Quran, menegaskan bahwa perseteruan tersebut sebenarnya semu. Bagi Quraish Shihab, wahyu dan sains berasal dari sumber yang sama: Tuhan.
Shihab merujuk pada tesis fundamental yang pernah dipopulerkan oleh Dr. Maurice Bucaille dalam buku fenomenalnya, The Bible, The Quran and Science. Keduanya sepakat bahwa tidak ditemukan satu pun ayat dalam Al-Quran yang secara eksplisit bertentangan dengan fakta ilmiah yang telah mapan (established science). Sebaliknya, yang ditemukan justru adalah keajaiban literer; Al-Quran sering kali memberikan isyarat-isyarat ilmiah tentang alam semesta jauh sebelum manusia menemukan mikroskop, teleskop, atau laboratorium canggih untuk membuktikannya.
Salah satu contoh paling menonjol adalah narasi Al-Quran mengenai kosmologi. Dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 47, disebutkan bahwa langit dibangun dengan kekuasaan Tuhan dan Dia-lah yang meluaskannya. Berabad-abad kemudian, Edwin Hubble melalui observasinya menemukan fenomena redshift, yang membuktikan teori jagat raya yang mengembang (expanding universe). Isyarat ini menunjukkan bahwa Al-Quran tidak hanya berbicara tentang moralitas, tetapi juga menyediakan "peta jalan" bagi nalar manusia untuk memahami makrokosmos.
Tak hanya pada skala makro, Al-Quran juga menyentuh detil biokimia yang sangat spesifik. Quraish Shihab menyoroti istilah al-syajar al-akhdhar (pohon yang hijau) dalam Surat Yasin ayat 80, yang berkaitan dengan produksi energi. Dalam kacamata sains modern, ini merujuk pada proses fotosintesis dan peran krusial klorofil. Shihab mencatat bahwa pilihan kata Al-Quran lebih akurat daripada istilah "zat hijau daun", karena zat tersebut faktanya tidak hanya berada di daun, melainkan di seluruh bagian pohon yang berwarna hijau. Ini adalah bukti bahwa wahyu menyediakan petunjuk yang intelligible—dapat dijangkau dan divalidasi oleh akal manusia.
Namun, bagi Quraish Shihab, isyarat ilmiah dalam Al-Quran bukan sekadar untuk "cocok-logi" atau pembenaran instan. Ada misi yang lebih besar di balik itu: mendorong manusia melakukan tafakkur (berpikir mendalam). Tuhan telah menundukkan alam semesta beserta hukum-hukumnya agar manusia dapat melakukan eksplorasi. Dalam terminologi Quraish Shihab, tafakkur akan melahirkan sains, sementara tashkhir (pemanfaatan alam yang ditundukkan Tuhan) akan melahirkan teknologi.
Prinsip utama dari pengembangan teknologi dalam Islam adalah kemudahan (taysir). Al-Quran melegitimasi segala bentuk inovasi teknik selama ia berfungsi menghilangkan kesukaran hidup manusia dan membawa maslahat. "Tuhan menginginkan kemudahan bagimu, dan tidak menginginkan kesukaran," demikian bunyi prinsip dasar dalam wahyu. Maka, teknologi yang destruktif atau yang justru merendahkan martabat manusia secara otomatis kehilangan legitimasinya dalam pandangan Al-Quran.
Lebih jauh lagi, Quraish Shihab menekankan bahwa iman dalam Islam tidak dimulai dari sikap percaya buta atau taklid. Al-Quran justru menantang logika manusia untuk melakukan verifikasi. Al-Quran tidak ragu menantang para peragu untuk membuat satu surat saja yang semisal dengan keindahannya, atau menantang manusia untuk menembus penjuru langit dengan kekuatan ilmu pengetahuan. Keberanian Al-Quran dalam menantang nalar ini menunjukkan bahwa wahyu sangat percaya diri di hadapan akal.
Pada akhirnya, perkembangan ilmu pengetahuan diposisikan sebagai "pelayan" bagi wahyu. Sains membantu manusia menjelaskan hakikat wujud yang selama ini tersembunyi dalam simbol-simbol bahasa langit. Melalui observasi astronomi, penelitian genetika, hingga fisika kuantum, manusia diajak untuk sampai pada satu muara: pengakuan akan kebesaran Sang Pencipta.
Dengan gaya interpretatif yang segar, Quraish Shihab berhasil memposisikan Al-Quran bukan sebagai penghambat kemajuan, melainkan sebagai inspirator riset masa depan. Wahyu adalah kompas, dan laboratorium adalah kendaraannya. Tanpa wahyu, sains akan kehilangan arah etisnya; dan tanpa sains, manusia akan lambat dalam memahami keagungan ayat-ayat Tuhan yang terhampar di alam semesta.
