LANGIT7.ID - Ketua Markaz Takwinil Ulama Mauritania dan Anggota Dewan Pengawas Ikatan Ulama Muslim Dunia, Syekh Muhammad Al-Hasan Ad-Dadouw Asy-Syinqithi, menjelaskan makna sufi dan tasawuf di tubuh umat Islam.
Menurut dia, sufi ialah seorang muslim yang menyibukkan diri menyucikan jiwa di atas jalan keimanan. Kelompok itu telah tersebar sejak era para sahabat dan tabi'in.
"Dan jadilah itu ada pada jalannya kelompok manusia dari sebagian sahabat nabi dalam hal zuhud," kata Syekh Muhammad Hasan, dikutip @shahih.muslim, Senin (20/21/2021).
Dia menyebut ada sahabat Nabi yang menjadi sufi, seperti Abu Dzar Al-Ghifari. Dari kalangan tabi'in juga ada yang mencapai tingkatan tertinggi zuhud, seperti Uwais Al-Qarni.
"Pada zaman atba' tabi'in tersebarlah ajaran tasawuf menjadi berbagai perguruan, yang orang-orangnya bersikap zuhud dan mereka membatasi diri dalam urusan duniawi, sehingga mereka mendidik jiwanya dengan cara itu," ucapnya.
Di era ini ada sufi yang berada pada golongan yang benar, ada yang salah, ada pula yang menyimpang. Ada pula yang menisbatkan diri ke sekelompok orang yang ada pada kebenaran dan ada yang mengikuti penyimpangan.
"Lalu apakah Sufi termasuk Ahlussunnah atau bukan dari Ahlussunnah? Kita ketahui seperti Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, beliau Ahlussunnah dari kalangan Sufi. Ada Abu Hasan Asy-Syadzili, Syekh Zarruq, dan yang begitu (juga Ahlussunnah dari kalangan sufi)," tuturnya.
Baca Juga: Memahami Tasawuf, Jalan Hidup Orang yang Tak Cinta Dunia Namun Tak Harus Jadi MiskinSyekh Muhammad Hasan lalu menjelaskan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membagi Sufi ke dalam tiga golongan. Golongan pertama yakni mereka yang berpegang teguh pada dalil dan tidak berlebih-lebihan. Kelompok ini fokus menyucikan jiwa karena terinspirasi dari janji Allah yang bersumpah bahwa orang yang beruntung adalah orang menyucikan jiwa dan orang merugi orang yang mengotori jiwanya.
"Ini tidak diragukan lagi berasal dari agama Islam, sebab itu untuk bersikap ihsan, yang mana Rasulullah saat ditanya oleh Malaikat Jibril, lalu Rasulullah bersabda; 'Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.'(HR Muslim dan Abu Daud)." tuturnya.
Kelompok kedua ialah mereka yang mengadakan praktik (amaliyah) dalam rangka 'ishlah' (perbaikan). Praktik itu disandarkan pada dalil. Mereka mengadakan praktik tazkiyah kepada manusia, yang bisa jadi menyelamatkan atau tidak menyelamatkan manusia. Mereka ini juga berada pada manhaj yang lurus.
"Kelompok ketiga, mereka yang melanggar dalil dan menyelisihinya. Mereka ini tidak diragukan lagi sudah menyimpang," ucap Syekh Muhammad Hassan.
Aktivitas utama dari para sufi adalah berdzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya. Menurut Abdul Hadi WM dalam praktek sufi dan tarekat, dzikir dilakukan sebagai sarana perenungan (musyahadah), meditasi (muraqabah) dan transendensi (penembusan hakekat, mukasyafah).
"Melalui dzikir para sufi berharap dapat membersihkan hati dan pikiran dari segala sesuatu selain Dia. Dzikir dipandang sebagai buah cinta seorang hamba kepada Khaliknya, dan dengan itu dapat membuahkan cinta yang dalam kepada Yang Satu," jelasnya.
Dalam kehidupan seorang sufi, praktek dzikir dimulai dengan salat jamaah, diteruskan dengan penyampaian doa, dzikir menyebut asma-Nya dan sejumlah wirid.
Ada dua jenis zikir yang dikenal dalam kalangan ahli tasawuf, yaitu dzikir jali, dzikir yang diucapkan dengan suara keras secara bersama-sama sehingga membentuk paduan suara yang indah. Paduan suara indah ini membentuk suasana sendiri bagi kehidupan jiwa pedzikir. Dzikir yang kedua ialah dzikir khafi, yang diucapkan dalam hati. Dzikir khafi disebut juga dzikir kalbi.
(jqf)