Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 01 Mei 2026
home masjid detail berita

Ketika Aisyah Mengoreksi Tafsir Haji dari Sang Hibrid Tafsir dan Hadis

miftah yusufpati Selasa, 29 Juli 2025 - 05:15 WIB
Ketika Aisyah Mengoreksi Tafsir Haji dari Sang Hibrid Tafsir dan Hadis
Itulah warisan terbesar Aisyah: keberanian untuk berpikir berbeda, dan keteguhan untuk mengatakannya. Ilustrasi: wallpaper access
LANGIT7.ID-Tak banyak perempuan dalam sejarah Islam yang mampu berbicara lantang, apalagi menentang pandangan para lelaki pemuka agama di masanya. Tapi Aisyah binti Abu Bakar bukanlah perempuan biasa. Ia bukan hanya istri Nabi Muhammad, tapi juga seorang ulama, ahli hadis, dan saksi utama dari banyak peristiwa kunci sejarah Islam.

Dalam banyak riwayat, ia kerap bersuara tegas, bahkan kepada para sahabat senior. Termasuk dalam satu perkara pelik seputar manasik haji, saat Aisyah dengan yakin menolak pendapat Ibn Abbas, sang “turjuman al-Qur’an” alias juru tafsir utama.

Riwayat itu tercatat dalam Sahih Bukhari. Suatu ketika, Ziyad bin Abi Sufyan, gubernur Irak pada masa Muawiyah, menulis sepucuk surat kepada Aisyah. Surat itu memuat pandangan Ibnu Abbas yang menyatakan: "Barang siapa yang membawa hewan sembelihan, maka haram atasnya apa yang diharamkan atas orang yang melaksanakan haji, hingga dia menyembelih hewan tersebut."

Tapi Aisyah tidak setuju. Ia menjawab secara terbuka dan tajam: “Tidak seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas. Aku pernah memintal kalung hewan sembelihan Rasulullah saw. dengan tanganku. Kemudian Rasulullah sendiri yang mengalungi hewannya dengan tangannya. Kemudian beliau mengirimkannya bersama bapakku. Tidak pernah diharamkan atas Rasulullah sesuatu yang dihalalkan Allah hingga beliau menyembelih hewan sembelihannya.” (HR Bukhari)

Baca juga: Lampu yang Menyinari Umat: Jejak Aisyah dalam Ilmu dan Akhlak

Dengan kata lain, menurut Aisyah, membawa hewan qurban tidak otomatis menjadikan seseorang terkena hukum ihram. Sebuah sanggahan yang bukan hanya mempertanyakan logika hukum yang diajukan Ibn Abbas, tapi juga membuka ruang baru bagi fleksibilitas fiqh dalam praktik ibadah haji.

Apa makna dari perdebatan ini?

Bagi masyarakat awam, perbedaan semacam itu bisa terlihat teknis belaka. Tapi bagi kalangan fuqaha dan ahli hadis, ini adalah soal otoritas: siapa yang berhak menafsirkan hukum syariat? Apakah tafsir tekstual Ibn Abbas lebih kuat, ataukah pengalaman langsung Aisyah bersama Nabi yang lebih sah dijadikan rujukan?

Ibn Abbas dikenal sebagai tokoh yang luas pengetahuannya. Ia sering menjadi rujukan dalam tafsir Al-Qur’an dan banyak meriwayatkan hadis. Tapi dalam kasus ini, Aisyah tampil sebagai otoritas yang tak kalah penting, bukan hanya karena kedekatan personalnya dengan Rasulullah, tapi juga karena ia menyaksikan langsung praktik Nabi. Dengan begitu, sanggahannya terhadap Ibn Abbas punya bobot historis dan fiqhiyah yang besar.

Menurut sejumlah ulama kontemporer, peristiwa ini menunjukkan bahwa Aisyah tidak hanya menyimpan pengetahuan normatif tentang agama, tapi juga memiliki kepercayaan diri untuk menolak interpretasi yang tidak sesuai dengan pengalamannya. “Ini bukan semata soal perbedaan pendapat,” kata sejarawan hukum Islam, Syaikh Muhammad Abu Zahrah, dalam bukunya Aisyah fi Hayatiha al-Siyasiyyah wa al-‘Ilmiyyah. “Ini adalah penegasan bahwa perempuan pun punya posisi dalam produksi hukum Islam.”

Baca juga: Aisyah, Khadijah, dan Kata Cinta yang Tak Pernah Usang

Riwayat ini juga memperlihatkan dinamika otoritas keilmuan dalam masyarakat Muslim awal. Ketika pemahaman agama belum dibukukan secara baku seperti sekarang, tafsir terhadap Al-Qur’an dan hadis bersaing dalam ruang-ruang dialektika terbuka. Aisyah menjadi salah satu dari sedikit perempuan yang terlibat aktif dalam proses itu.

Lebih jauh, Aisyah bahkan sering menentang pandangan beberapa sahabat besar lainnya. Dalam riwayat lain, ia juga bersilang pendapat dengan Umar bin Khattab soal larangan memakai wewangian saat ihram, dan dengan Abu Hurairah soal detail tertentu dalam ritual ibadah. Tapi, alih-alih dianggap memberontak, pendapat Aisyah justru dicatat, diajarkan, dan dijadikan bahan diskusi dalam berbagai kitab fiqh klasik.

“Ini membuktikan bahwa tradisi keilmuan Islam awal sangat terbuka terhadap koreksi dan kritik,” ujar Nur Rofiah, pengajar tafsir di Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ) Jakarta. “Aisyah menjadi bukti bahwa perempuan punya kapasitas, dan Islam sejak awal mengakui hal itu.”

Baca juga: Menjenguk Orang Sakit Bukan Mahramnya: Kisah Sayyidah Aisyah Membesuk Bilal

Narasi Patriarkis

Di tengah narasi patriarkis yang sering membungkam suara perempuan dalam diskursus agama, kisah Aisyah ini ibarat suara merdeka yang menolak tunduk pada tafsir tunggal. Ia mengajukan pengalaman dan pemahaman langsungnya tentang Nabi sebagai landasan ijtihad. Dalam bahasa kontemporer, Aisyah tak hanya menjadi perawi, tapi juga penafsir.

Sikap kritis Aisyah sekaligus menjadi pengingat penting bahwa Islam sejak awal berdiri di atas tradisi debat sehat, bukan ketaatan membuta. Bahwa kebenaran agama tidak dimonopoli oleh jenis kelamin, dan bahwa kebenaran tidak selalu datang dari suara mayoritas.

Dan mungkin, itulah warisan terbesar Aisyah: keberanian untuk berpikir berbeda, dan keteguhan untuk mengatakannya. Meski lawan bicaranya adalah Ibn Abbas sekali pun.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 01 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:50
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)