Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 29 Mei 2026
home masjid detail berita

Dua Saksi, Satu Kebenaran: Kisah Ummul Mukminin Meralat Fatwa Abu Hurairah

miftah yusufpati Ahad, 27 Juli 2025 - 05:15 WIB
Dua Saksi, Satu Kebenaran: Kisah Ummul Mukminin Meralat Fatwa Abu Hurairah
Abu Hurairah mundur, dan sejarah mencatatnya bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai kebesaran. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pagi itu, aroma perdebatan menguar di antara lorong-lorong Madinah. Abu Bakar bin Abdurrahman, seorang tabiin muda dari kalangan terpelajar, pulang membawa keresahan. Ucapan Abu Hurairah, sahabat yang terkenal karena keluasan hafalannya, menggantung di benaknya: "Barang siapa yang pagi hari masih dalam keadaan junub, maka sebaiknya tidak berpuasa."

Abu Bakar segera menyampaikan pernyataan itu kepada ayahnya, Abdurrahman bin al-Harits. Reaksi sang ayah mengejutkannya. Ia tidak sependapat dengan pandangan tersebut. Tidak cukup dengan diskusi di antara mereka, keduanya memutuskan untuk bertanya langsung kepada dua istri Nabi Muhammad, Aisyah dan Ummu Salamah, dua perempuan yang menyimpan banyak fragmen kehidupan Rasul.

Jawaban mereka pun lugas, nyaris serempak. "Nabi SAW pernah bangun pagi dalam keadaan junub, bukan karena mimpi, lalu beliau tetap berpuasa."

Pernyataan ini tidak hanya membantah pandangan Abu Hurairah, tetapi juga membuka kembali diskursus lama soal siapa yang paling berwenang bicara tentang kehidupan Nabi—yang menyaksikan langsung, atau yang hanya mendengar dari orang lain.

Baca juga: Kisah Ummul Mukminin Menolak Fatwa Umar dan Ibnu Umar

Ketika Abdurrahman kembali menemui Abu Hurairah dan menyampaikan keterangan dari dua Ummahatul Mukminin itu, Abu Hurairah tidak membantah. Ia justru menerima dan berkata, "Kedua wanita itu lebih tahu daripada aku." Sebuah pengakuan yang langka dari sosok yang dikenal sebagai periwayat hadis terbanyak.

Ia pun menyatakan bahwa ucapannya berasal dari riwayat Fadhal bin Abbas, bukan dari Rasul langsung. "Hal itu aku dengar dari Fadhal dan aku tidak pernah mendengarnya dari Rasulullah SAW," katanya.

Peristiwa ini seolah menjadi catatan kaki penting dalam sejarah awal periwayatan hadis. Bahwa bahkan Abu Hurairah, tokoh sentral dalam transmisi sabda Nabi, pernah merevisi pandangannya. Ia tidak segan mengakui kesalahan ketika bersandar pada pendapat orang lain, bukan pada penglihatan langsung atau sabda yang ia dengar sendiri dari Rasul.

Sementara itu, Aisyah dan Ummu Salamah tampil sebagai penegas keotentikan pengalaman. Kedekatan mereka dengan Nabi bukan sekadar biologis sebagai istri, tetapi juga epistemologis. Mereka melihat langsung, mengalami langsung, dan menjadi saksi atas banyak hal yang para sahabat laki-laki tak sempat lihat.

“Aisyah bukan hanya meriwayatkan hadis,” kata sejarawan perempuan dari Mesir, Dr. Asma Lamrabet, dalam salah satu tulisannya, “ia juga membangun standar metode, bahwa siapa yang punya pengalaman langsunglah yang lebih kuat otoritasnya.”

Baca juga: Tips Sukses Berbisnis dari Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid

Bukan Sekadar Revisi Teknis

Apa yang terjadi di pagi hari itu bukan sekadar revisi teknis tentang fikih puasa. Ini adalah titik penting dalam politik otoritas: siapa yang berhak menafsirkan pengalaman Nabi? Siapa yang boleh mengklaim kebenaran dalam komunitas yang tengah belajar merumuskan ingatannya?

Dalam situasi pasca-wafatnya Rasulullah, para sahabat dan tabi’in kerap berada dalam situasi silang data. Ingatan kolektif tentang Nabi bersaing antara suara-suara yang mendengar, menyaksikan, atau hanya menyimpulkan. Maka kisah ini menjadi pengingat bahwa dalam pusaran otoritas pengetahuan Islam awal, ada ketegangan yang sehat—dan kadang-kadang, sangat manusiawi.

Kisah ini juga menyiratkan bahwa menjadi seorang sahabat tak menjamin ketepatan mutlak dalam meriwayatkan hadis. Otoritas bukan sekadar soal jumlah hadis yang diriwayatkan, tapi juga soal kedekatan, konteks, dan kerendahan hati dalam mengoreksi diri.

Baca juga: Rajin Bersedekah Kunci Ummul Mukminin Khadijah Sukses Berdagang

Kejujuran Intelektual

Di masa kini, ketika perdebatan soal siapa yang paling sah menafsirkan ajaran Nabi terus berlangsung—baik dalam wacana fikih, tafsir, maupun politik—kisah ini mengingatkan kita pada satu hal: kejujuran intelektual dan sikap terbuka jauh lebih penting ketimbang keteguhan membela pendapat yang ternyata lemah dasarannya.

Abu Hurairah mundur, dan sejarah mencatatnya bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai kebesaran. Sebab ilmu bukan milik siapa yang paling keras menyuarakan, tapi milik mereka yang paling jujur mengakui ketika keliru.

Dan di tengah semua itu, Aisyah dan Ummu Salamah—dua perempuan yang kadang dibayangi para periwayat laki-laki—muncul sebagai pengingat bahwa pengalaman dan kedekatan bisa menjadi sumber otoritas yang tak bisa dikesampingkan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 29 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)