LANGIT7.ID - Tasawuf sering dikenal sebagai jalan spiritual bagi seorang muslim. Tak sedikit yang salah kaprah memahami tasawuf. Biasanya tasawuf identik dengan orang yang menjauhi dunia dan nampak miskin namun hakikatnya tidak demikian.
Pimpinan Majelis Ahbaburrosul Indonesia, Sayyid Seif Alwi, menjelaskan, tasawuf merupakan jalan hidup (thariqah) untuk mengenal Allah Ta’ala (Ma’rifatullah). Salah satu inti ajaran ini adalah tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dari penyakit hati seperti sombong dan riya.
Kata tasawuf secara bahasa memiliki banyak arti. Ada tasawuf berasal dari kata al-Shuffah atau orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Makkah ke Madinah. Ada pula kata suf yang berarti barisan dan suf yang berarti kain wol. Namun sebenarnya, dari sisi linguistik, tasawuf bisa dipahami sebagai sikap mental.
“Tasawuf berasal dari kata Shafa yang berarti bersih. Bersih dari sifat-sifat tercela. Maka, tasawuf adalah ajaran yang mengajarkan tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) dari sifat tercela seperti sombong, ujub, riya, sum’ah, dan lain-lain,” kata Sayyid Seif Alwi melalui kanal youtube Santri NU, dikutip Selasa (16/11/2021).
Tasawuf mengajarkan tawadhu atau mawas diri. Mawas diri artinya tahu diri. Tahu diri merupakan ajaran tasawuf dari Rasulullah SAW. beliau pernah bersabda, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya."
Baca Juga: Ian Dallas, Seniman dari Eropa Jadi Pemimpin Sufi di Afrika
“Mengenal diri, bahasa kita ya tahu diri. Maka, kata tau diri, konotasinya kan baik, sebaliknya tidak tau diri maka konotasinya buruk. Artinya, orang yang tau diri itu akan sopan santun, tawadhu, berakhlak mulia, tidak sombong, baik hati. Orang yang tidak tahu diri biasanya tidak tahu terima kasih, tidak sopan santun," kata Sayyid Seif.
Orang yang tidak tahu diri diidentikkan dengan akhlak buruk karena tidak awal penciptaan dirinya sendiri. Orang yang mengenal dirinya sendiri berawal dengan mengetahui dari mana ia diciptakan. Dijelaskan dalam Surah Al-Mukminun ayat 12-14, manusia diciptakan dari saripati tanah yang berubah jadi air mani.
Air mani itu kokoh dalam rahim seorang ibu. Lambat laun berubah menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, lalu jadi tulang-belulang. Tulang-belulang itu dibungkus dengan daging, sehingga menjadi makhluk berbentuk bayi.
“Maka sadar diri, mengenal diri. Allah yang memberikan kita kemampuan untuk mendengarkan ilmu dan pelajaran, Dia yang telah memberikan kemampuan untuk melihat pelajaran yang tersurat maupun tersirat. Maka, siapa yang tau diri, maka dia akan mengenal tuhannya,” ucap Sayyid Seif.
Ini merupakan ajaran dasar tasawuf, mengenal diri sendiri dan dari mana diciptakan. Seseorang yang paham bahwa manusia memiliki segudang kelemahan, lahir tanpa membawa apapun, akan menyingkirkan sifat sombong dalam hatinya. Ia tak lagi berani riya maupun sum’ah, apalagi ujub.
Tasawuf mengajarkan manusia agar tidak terkungkung pada dunia. Cukup dunia dalam genggaman, tidak masuk ke dalam qalbu. “Tapi apakah, mukmin harus miskin? Tidak juga. Rasulullah pernah bersabda, ‘muslim yang kuat itu lebih baik daripada muslim yang lemah’,” kata Sayyid Seif.
Ketika seorang muslim kaya, maka dia akan membuka lapangan pekerjaan. Ketika menjadi seorang pejabat, maka dia bisa menolong sesama muslim dan menegakkan hukum seadil-adilnya. Maka tidak ada halangan untuk menjadi pejabat dan pengusaha jujur.
“Tasawuf itu bagian dari pengamalan syariah. Tasawuf mengamalkan tariqah, tariqah itu jalan menuju ma'rifatullah. Dengan apa kita mengendarainya, dengan syariat,” ucapnya.
Dia menjelaskan, ketika ada orang sufi yang memilih memakai pakaian sederhana, maka hal itu merupakan salah satu cara untuk mencerabut dunia dari dalam hati. Kesederhanaan melatih diri untuk zuhud. Kerap pakaian indah bisa membuat seorang lupa diri.
“Tapi, Rasulullah juga mengajarkan bahwa, kita boleh memiliki pakaian yang baik. Beliau ditanya jika ada orang yang senang berpakaian bagus, kata beliau, Allah itu Maha Indah dan Dia menyukai yang indah. Maka boleh memakai pakaian indah, kendaraan yang indah, kendaraan yang bagus, tapi jangan masukkan itu ke dalam hati kita,” kata Sayyid Seif.
(jqf)