LANGIT7.ID-Sebelum Islam datang, orang-orang Arab mulanya memeluk agama Ibrahim. Mereka mentauhidkan Allah, berhaji ke Rumah-Nya, dan menghormati bulan-bulan suci. Namun, sebagaimana umat-umat lain, mereka kemudian menyimpang. Di sekeliling Ka’bah yang semula hanya untuk menyembah Tuhan Yang Esa, mereka menegakkan berhala-berhala dan memohon keberkahan dari batu-batu pahatan.
Orang yang dianggap sebagai pelopor pertama penyembahan patung di kalangan Arab adalah
Amr bin Luhay al-Khuza’i. Ia pernah menguasai Ka’bah di Mekkah setelah mengusir suku Jurhum. Dalam buku
Chiefdom Madinah: Kerucut Kekuasaan pada Zaman Awal Islam, Dr Abdul Aziz MA mengisahkan bahwa Amr suatu ketika menderita penyakit. Ada yang menyarankan agar ia mandi di pemandian di daerah Balqa, Syria, yang saat itu dihuni kaum Amalik. Amr pun pergi ke sana, mandi, dan sembuh.
Di Balqa, ia melihat penduduk setempat menyembah patung-patung. Tertarik dengan kebiasaan itu, ia meminta salah satu patung dan diberikan patung bernama Hubal. Patung ini ia bawa ke Mekkah dan ditegakkan di dalam Ka’bah. Ia juga membagi-bagikan patung-patung lain kepada berbagai suku Arab. Sejak saat itu, penyembahan berhala bermula.
Baca juga: Hunafa: Para Pencari Tuhan di Tengah Berhala Arab Jahiliyah Ahli tentang berhala, Ibnu al-Kalabi, meriwayatkan bahwa patung Hubal berbentuk manusia dengan tangan kanan patah. Orang Quraisy kemudian membuatkan tangan baru dari emas. Patung itu dipahat dari batu akik merah atau merah ros, dengan kehalusan yang menunjukkan kemungkinan ia buatan seniman Syria atau Yunani dan diimpor ke Mekkah. Hubal adalah salah satu dari 360 berhala yang mengelilingi Ka’bah ketika Nabi Muhammad menaklukkan Mekkah dan menghancurkan semuanya.
Di antara semua berhala itu, Hubal menempati posisi paling terhormat. Melalui Hubal, orang Quraisy memohon keselamatan dan keberuntungan, juga mengundi nasib dan menentukan keabsahan keturunan. Bahkan mereka memiliki talbiyah untuk Hubal:
“
Ya Allah, kami memenuhi panggilan-Mu,Sesungguhnya kami hanyalah debu.Engkau larang kami menggunakan anak panah (untuk perang),Tapi manusia menghalangi kami dari kemenangan.”
Hubal memang bukan satu-satunya tuhan yang disembah orang Arab pra-Islam. Hoyland, sebagaimana dikutip Abdul Aziz, memperkirakan bahwa hingga abad ke-4 Masehi, penduduk Arabia mayoritas menganut politeisme. Di selatan, dewa paling populer adalah Astar, juga disebut Asyrar. Tiap komunitas memiliki pelindung sendiri, seperti Almaqah bagi orang Saba’i dan Wadd bagi orang Mina’i. Di Petra, pusat kerajaan Nabatea, dikenal al-Uzza. Di Hijaz, Hubal dan Manat jadi favorit.
Baca juga: Amr bin Luhai: Dukun, Penguasa Kakbah, dan Pelopor Penyembahan Berhala Sebuah prasasti dari tahun 132 Masehi bahkan menyebut Shay’ al-Qawm sebagai “Penjaga Rakyat,” pelindung orang-orang yang bepergian jauh dari rumah.
Namun tidak semua ahli sepakat dengan anggapan bahwa orang Arab seluruhnya penyembah berhala. Orientalis Ernest Renan, misalnya, berpendapat orang-orang Semit termasuk Arab pada dasarnya adalah monoteis. Ia menduga mereka menyembah satu Tuhan, dan politeisme hanyalah penyimpangan kemudian.
Abdul Aziz menyebutkan bahwa apa pun perdebatan para ahli, pada saat menjelang turunnya Islam, masyarakat Arab menganut kepercayaan yang sangat beragam. Ada yang tetap mengimani Allah sebagai Tuhan Yang Esa, ada yang menyembah Allah namun menjadikan berhala sebagai perantara, dan ada pula yang murni menyembah berhala sebagai sumber manfaat dan mudarat.
Di antara mereka juga ada yang memeluk agama Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagian lain tidak menentukan keyakinan, bahkan ada yang mengingkari adanya Tuhan sama sekali. Ada pula yang meyakini bahwa hukum Tuhan hanya berlaku di dunia tanpa kehidupan setelah mati. Ada yang beriman kepada roh-roh atau menyembah benda-benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang Zahra.
Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim: Melecehkan Berhala, Lalu Memenggal Kepalanya Namun, pada akhirnya penyembahan berhala menjadi praktik keagamaan yang paling meluas. Demikian menyebarnya hingga hampir setiap rumah orang Arab memiliki berhala sendiri yang disembah seluruh penghuninya.
(mif)