LANGIT7.ID-
Rasulullah SAW tidak malu mengungkapkan perasaan cintanya. Dalam satu hadits, ketika ditanya siapa orang yang paling dicintainya, beliau menjawab lugas: “Aisyah.”
“Kalau dari laki-laki?”
“Abu Bakar, ayahnya,” jawab Nabi.
Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi dalam bukunya "
Belajar Romantis dari Rasulullah mengatakan itu bukan sekadar kalimat basa-basi. Nabi menanamkan bahwa cinta tak perlu disembunyikan. Bahkan dalam hadits riwayat Muslim, beliau pernah berkata tentang Khadijah, istri pertama yang telah wafat: “Sungguh, aku telah dibuat mencintainya.”
Aisyah pun—meski belum pernah bertemu Khadijah—mengakui betapa Rasulullah begitu sering menyebut-nyebutnya. Bahkan setelah wafatnya Khadijah, Rasul masih suka mengirimkan potongan daging dari kambing sembelihannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Cinta tidak selesai dengan kematian. Ia hidup dalam kenangan, dalam amal, dalam kebaikan yang terus dikenang.
Baca juga: Kisah Perkawinan Rasulullah dengan Sayyidah Aisyah: Cinta Setelah Menikah Romantisme yang Bukan SandiwaraCinta Rasulullah bukan teatrikalitas untuk panggung. Ia bukan konsumsi media sosial. Beliau bahkan mengajarkan untuk mencium istri sebelum keluar rumah untuk shalat. Aisyah meriwayatkan: “Rasulullah mencium istrinya lalu pergi shalat tanpa berwudhu lagi.”
Pesan yang tersemat dalam hadits itu bukan hanya soal fiqih menyentuh istri, tapi tentang kehangatan dan perhatian kecil yang membekas. Bahkan menurut riset modern, kecupan di pagi hari meningkatkan semangat kerja dan menurunkan tingkat stres. Nabi sudah mempraktikkannya 14 abad lalu.
Mencintai, Menyayangi, dan MenghormatiRomantisme ala Rasulullah dibangun bukan hanya atas cinta, tapi juga atas penghormatan. Suatu kali, seorang wanita tua datang ke rumah Rasulullah. Beliau menyambutnya dengan sangat hangat. Aisyah heran dan berkata, “Wahai Rasulullah, engkau menyambut wanita tua ini begitu hangat?”
Rasulullah menjawab, “Dia dulu sering datang kepada kami pada masa Khadijah. Dan menjaga hubungan baik adalah bagian dari iman.”
Di sinilah bedanya cinta Rasulullah dengan cinta banyak orang hari ini. Banyak pasangan yang ketika berpisah atau ditinggal wafat, membongkar aib pasangan lama, lalu memuji pasangan barunya tanpa batas. Nabi mengajarkan sebaliknya: tak ada cinta yang selesai hanya karena berpisah.
Baca juga: Khitbah Proses dalam Perkawinan: Wanita yang Telah Dipinang Tetap Orang Asing Suara yang Tak Didengar di RumahAda yang ganjil di rumah-rumah kita hari ini. Banyak lelaki lebih menjadi pendengar setia di kantor, tapi tuli terhadap cerita istrinya. Mereka ramah pada rekan bisnis, tapi tak punya waktu mendengar curhat anak. Di rumah, cinta berubah menjadi rutinitas yang hambar.
Dan ketika kata-kata cinta tak lagi hadir di meja makan, jangan heran jika pasangan mencarinya di tempat lain—di aplikasi curhat online, dalam percakapan samar yang semula tampak tak berbahaya.
Sunyi di Tengah KeramaianDalam budaya yang makin bising oleh notifikasi, ternyata cinta butuh sunyi. Bukan sunyi dalam makna kehilangan, tapi sunyi yang memampukan seseorang mendengar. Rasulullah hadir dalam sunyi itu. Beliau tidak hanya hadir secara fisik, tapi juga secara jiwa. Ia mendengar, memperhatikan, menyebut nama, dan mengenang kebaikan.
Baca juga: Mengapa Umar Bin Khattab Melarang Perkawinan Sahabat Nabi dengan Ahlul Kitab Dari Madinah untuk Rumah Kita Hari IniNabi tidak mewariskan istana, tetapi ia mewariskan akhlak. Ia tidak menciptakan budaya patriarki yang membungkam perempuan, tetapi membangun rumah tangga yang penuh cinta dan kelembutan. Ia tidak hanya sujud kepada Allah, tetapi juga bersimpuh di depan cinta, menyambut Aisyah di pelataran hati yang luas.
Maka, jika cinta di rumah kita kering, mungkin kita lupa meneladani cinta Nabi.
Dan jika hati pasangan kita terasa jauh, mungkin bukan mereka yang pergi—tapi kita yang berhenti mendekat.
(mif)