Bukan sekadar kisah, penghormatan Allah Taala kepada perempuan terdekat Nabi saw. adalah pesan universal: kemuliaan mereka tak lekang oleh budaya patriarki.
Sejak abad ke-7, perempuan jadi penopang tradisi ilmu Islam. Dari Aisyah hingga Ummu Salamah, riwayat mereka melahirkan fondasi hukum, etika sosial, dan potret utuh kehidupan Nabi.
Perempuan sejak awal Islam bukan sekadar pengikut, tapi penjaga ilmu. Dari Aisyah hingga Rabiah, mereka jadi cahaya peradaban, meski sejarah kerap menyingkirkan peran besar mereka.
Tidak ada perselisihan di antara para ulama tentang kekafiran orang yang mencela Aisyah setelah turunnya ayat pembebasan dalam surat An-Nur, tulis Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Tak banyak perempuan dalam sejarah Islam yang mampu berbicara lantang, apalagi menentang pandangan para lelaki pemuka agama di masanya. Tapi Aisyah binti Abu Bakar bukanlah perempuan biasa.
Pernyataan ini tidak hanya membantah pandangan Abu Hurairah, tetapi juga membuka kembali diskursus lama soal siapa yang paling berwenang bicara tentang kehidupan Nabi.
Dalil kebolehan wanita menjenguk laki-laki dalam hadis tersebut terlihat dari tindakan Aisyah yang menjenguk ayahnya dan menjenguk Bilal, serta ucapannya kepada masing-masing dari mereka.
Mahar yang diberikan Nabi kepada Khadijah adalah 20 ekor unta betina. Kalau diuangkan sekarang, satu ekor rata-rata harganya Rp55 juta. Belum lagi ditambah beberapa keping emas. Total lamaran Nabi Rp1,3 miliar.
Sayyidah Aisyah memang istimewa. Kesuciannya telah diakui Allah SWT dari atas langit ketujuh. Malaikat telah menampakkan Aisyah tiga malam berturut-turut kepada Baginda Rasul sebelum beliau menikahi Siti Aisyah.
Gus Baha memaparkan argumentasi mengapa Siti Aisyah mengingkari bahwa Nabi Muhammad bertemu Allah Taala ketika Mikraj. Beliau berbeda dengan ulama ahlusunnah.
Salah satu tenaga medis yang sangat mumpuni di zaman Rasulullah SAW yakni sang istri, Aisyah binti Abu Bakar. Kecerdasan Aisyah radiallahu anha (RA) tercermin dari pintarnya dalam ilmu kedokteran yang membuat orang lain kagum