Ibrahim menggugat nalar Babilonia yang terpenjara dalam rupa batu dan rasi bintang. Sebuah manifesto tauhid yang menantang hegemoni Namrud melalui dialektika, kapak, dan keteguhan di tengah kobaran api.
Manusia memiliki dorongan alami mencari perlindungan pada kekuatan mahabesar. Namun tanpa bimbingan nabi, pencarian itu kerap tersesat pada pemujaan sesama makhluk dan benda mati akibat ketidaktahuan.
Ketika ritual kuno kembali bersemi dan batas iman menjadi kabur dalam pusaran sinkretisme, sebuah nubuatan tentang kembalinya kemusyrikan di tengah umat tengah menemukan panggung realitasnya.
Imaduddin mengajak umat kembali ke tauhid yang jernih: bukan sekadar percaya Tuhan, tapi memurnikan ibadah dari mitos, kultus pemimpin, dan sisa-sisa paganisme yang terus berganti bentuk dari zaman ke zaman.
Fenomena syirik tak punah, hanya berganti wajah. Dari berhala batu menjadi uang, kekuasaan, hingga ideologi modern. Qardhawi mengingatkan, tauhid tetap pertaruhan terbesar umat.
Bagi Ibrahim, Tuhan sejati tidak tunduk pada siklus alam. Tidak muncul lalu hilang. Tidak kuat di siang lalu lenyap saat malam. Tuhan, menurut penelitiannya, bukan bagian dari ciptaan, tapi penguasa atasnya.
Ia lahir di zaman ketika manusia menggantungkan sembah sujud pada bintang-bintang di langit, pada patung-patung buatan tangan sendiri, bahkan pada sesama manusia.
Pada masa pra-Islam, di antara para pemuja Hubal dan penari di sekeliling berhala, ada segelintir orang Arab yang justru mempraktikkan ibadah-ibadah yang kelak menjadi bagian dari ajaran Islam.
Bagaimana satu orang yang diagungkan sebagai pemimpin dan juru adat di Makkah justru mencatatkan namanya sebagai pelopor kesyirikan terbesar di tanah Arab.
Di balik batang-batang pohon kurma itu, ada sejarah panjang penyimpangan spiritual. Tapi ada juga keberanian para utusan Tuhan yang menebasnya demi membebaskan manusia dari perbudakan pada simbol.
Ibrahim mengambil berhala-berhala tersebut dari bapaknya dan kemudian membawanya pergi. Dia mengikatkan tali ke kaki-kaki berhala tersebut dan menariknya di belakangnya.