Ahlus Sunnah wal Jamaah bukanlah rival bagi Syafiiyah maupun Malikiyah. Namun, loyalitas tunggal pada mazhab sering kali menjebak umat dalam fanatisme yang justru menjauhkan dari kemurnian sunnah.
Identitas pencabut nyawa dalam literatur Ahlus Sunnah adalah Malaikat Maut, bukan Izrail sebagaimana anggapan populer. Penamaan Izrail dinilai tidak memiliki landasan dalil shahih dan cenderung bersumber dari riwayat Israiliyyat yang tidak terverifikasi.
Alam kubur bukan sekadar perhentian fisik, melainkan fase krusial menuju kekekalan. Bagi Ahlus Sunnah, meyakini nikmat dan siksa kubur adalah ujian tertinggi dalam memvalidasi keimanan pada hal ghaib.
Dalam konteks ini, hadits ahad yang shahih sekalipun memiliki bobot wajib untuk diterima dan diamalkan. Ini bukan bentuk kekakuan, tetapi kepatuhan pada wahyu sebagai sumber kebenaran mutlak.
Pembukuan hadis baru dimulai pada akhir abad pertama Hijriah. Hal ini merujuk pada inisiatif Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz, seorang khalifah dari Dinasti Umayyah yang sangat dihormati dan sering disebut sebagai Umar II.
Pada awalnya, Ilmu Kalam menjadi monopoli kaum Muktazilah. Namun dalam perkembangan selanjutnya, tidak demikian. al-Asy'ari yang pada mulanya tokoh Muktazilah justru memelopori suatu jenis Ilmu Kalam yang anti Muktazilah.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, menyambut kedatangan Imam Akbar Al-Azhar, Grand Syekh Ahmad El-Tayeb.
Melansir Al Sharq, Syekh Utsman lahir 26 Mei 1962 di Kuwait. Dia meraih gelar sarjana dari College of Fundamentals of Religion dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Cabang Al-Qasam, pada 1988.
Grand Syekh Al-Azhar menjelaskan makna ahlussunnah wal jamaah yang harus diajarkan kepada anak-anak muslim. Dia menyebut, ahlussunnah wal jamaah tidak hanya terkait pada satu golongan saja.
Allah memperhatikan hambanya (dengan penuh rahmat) pada malam Nisfu Syaban, kemudian Ia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyahin.
Ketua Markaz Takwinil Ulama Mauritania dan Anggota Dewan Pengawas Ikatan Ulama Muslim Dunia, Syekh Muhammad Al-Hasan Ad-Dadouw Asy-Syinqithi, menjelaskan makna sufi dan tasawuf di tubuh umat Islam.