LANGIT7.ID - Syekh Abdul Al-Qadir as-Sufi merupakan salah satu tokoh sufi yang terkenal di wilayah Benua Hitam, Afrika. Ia merupakan pemimpin Tarekat Darqawiyah salah satu cabang dari tarekat Syadziliyah-Qadiriyah, sebuah aliran tarekat yang lahir pada era modern. Dia juga pendiri Murabitun World Movement, sebuah gerakan keagamaan yang ingin menegakkan ajaran Islam secara kaffah.
Syekh Abdul Qadir seorang mualaf. Ia lahir pada 1930 di Ayr, Skotlandia, dengan nama Ian Dallas. Ia tumbuh dan dibesarkan di lingkungan keluarga Eropa pemeluk Kristen. Usai tamat di Royal of Dramatic Arts, London University, ia memulai karir di bidang seni sebagai penulis drama.
Dallas pernah dikontrak oleh jaringan televisi BBC sebagai penulis naskah sejumlah sandiwara dan drama. Tak jarang pula, ia turut bertindak sebagai pemain dalam pertunjukan drama dan sandiwara.
Dallas mulai tertarik pada Islam saat melakukan perjalanan ke Maroko. Ia banyak berinteraksi dengan komunitas muslim setempat, terutama kalangan pengikut sufisme yang memang marak di negara itu. pada 1963, di Kota Fes, Maroko, ia memutuskan memeluk Islam di bawah bimbingan Imam Masjid al-Qarawiyyin, Syekh Abdul Karim Daudi. Setelah itu, Ia Dallas mengubah nama menjadi Abdul Qadir.
Ketertarikan Abdul Qadir terhadap aliran sufi mempertemukan dia dengan guru sufi bernama Syekh Muhammad Ibn al-Habib. Setelah serangkaian kunjungan ke Zawiyah Syekh di Meknes, Maroko, ia memberi gelar as-Sufi di belakang nama Abdul Qadir.
Sejak pertama kali menjalankan syariat Islam, Abdul Qadir menyadari tak bisa terus menyendiri saat mengamalkan ajaran Islam. Ia lalu bergabung ke komunitas muslim kecil di Skotlandia dan Inggris. Di antara pengurus komunitas itu adalah seorang ulama terkenal bernama Abdul Aziz dan Abdul Haq Bewley beserta istri Aisha at-Tajumana Bewley.
Komunitas itu meninggalkan kemewahan masyarakat di pusat-pusat London. Mereka pindah ke sebuah rumah kosong di London. Dalam waktu singkat, komunitas itu bisa menyulap rumah kosong itu untuk berbagai keperluan ekonomi, seperti penjahit, toko roti, toko kesehatan, toko buku, hingga klinik.
Sejak saat itu, Syekh Abdul Qadir memprakarsai pengembangan komunitas-komunitas muslim di jantung peradaban Barat di Eropa. Ia mendidik kaum muslim Eropa tentang ajaran agama, mendorong kaum laki-laki atau perempuan untuk mengembangkan karakter muslim, serta mengeratkan silaturahmi antar komunitas guna mengemban tugas transformasi Islam.
Syekh Abdul Qadir berhasil membawa perubahan. Peningkatan jumlah orang Islam di Spanyol, Inggris, Denmark, hingga Italia berkembang dalam tempo tiga dasawarsa terakhir. Dia mengajak komunitas muslim itu untuk kembali menerapkan ajaran Islam sebagaimana Rasulullah membangun peradaban dari Mekkah dan Madinah. Dia mendirikan Masjid Ihsan di Norwich, Inggris, Masjid Agung Granada, dan Masjid Jumu’a di Cape Town.
Selain itu, Syekh Abdul Qadir memiliki cita-cita ingin membuat desa muslim di Inggris. Ia pun mengunjungi Raja Khalid di Riyadh. Sang raja menyatakan dukungan untuk proyek tersebut. Namun, beberapa tokoh yang menentang sufisme di istana melarang raja menepati janji.
Kendati begitu, salah satu ulama di Saudi Arabia, Syekh Abdallah Ali al-Mahmud, teman baik Syekh Abdul Qadir, memberikan pembelaan. Ia dengan tegas mengatakan, Syekh Abdul Qadir akan menjadi pemimpin semua orang Islam di Eropa. “Akidah anda harus benar, maka anda akan sukses.
Syekh Abdul Qadir pernah berkunjung ke Libya bersama Syekh al-Faytuni. Dia menceburkan diri ke dalam khalwat, sebuah proses spiritual dengan cara menyepi dan mengasingkan diri. Tak lama setelah itu, dia mendeklarasikan kepemimpinan atas Tarekat Darqawiyah.
Mendirikan KomunitasUntuk merealisasikan gagasan pemikirannya, pada awal 1980-an, Syekh Abdul Qadir mendirikan gerakan keagamaan yang bercita-cita menegakkan ajaran Islam secara kaffah. Ia memberi nama gerakan itu sebagai Murabitun World Movement.
Gerakan itu terinspirasi dari nama gerakan Islam yang pernah menghidupkan kembali Andalusia dan membawanya ke puncak peradaban. Dari Andalusia ini, ajaran islam menyebar luas ke wilayah Eropa lainnya.
Untuk mengembangkan gerakan tersebut, selama bertahun-tahun dengan berbasis di Spanyol, Syekh Abdul Qadir membangun komunitas Islam di Granada, Madrid, Galicia, Basque, dan Barcelona. Dia membantu pendirian komunitas Islam di Jerman, Inggris, Italia, dan Denmark. Di luar Eropa terdapat komunitas di Afrika Selatan, Nigeria, Meksiko, Amerika Serikat, Australia, Thailand, dan Malaysia.
(jqf)