LANGIT7.ID-Di banyak ruang sosial umat Islam, perdebatan antara “yang terlalu ketat” dan “yang terlalu longgar” kerap muncul — terutama ketika berbicara soal seni, hiburan, dan gaya hidup. Dari layar dakwah digital hingga khutbah di mimbar, umat masih berputar pada pertanyaan lama: sejauh mana Islam memberi ruang bagi ekspresi dan kegembiraan?
Syaikh Yusuf al-Qardhawi, ulama moderat asal Mesir, dalam bukunya berjudul "
Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an & Sunnah" (Citra Islami Press, 1997), menulis dengan nada prihatin. “Masalah permainan dan seni,” katanya, “adalah persoalan yang membuat manusia mudah tergelincir pada dua kutub ekstrem — berlebihan atau mempermudah.”
Qardhawi menegaskan, kesalahpahaman terhadap ajaran Islam sering lahir karena umat hanya mengambil sebagian nash, tanpa menimbang keseimbangannya. Dalam pandangannya, ada dua kelompok besar yang sama-sama keliru. Pertama, mereka yang menganggap Islam menolak tawa, keceriaan, dan seni. Kedua, mereka yang menjadikan kebebasan tanpa batas sebagai tafsir modern atas Islam.
Wajah Muram Dakwah“Sebagian aktivis dakwah menjadikan kemuraman sebagai simbol kesalehan,” tulis Qardhawi. Mereka tampil dengan wajah tegang dan pelipis berkerut, seakan duka adalah bukti iman. Dalam masyarakat modern yang lelah, sikap semacam ini justru menjauhkan Islam dari daya tariknya yang
rahmatan lil ‘alamin.
Fenomena ini sebagai “krisis keseimbangan spiritual.” Kita sedang kehilangan rasa — antara tazkiyah (penyucian diri) dan tahzib (pembinaan jiwa). Padahal Nabi pun tersenyum lebih sering daripada murka.
Pandangan Qardhawi sejalan dengan refleksi Albert Einstein tentang moralitas dan kebijaksanaan: “
Science without religion is lame, religion without science is blind.” Dalam konteks umat, bisa dikatakan — ketat tanpa kasih sayang itu kering, longgar tanpa arah itu liar.
Di sisi lain, Qardhawi juga mengingatkan bahaya dari sikap yang terlalu permisif. “Ada yang menjadikan seni dan hiburan sebagai dalih untuk menebar kerusakan,” tulisnya. “Padahal yang dinilai bukan nama dan simbolnya, melainkan isi dan maksudnya.”
Seniman dan budayawan Goenawan Mohamad pernah menulis dalam
Catatan Pinggir: “Yang mematikan seni bukan larangan, tetapi kehilangan makna.” Dalam dunia yang menyanjung kebebasan, justru diperlukan etika spiritual agar ekspresi tidak jatuh menjadi eksploitasi.
Mencari Titik TengahQardhawi menyerukan keseimbangan —
tawazun — yang berlandaskan
maqasid syariah: menjaga agama, akal, jiwa, keturunan, dan harta. Prinsip ini, kata dia, menjadi pagar agar umat tak terseret ke kutub ekstrem. “Pandangan yang adil,” ujarnya, “harus didasarkan pada nash shahih dan makna yang jelas, bukan pada selera pribadi.”
Pemikir India, Rabindranath Tagore, pernah berkata, “
Faith is the bird that feels the light when the dawn is still dark.” Iman, dalam pengertian Qardhawi, adalah cahaya yang memberi arah di tengah gelapnya ekstremisme — baik ekstrem dalam kesalehan semu, maupun dalam kebebasan tanpa kendali.
Dunia Islam hari ini memerlukan ruang yang menampung dua hal sekaligus: kesungguhan dalam ibadah dan kelapangan dalam jiwa. Qardhawi mengingatkan, agama tak pernah berdosa atas kekakuan atau kebebasan manusia; yang bersalah adalah cara kita memaknainya.
Dalam kebudayaan yang serba cepat dan digital, barangkali sudah saatnya umat Islam belajar tersenyum lagi — tanpa kehilangan ketundukan dalam sujud. Sebab seperti dikatakan oleh Jalaluddin Rumi: “
There are a thousand ways to kneel and kiss the ground.”
Dan barangkali, salah satunya adalah dengan cara yang lebih manusiawi.
(mif)