Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home masjid detail berita

Peristiwa Muharram: Tafsir Spiritual atas Kisah Nabi Idris

miftah yusufpati Sabtu, 28 Juni 2025 - 05:45 WIB
Peristiwa Muharram: Tafsir Spiritual atas Kisah Nabi Idris
Apa sebenarnya makna dari tempat yang tinggi itu? Di sinilah ruang interpretasi terbuka lebar. Ilustrasi: Ist
LANGT7.ID-Di tengah pergantian tahun hijriah dan kedatangan bulan Muharram, sejarah keimanan kembali menghidupkan perenungan. Tanggal 10 Muharram bukan hanya hari duka bagi para pecinta Ahlul Bait, tetapi juga momentum langit mencatat peristiwa agung: diangkatnya Nabi Idris ‘alaihissalam ke tempat yang tinggi. Begitu firman Tuhan dalam Surah Maryam ayat 56–57, “Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi.”

Apa sebenarnya makna dari “tempat yang tinggi” itu? Di sinilah ruang interpretasi terbuka lebar. Di balik dua ayat pendek itu, warisan riwayat dan spekulasi tafsir menjelma menjadi lanskap spiritual yang luas—kadang mistik, kadang filosofis, kadang sarat peringatan bagi manusia modern yang kehilangan arah dalam memaknai pencapaian sejati.

Ibnu Katsir, dalam Qashash al-Anbiya, merujuk kepada hadis sahih Bukhari dan Muslim bahwa Nabi Muhammad bertemu Nabi Idris di langit keempat pada peristiwa Isra Mi’raj. Ini memperkuat pandangan bahwa tempat tinggi yang dimaksud adalah langit lapis keempat, salah satu dari tujuh lapisan langit dalam kosmologi Islam klasik.

Namun tak cukup hanya itu. Tafsir lain menambahkan lapisan-lapisan spiritual, simbolik, bahkan alegoris terhadap peristiwa ini. Riwayat Ka’ab al-Ahbar, meski dikategorikan sebagian sebagai israiliyat, menggambarkan Nabi Idris sebagai sosok yang mendambakan peningkatan amal sebelum ajal menjemputnya. Ia pun meminta bantuan malaikat untuk menyampaikan permintaan kepada malaikat maut agar ajalnya ditangguhkan. Namun, justru di langit keempat itulah nyawanya dicabut—sebuah takdir yang telah ditentukan.

Baca juga: Kisah Lamik Keturunan Nabi Idris Ternyata Ayah Nabi Nuh

Kisah ini membuka ruang tafsir yang lebih dari sekadar kronik kematian. Ia menggambarkan seorang hamba saleh yang, dalam keinginannya memperbanyak amal, justru “dipanggil” saat berada di titik tertinggi—secara spiritual dan fisikal. Tafsir ini memperlihatkan bahwa kenaikan Nabi Idris bukan semata perjalanan ruang angkasa, melainkan simbol kenaikan derajat karena ketekunan, kesalehan, dan cinta akan amal.

Dalam narasi yang dikisahkan oleh Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas dalam kitab Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman, Nabi Idris bukan hanya melihat langit, tetapi sempat “plesir” ke neraka dan surga. Ia meminta mati, kemudian dihidupkan kembali. Ia meminta melihat jahanam, lalu menggigil seumur hidup. Ia kemudian meminta diperlihatkan surga, dan ketika ia berada di dalamnya, Idris berkata: “Aku telah mati, aku telah melihat neraka, dan kini aku berada di surga. Maka aku tidak akan keluar lagi.”

Kisah ini mengundang banyak tafsir: apakah surga yang dimaksud adalah surga akhirat yang kekal? Apakah Idris benar-benar telah mengalahkan kematian dan tinggal di surga untuk selamanya? Riwayat Wahab bin Munabbih dan Ibnu al-Jauzi menyebut bahwa Idris masih hidup di langit, sebagaimana Nabi Isa, dan berpindah antara langit keempat dan taman-taman surga. Namun mayoritas mufasir seperti Ibnu Katsir cenderung berhati-hati menyikapi narasi-narasi ini, menempatkannya sebagai *israiliyat* yang tak bisa dijadikan hujah tanpa landasan yang kuat dari Al-Qur’an atau hadis sahih.

Namun, bukan tentang fakta sejarah semata kisah ini menjadi penting. Dalam tradisi sufistik dan etika Islam, kisah Nabi Idris adalah pelajaran tentang kerinduan kepada kebaikan, tentang kesediaan melampaui batas duniawi demi melihat hakikat akhirat. Tentang bagaimana seseorang mengukur martabat bukan dari jabatan atau usia, melainkan dari kerendahan hati untuk terus menaikkan amal.

Baca juga: Kisah Nabi Idris Mengunjungi Neraka dan Surga Bersama Malaikat Pencabut Nyawa

Peringatan 10 Muharram bukan hanya milik kisah syahid di Karbala. Ia juga menyimpan nyala lain dari langit: seberkas cahaya yang membimbing manusia untuk naik, bukan dengan kendaraan, melainkan dengan amal. Nabi Idris, dalam tradisi ini, bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi juga simbol dari manusia yang tak pernah puas dengan kebaikan yang telah ia miliki. Ia ingin lebih. Dan untuk itu, ia bersujud di langit.

Pada dunia yang kini terobsesi pada pendakian sosial dan status digital, kisah Nabi Idris mengajarkan bahwa pendakian spiritual lebih dari sekadar karier atau pengakuan. Ia adalah perjalanan batin menuju kedekatan kepada Tuhan, tempat yang jauh lebih tinggi dari langit keempat atau puncak mana pun di bumi.

Dan seperti halnya Nabi Idris yang tak lagi turun setelah mencapai tempat itu, siapa pun yang telah mencicipi kedekatan sejati dengan Allah, tak akan ingin kembali pada kedangkalan dunia.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)