Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home masjid detail berita

Melawan Ta'ashshub: Mengapa Fanatisme Mazhab Dilarang oleh Para Imam Sendiri?

miftah yusufpati Kamis, 16 April 2026 - 16:49 WIB
Melawan Ta'ashshub: Mengapa Fanatisme Mazhab Dilarang oleh Para Imam Sendiri?
Keberagaman pendapat di antara para imam seharusnya menjadi rahmat yang memudahkan, bukan jeruji yang membelenggu nalar. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam sejarah pemikiran Islam, keberadaan empat imam mazhab besar—Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal—adalah anugerah intelektual yang merapikan jalan umat memahami wahyu. Namun, seiring berjalannya waktu, apresiasi ilmiah sering kali bergeser menjadi fanatisme buta atau ta’ashshub. Fenomena ini menciptakan sekat-sekat imajiner di mana pengikut satu mazhab merasa haram melirik kebenaran di madzhab lain, sebuah sikap yang justru ditentang keras oleh para imam itu sendiri.

Satu kutipan legendaris dari Imam Malik rahimahullah menjadi fondasi utama dalam meruntuhkan tembok fanatisme ini. Sambil menunjuk ke arah makam Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, beliau berkata bahwa setiap orang bisa diambil perkataannya dan ditolak, kecuali penghuni kuburan tersebut. Ucapan ini merupakan deklarasi bahwa otoritas kebenaran mutlak hanya milik Rasulullah, sementara para ulama, sehebat apa pun mereka, tetaplah manusia yang bisa terjatuh dalam kekeliruan.

Syaikh Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili dalam sebuah pengamatannya mencatat keunikan masing-masing imam. Malik dan Ahmad unggul dalam hadis, Asy-Syafi’i dalam bahasa dan usul fiqih, sementara Abu Hanifah dalam logika dan kiyas. Ar-Ruhaili berargumen bahwa mereka yang bersikap terbuka dan memilih pendapat terkuat (rajih) dari keempatnya justru akan mendapatkan akumulasi kelebihan yang diberikan Allah kepada masing-masing imam tersebut.

Kewajiban utama seorang Muslim bukanlah fanatik pada sosok, melainkan pada dalil. Al-Quran telah memberikan garis tegas dalam Surah Al-A’raf ayat 3:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran.

Ironinya, para imam mazhab sendiri adalah pejuang pertama yang menolak pengultusan atas pendapat mereka. Imam Syafi’i, misalnya, dengan tegas berwasiat agar jika ditemukan hadis yang shahih, maka umat harus mengikuti hadis tersebut dan melemparkan pendapat pribadinya ke dinding jika terbukti berselisih. Sikap rendah hati ini menunjukkan bahwa mazhab hanyalah alat bantu untuk memahami agama, bukan agama itu sendiri.

Pada generasi awal umat Islam—generasi sahabat dan tabi’in—konsep bermadzhab secara institusional seperti sekarang belum dikenal. Mereka bergerak dinamis mengikuti dalil yang sampai kepada mereka. Maka, dalam kacamata interpretatif, bermadzhab secara formal hukumnya adalah boleh, namun menjadikannya wajib apalagi hingga tingkat fanatik adalah sebuah kesalahan metodologis.

Kesalahan fatal terjadi ketika seseorang tetap mempertahankan pendapat mazhabnya padahal jelas-jelas dalil shahih menunjukkan hal yang berbeda. Sikap ini tidak hanya menutup pintu kebenaran, tetapi juga mencederai integritas ilmu yang dibangun para imam. Menghormati jasa ulama berarti menjalankan wasiat mereka, dan wasiat terbesar mereka adalah: tunduklah pada dalil di mana pun ia berada.

Keberagaman pendapat di antara para imam seharusnya menjadi rahmat yang memudahkan, bukan jeruji yang membelenggu nalar. Dengan menanggalkan jubah fanatisme, seorang penuntut ilmu akan lebih jernih melihat kebenaran, menjadikan ilmu agama sebagai oase yang mempersatukan, bukan komoditas yang memecah belah umat dalam kotak-kotak fanatisme sempit.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)