Dari Aisyah hingga Zainab, riwayat sahih menggambarkan rumah Nabi sebagai laboratorium kemanusiaanpenuh riak konflik, tetapi juga teduh oleh cinta dan rekonsiliasi.
Bukan sekadar kisah, penghormatan Allah Taala kepada perempuan terdekat Nabi saw. adalah pesan universal: kemuliaan mereka tak lekang oleh budaya patriarki.
Tak banyak perempuan dalam sejarah Islam yang mampu berbicara lantang, apalagi menentang pandangan para lelaki pemuka agama di masanya. Tapi Aisyah binti Abu Bakar bukanlah perempuan biasa.
Pernyataan ini tidak hanya membantah pandangan Abu Hurairah, tetapi juga membuka kembali diskursus lama soal siapa yang paling berwenang bicara tentang kehidupan Nabi.
Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, istri-istri beliau tak boleh dinikahi lelaki lain. Hanya saja, Ikrimah bin Abu Jahal menikahi janda Rasulullah SAW yang dicerai Nabi sebelum beliau wafat.
Kebersamaan Sayyidah Zainab dengan Rasulullah sebagai suami istri tak berlangsung lama. Hanya tiga bulan saja. Beliau adalah istri Rasulullah yang wafat setelah Sayyidah Khadijah ra.
Mahar yang diberikan Nabi kepada Khadijah adalah 20 ekor unta betina. Kalau diuangkan sekarang, satu ekor rata-rata harganya Rp55 juta. Belum lagi ditambah beberapa keping emas. Total lamaran Nabi Rp1,3 miliar.
Saudah merupakan putri dari Zam'ah bin Qais dari Suku Quraisy. Beliau berasal dari keturunan Luiy, salah satu nenek moyang dari Rasulullah. Ayah Saudah merupakan salah satu orang pertama yang memeluk Islam.
Kisah Sayyidah Khadijah di Surat Al-Muzzammil menyingkap tentang cinta dan kesetiaan seorang istri kepada sang suami. Kendatai dalam surat ini tidak menyebut-nyebut nama Khadijah.
Sayyidah Aisyah memang istimewa. Kesuciannya telah diakui Allah SWT dari atas langit ketujuh. Malaikat telah menampakkan Aisyah tiga malam berturut-turut kepada Baginda Rasul sebelum beliau menikahi Siti Aisyah.
Beliau memiliki kepribadian yang kuat seperti sang ayah. Selain itu, beliau juga seorang wanita yang pandai dalam hal membaca dan menulis, meskipun pada waktu itu kemampuan tersebut belum lazim dimiliki oleh kaum wanita.
Ummu Salah berkisah: Saat itu aku sedang menyamak kulit. Kucuci tanganku dan kuizinkan beliau masuk. Aku pun membentangkan alas duduk dari kulit yang berisi serat. Beliau pun duduk di atasnya dan meminangku untuk dirinya.