LANGIT7.ID- Dunia hari ini mungkin terlihat benderang oleh cahaya lampu perkotaan dan layar gawai, namun secara eksistensial, manusia sedang meraba dalam gelap. Filsafat, yang menurut Bertrand Russell bertujuan memberikan kesatuan sistem ilmu pengetahuan, kini justru seringkali memecah manusia menjadi kepingan-kepingan informasi medis atau sosiologis yang kering. M. Quraish Shihab mengingatkan bahwa tanpa memahami hakikat kemanusiaan, segala kemajuan teknik hanya akan membawa kita pada kehancuran moral.
Perjalanan sejarah sejak masa Renaissance telah menempatkan sains sebagai tuhan baru. Namun, sains yang terlepas dari nilai spiritual terbukti bisa menjadi senjata yang mematikan. Setelah Perang Dunia II, pretensi sains mulai dipermasalahkan. Manusia modern mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang dari definisi mereka tentang diri sendiri. Eksistensialisme mencoba mengisi celah itu dengan kebebasan tanpa batas, namun tanpa arah, kebebasan tersebut justru melahirkan kecemasan dan absurditas.
Sartre mungkin benar bahwa manusia bebas memilih, namun ia keliru ketika menganggap agama sebagai penghalang kebebasan. Al-Quran justru memposisikan kebebasan manusia sebagai modal dasar untuk menjadi khalifah di bumi. Manusia diberi kepercayaan penuh untuk memilih jalannya sendiri, namun ia juga dibekali dengan nurani dan bimbingan wahyu sebagai navigator. Al-Quran memandang manusia dengan kacamata yang seimbang: ada saatnya manusia dipuji karena kapasitas moralnya yang tinggi, namun ada kalanya dicerca karena sifat aniaya dan pengingkaran mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa kemanusiaan adalah sebuah proses menjadi, bukan sesuatu yang statis. Al-Quran menjelaskan bahwa kita tersusun dari dua elemen: tanah dan roh. Elemen tanah mengikat kita pada bumi dan hukum alam, namun elemen roh menarik kita menuju keilahian. Pergulatan antara dua dimensi inilah yang menentukan arah sejarah kemanusiaan. Tanpa dimensi roh, manusia hanya akan menjadi mesin pemuas libido sebagaimana yang dibayangkan Freud. Sebaliknya, dengan mengakui keberadaan ruh, manusia memiliki akses menuju keindahan dan kesetiaan yang melintasi batas fisik.
Alexis Carrel dengan jujur mengakui keterbatasan akal manusia dalam membedah batinnya sendiri. Ketidaktahuan ini bukan karena kurangnya data, melainkan karena kompleksitas manusia yang bersifat permanen. Dalam konteks inilah, wahyu menjadi kebutuhan logis bagi manusia untuk mengenal dirinya. Al-Quran hadir bukan untuk mendikte sains, melainkan memberikan kerangka filosofis agar sains tidak berjalan tanpa roh. Wahyu pertama tidak turun untuk menjelaskan hukum gravitasi, melainkan untuk memperkenalkan manusia pada Tuhannya dan pada dirinya sendiri.
Pandangan Al-Quran tentang manusia sebagai khalifah yang direncanakan memberikan harga diri yang tidak bisa diberikan oleh materialisme. Kita bukan kumpulan atom yang tercipta secara kebetulan. Kita adalah makhluk yang ditundukkan kepadanya alam raya untuk dikelola dengan tanggung jawab. Dengan berpegang pada pandangan ini, manusia memiliki pelita dalam perjalanan panjangnya. Ia tahu dari mana ia berasal dan ke mana ia akan kembali. Di tengah hiruk-pikuk filsafat yang seringkali mereduksi manusia menjadi sekadar angka atau statistik, Al-Quran tetap berdiri teguh menyuarakan martabat ruhani yang abadi.
