LANGIT7.ID-Sejarah agama-agama besar di dunia sering kali terjebak dalam pusaran perdebatan panjang mengenai satu sosok: Isa Al-Masih. Bagi sebagian kalangan, ia adalah representasi Tuhan di bumi; bagi sebagian yang lain, ia adalah nabi yang teramat dimuliakan. Namun, dalam cakrawala keimanan Islam, sosok putra Maryam ini diletakkan pada posisi yang sangat tegas dan presisi melalui wahyu.
Dalam buku
Syirik pada Zaman Dahulu dan Sekarang karya Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria, dipaparkan bagaimana Al-Quran melakukan dekonstruksi terhadap klaim-klaim yang mengarah pada penyekutuan Tuhan terkait sosok Isa. Al-Quran tidak sekadar memberikan bantahan, melainkan menyuguhkan narasi biografi sejak masa kecil hingga tugas kenabiannya berakhir di bumi.
Semua bermula dari sebuah kalimat (
kun) yang disampaikan Jibril kepada Maryam. Narasi dalam Surah Ali Imran ayat 45-47 memberikan landasan sosiologis dan teologis bahwa kehadiran Isa adalah murni hasil kreativitas penciptaan Allah yang Maha Berkehendak. Ketika Maryam meragu karena ketiadaan sentuhan lelaki, jawaban Allah sangat lugas: Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Seperti Adam yang diciptakan tanpa ayah dan ibu, Isa adalah bukti kekuasaan absolut yang tak terikat hukum kausalitas biologis manusia.
Namun, di sinilah interpretasi sering kali menyimpang. Mukjizat kelahirannya yang tanpa perantara ayah sering kali disalahpahami sebagai bukti keilahian. Padahal, jika logika penciptaan tanpa ayah dijadikan standar ketuhanan, maka Adam—sebagaimana disebut dalam Surah Ali Imran ayat 59—seharusnya lebih berhak menyandang status itu karena ia tercipta tanpa ayah maupun ibu. Al-Quran menggunakan analogi Adam untuk meruntuhkan keraguan dan perdebatan (imtiray) yang menyelimuti kaum Nabi Isa.
Kesaksian paling otentik justru muncul dari mulut Isa sendiri saat ia masih berada dalam buaian. Surah Maryam ayat 30-34 merekam kalimat pertama yang diucapkan sang bayi sebagai bentuk pembelaan terhadap kehormatan ibunya: Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Kata abdullah (hamba Allah) di sini menjadi kata kunci yang memutus segala klaim ketuhanan di masa depan. Isa memposisikan dirinya sebagai penerima mandat (kitab Injil), seorang nabi yang diberkati, dan individu yang terikat pada kewajiban syariat seperti shalat dan zakat.
Fenomena ini sebagai upaya Al-Quran untuk menjernihkan posisi Isa di tengah hiruk-pikuk doktrin teologis Bani Israil. Penegasan dalam Surah An-Nisa ayat 171 bahwa Isa adalah utusan Allah dan roh dari-Nya, sering kali disalahartikan oleh para penganut paham trinitas. Padahal, roh di sini bermakna roh ciptaan Allah yang dimuliakan, bukan bagian dari zat Tuhan yang terpecah.
Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria dalam bukunya menekankan bahwa pengakuan Isa sebagai Tuhan atau anak Tuhan adalah sebuah bentuk kekufuran yang nyata. Surah Al-Maidah ayat 17 dan 72 secara eksplisit menyebutkan bahwa klaim Allah adalah Al-Masih putra Maryam adalah pernyataan yang tertolak. Argumen logis yang ditawarkan sangat sederhana namun mematikan: jika Allah berkehendak membinasakan Isa, Maryam, dan seluruh penghuni bumi, siapakah yang sanggup menghalangi-Nya? Hal ini menunjukkan ketergantungan total sang Al-Masih kepada Sang Pencipta.
Lebih jauh lagi, Isa sendiri dikisahkan sebagai sosok yang paling gigih memerangi kesyirikan. Ia menyeru Bani Israil untuk menyembah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Sebuah pernyataan yang menyejajarkan status kemanusiaannya dengan kaumnya di hadapan Tuhan yang Esa. Ancaman yang ia sampaikan pun sangat berat; siapa pun yang mempersekutukan Allah, maka haram baginya surga dan neraka adalah tempat kembalinya.
Pada akhirnya, sosok Isa Al-Masih dalam naskah wahyu adalah figur yang jernih—seorang hamba (abdun) yang diberi nikmat kenabian, bukan objek sembahan. Al-Quran menutup perdebatan ini dengan menetapkan Isa sebagai tanda bukti kekuasaan (ayah) bagi Bani Israil. Ia adalah rasul yang membawa damai, mendirikan shalat, dan sangat berbakti kepada ibunya, jauh dari kesan sombong maupun klaim-klaim keilahian yang diatributkan orang kepadanya setelah ia tiada.
(mif)