Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 15 April 2026
home masjid detail berita

Mengapa Mencela Aisyah Dianggap Kafir oleh Para Ulama Ahlus Sunnah?

miftah yusufpati Ahad, 10 Agustus 2025 - 05:45 WIB
Mengapa Mencela Aisyah Dianggap Kafir oleh Para Ulama Ahlus Sunnah?
Keyakinan atas kesucian Aisyah bukan hanya isu teologis, tapi prinsip akidah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar dengan suara penuh luka. Ia memohon keadilan dari kaumnya atas seseorang yang telah menyebar kabar buruk tentang istrinya, Aisyah. "Siapa yang akan menolongku terhadap orang yang telah menyakitiku melalui keluargaku?" sabdanya, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Lebih dari sekadar persoalan domestik, kisah itu menjadi salah satu titik penting dalam sejarah Islam: pelajaran besar tentang kehormatan, keyakinan, dan batas-batas kebebasan bicara dalam perkara agama. Aisyah, istri Nabi, termasuk dalam kelompok mulia yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai Ummahatul Mukminin—para ibu kaum beriman.

Dalam riwayat sahih dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah bersabda: "Jangan kalian mencela para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud pun dari (kebaikan) mereka, bahkan tidak pula separuhnya." (HR. Bukhari, Fathul Bari no. 3379).

Hadis ini oleh para ulama dipahami mencakup Aisyah, sebagai bagian dari para sahabat. Dan mencela beliau—setelah Allah menurunkan pembebasannya dalam surat An-Nur—bukan hanya bentuk kebodohan historis, tetapi juga, dalam konsensus para ulama Ahlus Sunnah, termasuk dalam kategori kekufuran.

Baca juga: Ketika Aisyah Mengoreksi Tafsir Haji dari Sang Hibrid Tafsir dan Hadis

Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki, menyatakan secara tegas: "Barang siapa mencela Abu Bakar dan Umar, maka hukumannya dicambuk. Tapi siapa yang mencela Aisyah, ia harus dibunuh." Dalam pandangannya, hal itu karena Allah telah menyucikan Aisyah dalam Al-Qur’an. Siapa yang mendustakan Al-Qur’an, maka dia kafir.

Pernyataan Malik ini diabadikan oleh Ibnu Hazm, yang menyebutnya sebagai kalimatul haq, ucapan kebenaran. Dukungan juga datang dari tokoh-tokoh lain seperti Abu Ya’la, Ibnu Qudamah, Ibnu Katsir, hingga Imam Nawawi. Mereka sepakat: menuduh Aisyah dengan tuduhan yang telah dibersihkan oleh wahyu, berarti mendustakan wahyu itu sendiri.

"Tidak ada perselisihan di antara para ulama tentang kekafiran orang yang mencela Aisyah setelah turunnya ayat pembebasan dalam surat An-Nur," tulis Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Puncak dari tuduhan terhadap Aisyah adalah peristiwa Haditsul Ifki—kisah dusta yang disebar oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang munafik yang kemudian dibantah langsung oleh Allah dalam wahyu yang turun. Peristiwa ini bukan hanya sejarah fitnah, tapi juga menjadi garis demarkasi antara iman dan kemunafikan.

Imam Qurthubi menulis, "Barang siapa melukai kehormatan Rasulullah dan keluarganya, maka dia kafir." Begitu pula pendapat Badruddin Az-Zarkasyi, yang menegaskan bahwa penolakan terhadap ayat yang membersihkan Aisyah berarti penolakan terhadap Allah.

Penting dicatat bahwa serangan terhadap kehormatan Aisyah bukan hanya menyentuh reputasi personal, tapi juga martabat kenabian. Al-Qur’an menyebut: al-khabitsaatu lil khabitsin—"wanita-wanita buruk untuk laki-laki buruk." Maka bagaimana mungkin Aisyah menjadi pendamping manusia terbaik, jika ia bukan bagian dari yang terbaik?

Baca juga: Lampu yang Menyinari Umat: Jejak Aisyah dalam Ilmu dan Akhlak

Rasulullah sendiri, dalam riwayat sahih, menyebut Aisyah sebagai manusia yang paling dicintainya. Ketika ditanya siapa orang yang paling dicintai, Nabi menjawab: "Aisyah." Lalu dari kalangan laki-laki? "Ayahnya." (HR. Bukhari).

Pernyataan ini bukan hanya afeksi personal, tapi bentuk legitimasi akan kedudukan spiritual Aisyah di sisi Rasulullah. Maka siapa pun yang menistakannya, layak disebut sebagai musuh Nabi pada hari kiamat.

Buku "Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah fi Ash-Shahabah al-Kiram" karya Nashir as-Syaikh, serta "I'tiqad Ahlus Sunnah fi Ash-Shahabah" oleh Muhammad al-Wuhaibi, menjadi dua rujukan penting dalam memahami posisi Aisyah dalam khazanah keimanan Sunni. Dua karya itu mempertegas bahwa keyakinan atas kesucian Aisyah bukan hanya isu teologis, tapi prinsip akidah.

Di tengah zaman yang rawan dengan narasi-narasi dekonstruktif atas tokoh-tokoh Islam, kisah Aisyah mengajarkan satu hal: kehormatan yang dijaga oleh langit tidak layak diinjak oleh tanah. Sebab di balik fitnah yang mengguncang, ada ayat yang menjadi perisai.

Dan siapa yang berani menerobos perisai itu, maka dia tidak sedang mencela seorang perempuan, melainkan sedang menantang Kalamullah itu sendiri.

Baca juga: Aisyah, Khadijah, dan Kata Cinta yang Tak Pernah Usang

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 15 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:55
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)