LANGIT7.ID-Di balik gundukan tanah yang senyap, tersimpan sebuah realitas yang melampaui jangkauan panca indera manusia. Kematian bukanlah akhir dari segala persepsi, melainkan pintu masuk menuju alam barzakh sebuah fase transisi yang penuh dengan konsekuensi logis dari amal perbuatan di dunia. Keyakinan
Ahlus Sunnah wal Jamaah akan adanya nikmat dan siksa di alam kubur merupakan pilar krusial dalam struktur keimanan terhadap perkara yang ghaib.
Asraf bin Abdil Maqsud bin Abdirrahim dalam bukunya yang bertajuk
Al Qabru Adzaabul Qabri wa Naiimul Qabri atau dalam edisi Indonesia bertajuk
Kubur Yang Menanti, membedah secara mendalam bagaimana para ulama Salaf dan Ahlul Hadits memposisikan alam kubur dalam peta keimanan. Menurut Asraf, mengimani kondisi penghuni kubur hingga hari kebangkitan adalah konsekuensi logis dari penerimaan terhadap otoritas teks suci, baik itu Al Quran maupun hadis shahih.
Persoalan utama yang sering mengemuka adalah keterbatasan rasio manusia dalam menjangkau apa yang terjadi di bawah tanah. Namun, di sinilah letak distingsi akidah Ahlus Sunnah. Mereka meyakini bahwa segala hal yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad harus dibenarkan secara mutlak, tanpa peduli apakah hal tersebut dapat disaksikan oleh panca indera atau masuk dalam nalar mekanis manusia. Keimanan semacam ini merupakan manifestasi dari sifat orang bertaqwa yang disebutkan dalam Al Quran Surah Al Baqarah ayat 4, yaitu mereka yang yakin akan adanya kehidupan akhirat.
Kehidupan di alam kubur, yang secara harfiah disebut sebagai fitnah kubur, merupakan fase ujian pertama bagi setiap jiwa. Dalam literatur yang diterbitkan oleh Pustaka Ibnu Katsir tersebut, dijelaskan bahwa alam kubur adalah representasi kecil dari apa yang akan terjadi di padang mahsyar. Jika seseorang mendapatkan kelapangan dan cahaya, maka itu adalah pertanda nikmat barzakh. Sebaliknya, penyempitan dan penderitaan menjadi sinyalemen awal dari adzab yang lebih besar.
Secara interpretatif, keyakinan terhadap siksa dan nikmat kubur berfungsi sebagai rem moral bagi kehidupan sosial manusia. Ketika seseorang meyakini bahwa ada pertanggungjawaban instan segera setelah tanah ditimbun, maka perilaku destruktif di dunia dapat ditekan. Ini bukan sekadar doktrin ketakutan, melainkan sebuah epistemologi keimanan yang menempatkan kebenaran wahyu di atas persepsi empiris yang terbatas.
Dunia sains mungkin melihat pembusukan organik sebagai akhir dari aktivitas biologis, namun dalam kacamata akidah, ada dimensi kesadaran roh yang tetap berlanjut. Roh tersebut merasakan kepedihan atau kesenangan sesuai dengan kualitas hubungan vertikalnya dengan sang pencipta selama di dunia. Oleh karena itu, bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah, meniadakan siksa kubur hanya karena tidak terlihat oleh kamera atau alat deteksi medis adalah bentuk kegagalan dalam memahami esensi iman kepada yang ghaib.
Asraf bin Abdil Maqsud menegaskan bahwa kewajiban membenarkan berita ghaib ini adalah harga mati. Mengutip konsensus para ulama Salaf, iman kepada hari akhir tidak akan sempurna tanpa mengikutkan fase barzakh di dalamnya. Alam kubur adalah jembatan penghubung antara kefanaan dunia dan keabadian akhirat, di mana keadilan mulai ditegakkan secara proporsional.
Pada akhirnya, diskusi mengenai nikmat dan siksa kubur adalah diskusi tentang posisi manusia di hadapan berita langit. Apakah manusia akan menjadikan akalnya sebagai hakim tunggal, atau menempatkan akalnya sebagai alat untuk memahami pesan suci. Bagi mereka yang memilih jalan Atsar, senyapnya liang lahat adalah keheningan yang bicara tentang kebenaran janji Tuhan yang pasti akan datang.
(mif)