Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 Juli 2026
home masjid detail berita

Perhiasan Dunia: Menafsir Ulang Kedudukan Istri dalam Keluarga

miftah yusufpati Kamis, 18 September 2025 - 04:15 WIB
Perhiasan Dunia: Menafsir Ulang Kedudukan Istri dalam Keluarga
Bagi keluarga Muslim, perhiasan itu bukan sekadar dilihat, tetapi dirawat, dihargai, dan disyukuri. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Suatu hari, Abdullah bin Umar meriwayatkan sabda Nabi Muhammad: “Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah.” (HR Muslim). Sebuah hadis singkat, tetapi panjang jejak tafsirnya.

Bagi banyak orang, kata “perhiasan” mengisyaratkan sesuatu yang indah sekaligus bernilai. Namun, ketika dikaitkan dengan perempuan, perumpamaan ini bisa terasa problematis. Apakah istri sekadar aksesori rumah tangga, ataukah ia adalah pusat penopang keluarga?

Dalam kitab Fath al-Bari, Ibnu Hajar al-‘Asqalani menjelaskan bahwa istri salehah digambarkan sebagai pendamping yang menjaga kehormatan suami, rumah tangga, dan harta. Tafsir klasik sering mengaitkan kesalehan dengan kepatuhan mutlak kepada suami.

Tetapi sejumlah pemikir modern melihat hadis ini bukan tentang subordinasi, melainkan tentang nilai. Asma Barlas dalam Believing Women in Islam (2002) menekankan bahwa hadis ini harus dipahami dalam bingkai relasi timbal balik: istri salehah bukan hanya tunduk, tetapi juga mitra yang saleh—yang keberadaannya membawa kebaikan bagi keluarga dan masyarakat.

Baca juga: Perempuan di Panggung Politik Islam: Dari Hijrah hingga Kritik Kekuasaan

Istri sebagai “Modal Sosial”

Fazlur Rahman dalam Islam and Modernity (1982) menyebut keluarga sebagai unit terkecil peradaban Islam. Dari sinilah moral, pengetahuan, hingga stabilitas sosial dibangun. Dalam kerangka itu, istri salehah dapat dibaca sebagai “modal sosial”—ia bukan sekadar penghias, tetapi sumber daya yang menentukan keberlangsungan sebuah masyarakat.

Sejarah Islam awal juga memotret hal ini. Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Nabi, bukan hanya penyokong moral, tetapi juga menopang finansial dakwah Islam. Peneliti Leila Ahmed dalam Women and Gender in Islam (1992) menulis bahwa posisi Khadijah menunjukkan “kesalehan” bukan sebatas ibadah ritual, melainkan keberanian, kemandirian, dan daya dukung terhadap suami serta komunitas.

Di masyarakat modern, peran istri kian melebar. Data Badan Pusat Statistik 2022 mencatat, lebih dari 30 persen kepala rumah tangga di Indonesia adalah perempuan. Banyak di antaranya berperan ganda: sebagai pencari nafkah sekaligus pengelola keluarga.

Psikolog keluarga, Melly Sri Sulastri, dalam artikelnya Perempuan, Keluarga, dan Pembangunan (Jurnal Psikologi Sosial, 2019), menyebut bahwa konsep “istri salehah” perlu diredefinisi sesuai konteks: bukan sekadar yang taat pada suami, tetapi yang mampu menjaga harmoni, mendidik anak, dan memberi kontribusi sosial.

Baca juga: Jejak Perempuan dalam Pelayanan Sosial: Dari Madinah ke Jakarta

Maka, sabda Nabi tentang istri salehah sebagai perhiasan terbaik bukanlah reduksi. Ia justru pengakuan: bahwa peran perempuan dalam keluarga adalah sumber keindahan, sekaligus fondasi kokoh bagi masyarakat.

Bagi keluarga Muslim, perhiasan itu bukan sekadar dilihat, tetapi dirawat, dihargai, dan disyukuri. Di dalamnya, perempuan tampil bukan hanya sebagai pelengkap, melainkan sebagai inti dari keberlangsungan dunia.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:02
Ashar
15:24
Maghrib
17:56
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan