LANGIT7.ID, Jakarta - Sebagian masyarakat menganggap 10 Muharram sebagai Hari Raya atau lebaran
anak yatim (Idul Yatama). Idul Yatama merupakan ungkapan kegembiraan bagi anak-anak yatim, sebab pada saat itu banyak orang yang memberikan perhatian dan santunan.
Menurut Habib Syech Bin Abdul Qadir Assegaf, acara santunan pada Idul Yatama merupakan budaya yang patut dipertahankan. Hanya saja, acara santunan tak perlu dipertontonkan, apalagi kalau sampai mengeksploitasi untuk kepentingan pencitraan.
“Saya imbau untuk tidak membuat acara seperti itu. Acara anak yatim boleh kita adakan, tapi tidak secara terbuka. Boleh terbuka, tapi pemberian hadiah simbolis saja satu, yang lain nanti di kamar, atau di rumah masing-masing. Itu lebih mulia,” kata Habib Syech di kanal YouTube NU online, dikutip Selasa (9/8/2022).
Baca Juga: Bagaimana Hukum Makan Uang Donasi Anak Yatim? Ini Jawaban Gus Baha
Hal senada pernah disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH Muhammad Anwar Manshur. Dia mengatakan, anak-anak yatim memang butuh perhatian, tapi bukan untuk dipertontonkan.
“Kurang baik kalau menyantuni anak yatim dijadikan acara, kasihan mereka nelongso kalau dipertontonkan,” katanya.
Dua ulama besar itu sama-sama menentang acara santunan anak yatim yang dipublikasikan secara berlebihan. Terlebih jika anak-anak yatim itu dipamerkan. Itu bisa saja membuat mental mereka menjadi
down.
Lain hal jika acara itu digelar oleh sebuah lembaga. Lembaga itu memiliki pertanggungjawaban berupa dokumentasi kepada donatur. Tapi, harus dilakukan dengan cara-cara mulia, tidak perlu berlebihan mempublikasikan acara santunan itu.
Baca Juga: Sekolah Gratis Taruna Yatim Dibuka, Fasilitas Mewah Bak Istana
“Mengurusi ini bukan dikasih amplop saja. Didik mereka, ajari Qur’an, diajar ilmu, supaya nanti pas besar bisa bekerja bisa membantu orang Tuanya, dan hidup seperti orang-orang lain hidup. Ayo diubah budaya seperti itu. Itu budaya bagus, menyantuni anak yatim, tapi caranya yang kadang kurang tepat,” kata Habib Syech.
Menurut Habib Syech, banyak anak yatim yang tidak bisa menerima dipamer-pamerkan di depan kamera. Hanya saja mereka tidak mampu menolak, dan memilih mengikuti acara yang tengah berjalan.
“Seandainya anak yatim itu saya, pasti hati saya akan mengatakan, ‘saya ini malu mendapatkan (pemberian) di depan banyak orang, tetapi karena terpaksa saya harus terima,” Habib Syech.
(jqf)