Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 10 Februari 2026
home masjid detail berita

Kiamat Sudah Dekat: Ketika Transaksi Digital Menghapus Sekat Ruang

miftah yusufpati Selasa, 03 Februari 2026 - 05:15 WIB
Kiamat Sudah Dekat: Ketika Transaksi Digital Menghapus Sekat Ruang
Kiamat sedang mendekat melalui algoritma belanja yang mengenali keinginan kita sebelum kita menyadarinya. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dunia hari ini adalah sebuah pasar raksasa yang tidak pernah tidur. Dari pusat perbelanjaan megah yang berdiri bersisian di jantung kota, hingga pasar digital yang hanya berjarak satu ketukan jari di layar gawai, aktivitas perniagaan telah mengepung ruang hidup manusia.

Jika dahulu seorang pengembara harus menempuh perjalanan hari demi hari untuk mencapai pusat niaga, kini pasar datang menghampiri tempat tidur. Namun, dalam perspektif eskatologi Islam, fenomena menyempitnya jarak dan waktu antar-pasar ini bukan sekadar keberhasilan logistik modern, melainkan sebuah pertanda tentang fase akhir sejarah.

‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam buku Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menjelaskan, fenomena taqarubul aswaq atau berdekatannya pasar ditempatkan sebagai tanda kecil kiamat yang sangat presisi dengan perkembangan teknologi hari ini. Naskah yang diterbitkan oleh Maktab Dakwah Rabwah ini membedah bagaimana perubahan struktur ekonomi ini mencerminkan obsesi manusia pada urusan material.

Landasan nubuatan ini merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ وَتَقْتَرِبَ الأَسْوَاقُ

Artinya: Tidak akan terjadi hari kiamat hingga zaman semakin singkat dan pasar-pasar semakin berdekatan.

Paradoks Kedekatan Fisik dan Digital

Interpretasi ‘Awadh bin ‘Ali menekankan bahwa berdekatannya pasar memiliki tiga dimensi utama. Pertama, dimensi fisik, yakni menjamurnya pusat perbelanjaan dan pasar modern di lokasi-lokasi yang sangat berdekatan satu sama lain. Kedua, dimensi transportasi, di mana kemajuan sarana angkut membuat perpindahan barang dari satu pasar ke pasar lain terjadi dalam waktu singkat.

Ketiga, yang paling relevan dengan era ini, adalah dimensi informasi. Pasar tidak lagi memerlukan lahan fisik yang luas untuk disebut berdekatan. Melalui platform perdagangan elektronik (e-commerce), ribuan penjual berkumpul dalam satu aplikasi. Jarak antar-pasar kini hanya dibatasi oleh kecepatan internet. Secara sosiologis, ini menciptakan masyarakat yang konsumtif, di mana hasrat untuk membeli selalu dipicu oleh kemudahan akses yang tiada henti.

Secara analitis, berdekatannya pasar beriringan dengan hilangnya keberkahan dalam perniagaan. Kompetisi yang terlalu ketat sering kali melahirkan praktik curang, manipulasi harga, dan iklan yang menyesatkan demi memenangkan pasar yang kian menyempit ruangnya. Kiamat kecil hadir dalam bentuk disorientasi prioritas hidup, di mana manusia menghabiskan mayoritas waktunya untuk memantau harga dan bertransaksi, sementara ruang untuk refleksi spiritual kian terhimpit.

Matinya Kesahajaan di Balik Etalase

Dalam perspektif ekonomi-politik Islam, fenomena ini mencerminkan matinya kemandirian dan kesahajaan. Ketika pasar semakin dekat dan mendominasi setiap jengkal kehidupan, manusia perlahan kehilangan otonomi atas nafsunya. ‘Awadh bin ‘Ali mengingatkan bahwa kemudahan bertransaksi di akhir zaman adalah ujian bagi integritas harta. Batas antara halal dan haram kian kabur dalam transaksi yang serba cepat dan instan.

Keberadaan pasar yang berdekatan ini juga menandakan sebuah era di mana "dunia" benar-benar telah menyatu. Tidak ada lagi isolasi geografis bagi gaya hidup materialistis. Apa yang dijual di New York, bisa dibeli di pelosok desa di saat yang sama. Ini adalah gambaran tentang keseragaman global dalam pemujaan terhadap materi.

Kajian dalam IslamHouse tahun 2009 ini mengajak kita melakukan otopsi terhadap gaya hidup kita. Apakah kita sedang berada di masa di mana pasar telah menjadi kiblat baru aktivitas harian kita? Jika setiap langkah kita selalu bermuara pada transaksi dan setiap detik waktu kita digunakan untuk mencari keuntungan duniawi, maka nubuatan taqarubul aswaq ini sedang bekerja di tengah-tengah kita.

Kiamat sedang mendekat melalui algoritma belanja yang mengenali keinginan kita sebelum kita menyadarinya, melalui kurir yang mengantar paket ke depan pintu setiap hari, dan melalui hilangnya kejujuran dalam ruang-ruang niaga yang kian sesak. Akhir zaman bukan hanya tentang bencana fisik, melainkan tentang hati yang terpenjara dalam labirin konsumsi yang tak berujung.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 10 Februari 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
12:10
Ashar
15:26
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan