LANGIT7.ID- Di tengah deru dunia modern yang serba instan, ada satu keluhan yang hampir seragam terdengar di setiap sudut kota: waktu terasa bergerak terlalu cepat. Belum lama fajar menyingsing, senja sudah kembali menyapa. Belum sempat rencana mingguan tuntas, akhir pekan sudah tiba di depan mata. Bagi sosiolog, ini mungkin soal percepatan arus informasi dan teknologi. Namun, dalam cakrawala eskatologi Islam, fenomena berlarinya sang waktu adalah sinyalemen fundamental tentang dekatnya hari pembalasan.
‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam buku Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyebut, penyusutan waktu atau taqarubuz zaman ditempatkan sebagai tanda kecil kiamat yang kini menjadi realitas harian manusia.
Naskah yang diterbitkan oleh Maktab Dakwah Rabwah ini membedah bagaimana dimensi waktu kehilangan substansinya di tangan manusia yang kian pragmatis.
Landasan utama narasi ini bersumber dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُArtinya:
Tidak akan terjadi hari kiamat hingga zaman semakin berdekatan.
Melenyapnya Keberkahan dalam DetikPenjelasan mengenai bagaimana waktu itu menyusut digambarkan dengan sangat dramatis dalam riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi. Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan analogi percepatan yang sangat presisi:
فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعْفَةِArtinya:
Maka jadilah setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam, dan sejam bagaikan seperti terbakarnya pelepah pohon kurma.
‘Awadh bin ‘Ali menekankan bahwa taqarubuz zaman memiliki dua dimensi interpretasi. Pertama, dimensi fisik-mekanis melalui kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi yang membuat jarak jauh terasa dekat dan perjalanan panjang terasa singkat. Kedua, dimensi spiritual, yakni hilangnya keberkahan waktu.
Secara analitis, matinya keberkahan waktu ditandai dengan banyaknya aktivitas yang dilakukan manusia namun sedikit sekali nilai manfaat atau pahala yang dihasilkan. Sehari semalam berlalu hanya untuk memantau layar gawai, berdebat di ruang siber, atau mengejar ambisi materi tanpa pernah sempat menoleh pada kebutuhan ruhani. Waktu yang singkat ini mencerminkan kehidupan yang sibuk namun kosong dari esensi.
Paradoks Kecepatan dan Kekosongan JiwaDalam perspektif sosiologi agama, percepatan waktu ini beriringan dengan merebaknya kecemasan massal. Manusia merasa selalu tertinggal, selalu terburu-buru, namun kehilangan arah tujuan. ‘Awadh bin ‘Ali mengingatkan bahwa singkatnya waktu adalah indikator bahwa manusia telah mengganti orientasi kekekalan akhirat dengan kesenangan duniawi yang serba instan.
Keberkahan, dalam konteks ini, adalah kemampuan untuk memanfaatkan waktu yang sedikit untuk amal yang besar. Dahulu, para ulama mampu menulis puluhan jilid kitab dalam usia yang pendek. Kini, dengan segala fasilitas kemudahan, manusia justru kesulitan hanya untuk menyelesaikan satu bacaan bermakna. Waktu yang terbakar cepat seperti pelepah kurma adalah simbol bahwa hidup manusia kian rapuh dan mudah lenyap tanpa meninggalkan jejak kebaikan yang abadi.
Kajian dalam IslamHouse tahun 2009 ini mengajak kita melakukan audit terhadap sisa usia. Apakah kita sedang berada di masa di mana waktu hanya menjadi komoditas yang diperjualbelikan demi materi? Jika setahun terasa sebulan dan setiap detik terbuang tanpa dzikir, maka nubuatan taqarubuz zaman ini sedang berbicara lantang di depan wajah kita.
Kiamat sedang mendekat melalui detik-detik yang hilang keberkahannya, melalui kesibukan yang menjauhkan hamba dari Tuhannya, dan melalui gaya hidup yang menghargai kecepatan di atas kedalaman makna. Akhir zaman bukan lagi soal angka tahun, melainkan soal seberapa cepat kita berlari menuju ketiadaan tanpa membawa bekal yang cukup.
(mif)