Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 10 Februari 2026
home masjid detail berita

Tanda-Tanda Kiamat: E-commerce dan Ketika Dunia Menjadi Etalase Raksasa

miftah yusufpati Rabu, 04 Februari 2026 - 04:15 WIB
Tanda-Tanda Kiamat: E-commerce dan Ketika Dunia Menjadi Etalase Raksasa
Kita diajak melihat kembali bahwa hiruk-pikuk pasar hari ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Pusat perbelanjaan kini bukan lagi sekadar bangunan beton dengan eskalator yang bising. Di era internet segalanya, pasar telah bermigrasi ke dalam saku celana, berdenyut dalam algoritma gawai yang menawarkan barang bahkan sebelum keinginan itu benar-benar matang di kepala. Fenomena ini bukan sekadar keberhasilan kapitalisme global, melainkan sebuah fragmen sosiologis yang telah lama terekam dalam literatur eskatologi Islam sebagai tanda-tanda kiamat kecil.

Awadh bin Ali bin Abdullah dalam naskah Mukhtashar Ashrat al-Saah al-Sughra wa al-Kubra menjelaskan bahwa salah satu penanda akhir zaman adalah fushuwu al-tijarah atau merebaknya perdagangan secara masif. Penulis yang bukunya diterjemahkan oleh Muh. Khairuddin Rendusara ini mengutip riwayat dari Imam Ahmad dan al-Hakim yang bersumber dari Abdullah bin Masud Radhiyallahu Anhu. Dalam hadis tersebut, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

بَيْنَ يَدَىِ السَّاعَةِ تَسْلِيمُ الْخَاصَّةِ ، وَفُشُوُّ التِّجَارَةِ حَتَّى تُشَارِكَ الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا فِي التِّجَارَةِ

Makna harfiah dari sabda tersebut menjelaskan bahwa menjelang datangnya hari kiamat, salam hanya diucapkan kepada orang-orang tertentu, dan perdagangan merebak sedemikian rupa hingga seorang wanita turut serta bersama suaminya dalam berdagang.

Jika kita melihat dengan kacamata ekonomi modern, apa yang disebut sebagai merebaknya perdagangan ini menemukan wujudnya dalam konsep masyarakat pasar atau market society. Seorang filsuf politik dari Universitas Harvard, Michael Sandel, dalam bukunya What Money Cant Buy, pernah memperingatkan tentang pergeseran dari sekadar memiliki ekonomi pasar menjadi sebuah masyarakat pasar. Di sini, hampir semua aspek kehidupan manusia—mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga relasi personal—telah dikomodifikasi dan diperdagangkan.

Data dari laporan ekonomi digital sering kali memuja pertumbuhan e-commerce sebagai indikator kemajuan. Namun, dalam perspektif interpretasi teks klasik yang disajikan Awadh bin Ali bin Abdullah, fenomena ini justru dibaca sebagai gejala meluapnya kesibukan duniawi yang melampaui batas. Meluasnya keterlibatan perempuan dalam perdagangan, yang dalam hadis disebut membantu suaminya, kini terlihat nyata dalam ledakan pengusaha mikro dan fenomena pemengaruh (influencer) di media sosial yang menjadikan kehidupan domestik sebagai konten jualan.

Interpretasi ini tidak serta-merta mengharamkan aktivitas ekonomi, namun lebih kepada menyoroti perubahan struktur sosial. Ketika perdagangan menjadi poros utama kehidupan, ruang-ruang spiritualitas sering kali terhimpit. Salam yang hanya diberikan kepada kalangan tertentu—sebagaimana disebut dalam teks tersebut—mencerminkan terkikisnya ukhuwah atau persaudaraan tulus yang digantikan oleh relasi transaksional. Seseorang hanya akan bersikap ramah jika ada kepentingan ekonomi atau kesamaan strata sosial di baliknya.

Para pemikir seperti Fazlur Rahman dalam berbagai kajian teologi modernnya sering kali menekankan bahwa tanda-tanda eskatologis sebenarnya adalah kritik moral terhadap kondisi manusia. Meluapnya perdagangan bukan hanya soal banyaknya transaksi di lokapasar, melainkan tentang bagaimana mentalitas pedagang telah menyusup ke dalam relasi paling intim manusia. Rumah tangga yang dulunya menjadi benteng nilai kini berubah menjadi unit produksi ekonomi kecil-kecilan di mana semua anggota keluarga terlibat dalam mengejar pertumbuhan materi.

Melalui naskah Awadh bin Ali bin Abdullah yang diterbitkan oleh Maktab Dakwah dan Bimbingan Jaliyat Rabwah pada 2009, kita diajak melihat kembali bahwa hiruk-pikuk pasar hari ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Ia adalah bagian dari skenario besar yang menuntut manusia untuk tetap mawas diri di tengah gempuran iklan dan tawaran diskon yang seolah tak pernah tidur. Pada akhirnya, perdagangan yang meluap adalah ujian bagi nurani: apakah manusia tetap mampu menjadi tuan atas keinginannya, atau justru menjadi komoditas lain di dalam etalase dunia yang kian menyempit.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 10 Februari 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
12:10
Ashar
15:26
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan