LANGIT7.ID-Pada abad digital, ketika manusia mengaku berperadaban maju, fenomena penyembahan berhala seakan hanya tinggal mitos. Namun,
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya
Fiqh Prioritas mengingatkan, syirik—mempersekutukan Allah—tak pernah benar-benar lenyap. Ia hanya berganti rupa, dari batu dan pohon menjadi simbol dan sistem.
“
Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit dan disambar burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh,” tulis Al-Qardhawi mengutip Al-Qur’an (al-Hajj: 31). Gambaran dramatis yang menandakan kehancuran spiritual akibat syirik.
Dalam Al-Qur’an, Allah berkali-kali menyinggung fenomena ini. Di era Jahiliyah, kaum Arab mengakui keberadaan Tuhan Sang Pencipta, Pengatur alam, Pemberi rizki—yang dikenal sebagai tauhid rububiyyah. Namun, mereka masih menyembah entitas lain dengan dalih perantara menuju Allah. “…
Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya…” (az-Zumar: 3).
Menurut Qardhawi, pemahaman ini melahirkan tauhid ilahiyyah yang cacat. Tuhan diakui, tetapi disekutukan. Mereka sujud kepada berhala, batu, pohon, bahkan fenomena alam. Ironinya, praktik serupa tak sepenuhnya punah. Ia kini menjelma dalam bentuk kepercayaan pada benda, sistem, hingga manusia yang dipuja setara Tuhan.
Baca juga: Wacana Hukuman Mati bagi Koruptor: Telaah Fikih dan Maqasid al-Syari’ah Klasik, Tapi AktualDalam sejarah, syirik hadir dalam ragam bentuk: Majusi Persia dengan dualisme cahaya dan kegelapan, politeisme Hindu dan Buddha, hingga paham animisme di Afrika. “Kemusyrikan itu ialah tempat tumbuhnya berbagai bentuk khurafat,” tulis Qardhawi.
Di era modern, bentukan ini lebih subtil. Ia hadir lewat materialisme, kapitalisme yang memuja modal, atau paham sekular yang menyingkirkan Tuhan dari ruang publik. Bentuknya berbeda, tapi esensinya sama: menjadikan sesuatu selain Allah sebagai pusat kepatuhan.
Menurut Qardhawi, syirik bukan sekadar soal ritual. Ia adalah degradasi martabat manusia. “Di mana manusia menyembah benda yang dia ciptakan sendiri… yang akhirnya manusia itu sendiri yang berkhidmat kepada benda ciptaannya,” tulisnya. Manusia tunduk pada ciptaannya sendiri—uang, teknologi, bahkan kekuasaan.
Ayat-ayat Al-Qur’an menegaskan kontradiksi ini. Mereka yang mengaku mengenal Tuhan, tapi menyerahkan ketaatan pada yang lain. “
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? Tentu mereka akan menjawab: Allah” (al-Ankabut: 61). Tapi pengakuan itu tak menghalangi mereka dari praktik syirik.
Baca juga: Zina dan Rajam: Fikih Klasik dalam Sorotan Hukum Modern Indonesia Syirik, bagi Qardhawy, adalah tantangan akidah yang tak lekang oleh zaman. Ia menulis: “Kemusyrikan yang menandai evolusi bangsa-bangsa ini merupakan kejatuhan yang paling dalam.” Umat Islam, kata dia, harus mewaspadai jebakan modern yang tampak sepele tapi berpotensi menyalahi tauhid.
Pada akhirnya, peringatan klasik ini tetap relevan: “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia menjadi satu dari mereka,” (Musnad Ahmad, Sunan Abi Daud). Sebuah alarm agar umat tak larut dalam arus budaya yang menjauhkan dari prinsip Islam.
(mif)