LANGIT7.ID-Di sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,
Nabi Muhammad SAW bersabda dengan nada getir: “Aku melihat ‘Amr bin ‘Amir al-Khuza’i menyeret ususnya di neraka. Ia adalah orang yang pertama kali menetapkan aturan Saaibah.”
Hadis itu, yang juga memiliki penguat dalam riwayat-riwayat lain, menjadi bukti paling jelas tentang nasib tragis salah satu tokoh paling berpengaruh di
jazirah Arab pada masa jahiliah:
Amr bin Luhai. Seorang dukun, seorang pemimpin karismatik, seorang pelayan Kakbah—dan sekaligus pelopor penyembahan berhala yang paling dikutuk oleh Islam.
Nama lengkapnya Amr bin Amir bin Luhai al-Khuza’i. Dalam banyak kitab sirah dan tarikh, ia dikenal sebagai lelaki yang cerdas, berpengaruh, dan memiliki wibawa yang tinggi. Sebagian masyarakat Arab bahkan memujanya sebagai juru adat yang membawa “peradaban” ke Makkah. Tetapi pujian-pujian itu kini justru terdengar ironis, sebab jasa paling besar yang ia wariskan adalah menjadikan masyarakat Arab berpaling dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim dan Ismail menjadi para pemuja berhala.
Dalam Tarikh Makkah, kisahnya bermula ketika suku Khuza’ah memimpin penyerbuan ke Makkah, mengusir suku Jurhum, dan mengambil alih pelayan Kakbah. Amr bin Luhai muncul sebagai pemimpin mereka, seorang dukun yang juga mengaku memiliki kemampuan melihat hal gaib. Di bawah kendalinya, Makkah menjadi pusat ritual baru yang bercampur antara tradisi Ibrahim dan takhayul-takhayul jahiliah.
Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim: Melecehkan Berhala, Lalu Memenggal Kepalanya Dialah yang pertama kali menetapkan aturan Saaibah—yakni melepas unta tertentu untuk “dikeramatkan” dan dibiarkan lepas demi para berhala. Dalam hadis riwayat Ahmad, Nabi Muhammad menyebut jelas: “Sesungguhnya yang pertama kali membuat aturan Saaibah dan menyembah berhala adalah Abu Khuza’ah ‘Amr bin ‘Amir. Dan sungguh aku melihatnya di neraka sedang menyeret ususnya.”
Bagaimana seorang pelayan Kakbah yang seharusnya mewarisi ajaran tauhid bisa membawa berhala ke tanah haram?
Sejarawan mencatat, dalam sebuah perjalanan ke Syam, Amr bin Luhai melihat bangsa-bangsa di sana memiliki patung-patung yang mereka sembah. Ia terkesan dengan tata cara mereka yang tampak megah dan penuh simbol. Ia pun membawa pulang patung Hubal dari kota Balqa’ di Syam ke Makkah. Patung itu kemudian diletakkannya di dalam Kakbah sebagai “perantara” untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Langkah ini menjadi titik balik sejarah: Arab yang selama ini bertauhid kepada Tuhan yang Esa, perlahan berubah menjadi masyarakat politeistik yang menyembah ratusan berhala.
Tradisi syirik itu segera menyebar ke seluruh jazirah. Orang-orang Arab menduplikasi tindakan Amr bin Luhai. Patung-patung lain seperti Latta, Uzza, dan Manat bermunculan di berbagai tempat. As-Suhaili mencatat, “Tidaklah ia membuat suatu kebid’ahan kecuali oleh masyarakat Arab dijadikan sebagai syariat.”
Riwayat-riwayat tentang Amr bin Luhai tak hanya hidup di buku-buku sejarah, tetapi juga menjadi semacam dongeng gelap yang diceritakan dari generasi ke generasi. Abu Bakr Zakaria dalam bukunya Sang Pionir Kesyirikan menyebut bahwa kisah-kisah tentangnya nyaris seperti legenda: penuh warna, namun tetap kuat pijakan sejarahnya.
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Berhala-berhala Modern Ia dikenal sebagai lelaki yang “paling cemerlang” pada zamannya, dihormati karena kedudukannya, tetapi diam-diam merusak fondasi iman yang diwariskan Nabi Ibrahim. Dalam catatan sirah, masyarakat Arab bahkan memandangnya dengan kebanggaan: lelaki yang membawa adat-adat baru yang megah, tetapi justru menyesatkan.
Sebagai pelopor kebid’ahan terbesar di Makkah, Amr bin Luhai tidak hanya mengubah keyakinan masyarakat, tetapi juga secara halus mengubah pandangan mereka tentang Tuhan. Dari Allah yang esa dan tak terlihat menjadi sekumpulan patung dan jimat yang bisa dipegang, diusap, dan dikitari.
Kini, lebih dari seribu tahun setelah kematiannya, jejak Amr bin Luhai tetap menjadi peringatan: betapa satu orang yang cerdas dan berpengaruh bisa menyeret sebuah masyarakat ke jalan yang salah. Dalam hadis, Nabi Muhammad menggambarkan hukuman yang ia terima: diseret ususnya di neraka, menjadi tontonan bagi para malaikat, sebagai balasan karena memulai jalan kesyirikan yang diikuti banyak orang.
Sejarawan dan ahli hadis sepakat, kisah ini bukan sekadar cerita tentang masa lalu, tetapi juga sebuah pelajaran tentang bagaimana ambisi, kharisma, dan kesalahan bisa bercampur dalam diri manusia—dan membekas jauh lebih lama daripada hidupnya sendiri.
Sebagaimana kata pepatah Arab: “Orang yang pertama membuat jalan buruk tetap memikul dosa orang-orang yang melaluinya setelah ia tiada.”
Baca juga: Raja Duramsyil: Orang Pertama yang Memproduksi Anggur, Musuh Nabi Nuh Penyembah 5 Berhala(mif)