LANGIT7.ID-Di sebuah rumah sederhana di Makkah, seorang perempuan bangsawan Quraisy yang dermawan, Khadijah binti Khuwailid, menerima salam istimewa. Bukan dari manusia, melainkan dari Malaikat Jibril. “Wahai Rasulullah, ini Khadijah. Jika ia datang kepadamu, maka ucapkanlah salam atasnya dari Allah dan dariku,” sabda Nabi saw. sebagaimana diriwayatkan Bukhari-Muslim.
Dalam khazanah hadis, peristiwa itu disebut sebagai bukti pengakuan langit atas kemuliaan seorang istri yang setia menopang dakwah Nabi. Khadijah bukan sekadar “pendamping rumah tangga”, melainkan mitra strategis dalam sejarah lahirnya Islam. Sejarawan perempuan Muslim, Leila Ahmed, dalam Women and Gender in Islam (1992), menilai peran Khadijah menandai bahwa Islam sejak awal memberi pengakuan spiritual dan sosial kepada perempuan.
Salam Jibril untuk AisyahKemuliaan serupa dialami Aisyah binti Abu Bakar. Dalam riwayat Muslim, Rasulullah saw. berkata kepadanya: “Wahai Aisyah, ini Jibril mengucapkan salam kepadamu.” Bagi seorang perempuan muda yang kelak menjadi guru umat, penghormatan malaikat itu bukan hal kecil.
Aisyah bukan hanya istri Nabi, tetapi juga perawi hadis terbesar kedua setelah Abu Hurairah. Lebih dari 2.000 hadis ia riwayatkan, sebagian besar menyangkut kehidupan domestik Nabi. Dalam pandangan Jonathan Brown dalam Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern World (2009), Aisyah mewariskan bukan saja riwayat, tetapi juga otoritas keilmuan yang diakui para sahabat besar.
Fatimah, Putri yang Menjadi Pemimpin SurgaKemuliaan berikutnya tersemat pada Fathimah binti Muhammad saw. Suatu hari, Nabi bersabda kepadanya: “Tidakkah engkau ridha menjadi pemimpin wanita-wanita penghuni surga?” (HR Bukhari). Fatimah, yang hidup sederhana dan wafat dalam usia muda, dikenang bukan karena hartanya, melainkan keteguhan hati dan kecintaan kepada ayahnya.
Dalam literatur klasik, Fatimah dijuluki az-Zahra (yang bersinar) dan al-Batul (yang suci). Ulama besar al-Suyuthi menyebutnya “perempuan teladan dalam kesabaran.” (al-Suyuthi, al-Khasa’is al-Kubra). Sementara itu, Amina Wadud dalam Qur’an and Woman (1999) menegaskan bahwa penghormatan Nabi terhadap Fatimah menunjukkan bahwa “kemuliaan perempuan bukan ditentukan perannya dalam sistem patriarkal, melainkan pengakuan spiritual langsung dari Allah.”
Tafsir Kemuliaan di Zaman KiniPertanyaannya, bagaimana kita menafsirkan kemuliaan itu hari ini? Apakah hanya sekadar kisah masa lalu?
Fazlur Rahman, dalam Islam and Modernity (1982), mengingatkan bahwa nilai-nilai dalam sunnah harus dibaca sebagai prinsip universal, bukan sekadar ritual. Salam Jibril kepada Khadijah dan Aisyah, serta pujian Nabi kepada Fatimah, adalah simbol pengakuan terhadap integritas, ilmu, dan pengorbanan perempuan.
Jika dalam masyarakat modern, perempuan masih dianggap subordinat, barangkali kita lupa bahwa langit sendiri pernah menunduk memberi salam kepada mereka. (*)
(mif)