Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 10 Februari 2026
home masjid detail berita

Kembalinya Pemujaan Berhala dan Rapuhnya Tauhid di Era Modern

miftah yusufpati Selasa, 03 Februari 2026 - 05:45 WIB
Kembalinya Pemujaan Berhala dan Rapuhnya Tauhid di Era Modern
Kiamat sedang mendekat melalui pintu-pintu pemujaan baru yang lebih halus, melalui hilangnya pembeda antara yang hak dan yang batil. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Dalam narasi kemajuan zaman yang dianggap kian rasional, sebuah anomali spiritual justru merangkak naik ke permukaan. Di balik kecanggihan teknologi dan logika materialisme, praktik-praktik yang menyerupai pemujaan masa silam kembali bermunculan dalam berbagai rupa. Fenomena ini bukan sekadar masalah folklor atau warisan budaya, melainkan sebuah pergeseran fundamental dalam teologi publik. Dalam kacamata eskatologi Islam, kembalinya umat pada praktik kemusyrikan adalah salah satu alarm paling krusial tentang dekatnya akhir sejarah.

‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyebut, fenomena ini diulas sebagai bentuk keretakan iman yang sistemik. Laporan yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah ini menegaskan bahwa kemurnian tauhid akan mengalami ujian berat di penghujung zaman, di mana sebagian umat justru akan kembali pada tradisi yang telah lama ditinggalkan.

Pijakan nubuat ini bersumber dari riwayat Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Tsauban radhiyallahu anhu, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِى أُمَّتِى لَمْ يُرْفَعْ عَنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى الأَوْثَانَ

Artinya: Jika pada umatku pedang telah diletakkan, maka ia tidak akan pernah diangkat darinya sampai hari kiamat, dan tidak akan terjadi hari kiamat hingga beberapa kabilah dari umatku mengikuti kaum musyrikin, dan beberapa kabilah dari umatku menyembah berhala.

Sinkretisme dan Pemujaan Baru

Interpretasi ‘Awadh bin ‘Ali ini membawa kita pada refleksi tentang bagaimana berhala tidak selalu berbentuk patung batu. Dalam konteks modern, berhala bisa mewujud dalam bentuk pemujaan terhadap figur, ideologi, atau bahkan benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan adikodrati. Istilah mengikuti kaum musyrikin merujuk pada pengadopsian gaya hidup, tata nilai, hingga ritual yang mengaburkan batas antara iman dan kekufuran.

Yang paling spesifik adalah peringatan mengenai kabilah Daus, yang terekam dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَلْيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ حَوْلَ ذِى الْخَلَصَةِ

Artinya: Tidak akan terjadi hari kiamat hingga bokong-bokong para wanita Daus bergoyang di sekitar Dzil Khalashah.

Dzil Khalashah adalah sebuah tempat atau berhala yang pernah disembah pada masa jahiliyah. Penggambaran goyangan bokong para wanita menunjukkan kembalinya ritual pemujaan yang disertai dengan euforia dan hilangnya rasa malu. Secara sosiologis, ini menunjukkan siklus sejarah di mana setelah cahaya ilmu tersebar, manusia bisa kembali jatuh ke dalam kegelapan yang sama akibat pengikisan iman yang perlahan.

Secara analitis, fenomena ini mencerminkan apa yang disebut sebagai neopaganisme atau keberagamaan permukaan. Di era pasca-kebenaran, banyak orang mencari pegangan pada hal-hal mistis yang instan karena kekosongan jiwa. Kebergantungan pada ramalan, pemujaan terhadap benda-benda bertuah, hingga ritual-ritual yang menyimpang dari koridor syariat menjadi bukti bahwa tauhid sedang mengalami tantangan besar.

‘Awadh bin ‘Ali mengingatkan bahwa kiamat kecil hadir melalui disorientasi pengabdian. Ketika manusia lebih takut pada kekuatan selain Allah atau lebih menggantungkan harapan pada sebab-sebab material yang dikeramatkan, itulah saat di mana esensi penghambaan sedang runtuh.

Amanat untuk menjaga kemurnian ibadah kini tertutup oleh riuh rendah sinkretisme yang dibungkus label budaya atau tren spiritualitas baru. Narasi eskatologis ini mengajak kita melakukan otopsi terhadap kondisi batin masyarakat hari ini. Apakah kita sedang berada di masa di mana urusan ketuhanan dicampuradukkan dengan keinginan nafsu?

Kiamat sedang mendekat melalui pintu-pintu pemujaan baru yang lebih halus, melalui hilangnya pembeda antara yang hak dan yang batil, dan melalui kembalinya kebiasaan-kebiasaan purba di tengah peradaban yang merasa dirinya paling maju. Inilah peringatan tentang dekatnya akhir sejarah, saat manusia kembali bersujud pada objek-objek duniawi dan melupakan Sang Pencipta yang sesungguhnya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 10 Februari 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
12:10
Ashar
15:26
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan