Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 10 Februari 2026
home masjid detail berita

Kiamat Sudah Dekat: Retaknya Fondasi Sosial dan Epidemi Kata-kata Keji

miftah yusufpati Selasa, 03 Februari 2026 - 15:49 WIB
Kiamat Sudah Dekat: Retaknya Fondasi Sosial dan Epidemi Kata-kata Keji
Kiamat sedang mendekat melalui jari-jari yang ringan mengetik makian, melalui pesan yang tak terbalas kepada orang tua, dan melalui pintu rumah yang tertutup rapat dari sapaan tetangga. Ist
LANGIT7.ID- Dunia hari ini mungkin terasa semakin terhubung secara digital, namun di balik layar gawai yang gemerlap, sebuah ironi sedang berlangsung: manusia semakin terasing dari tetangga sebelah rumahnya dan semakin tajam lisan kepada kerabatnya sendiri. Ujaran kebencian, kata-kata kotor yang dianggap tren, hingga sikap apatis terhadap lingkungan sekitar bukan lagi sekadar masalah etika individual. Dalam kacamata eskatologi Islam, fenomena ini adalah alarm yang menandakan pembusukan tatanan masyarakat dari dalam.

‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyebutkan, fenomena ini diulas sebagai tanda kecil kiamat yang mencerminkan hilangnya ruh kemanusiaan. Naskah yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah ini membedah bagaimana tiga pilar sosial—lisan, keluarga, dan lingkungan—sedang berada di titik nadir.

Pijakan nubuat ini bersumber dari riwayat Imam Ahmad dan Al-Hakim, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhu, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan peringatan yang sangat presisi dengan realitas sosiologis hari ini:

وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَظْهَرَ الْفُحْشُ وَالتَّفَاحُشُ وَقَطِيعَةُ الرَّحِمِ وَسُوءُ الْمُجَاوَرَةِ

Artinya: Tidak akan terjadi hari kiamat hingga muncul perbuatan dan perkataan keji, pemutusan silaturahmi, dan jeleknya hubungan bertetangga.

Banalitas Kata Keji di Ruang Publik

Istilah al-fuhsyu wa at-tafahusy merujuk pada segala sesuatu yang melampaui batas, baik dalam tindakan maupun ucapan yang kotor dan menyakitkan. ‘Awadh bin ‘Ali dalam naskah yang diterjemahkan oleh Muh. Khairuddin Rendusara menekankan bahwa di akhir zaman, kata-kata kasar tidak lagi dianggap sebagai aib. Secara sosiologis, kita melihat hal ini dalam budaya internet, di mana perundungan dan makian menjadi konsumsi harian yang seolah-olah kehilangan beban moralnya.

Ketika lisan tidak lagi memiliki filter kesantunan, maka interaksi antarmanusia berubah menjadi medan konflik yang laten. Banalitas perkataan keji ini menjadi pengantar bagi keretakan hubungan yang lebih luas, yakni pemutusan silaturahmi.

Fenomena qathi’atur rahim atau pemutusan hubungan kekerabatan kini mewujud dalam bentuk yang sangat halus. Kesibukan duniawi dan pragmatisme seringkali membuat hubungan darah menjadi sekadar formalitas di momen tertentu. Saudara tak lagi saling mengenal, dan kerabat dianggap sebagai beban ekonomi. Inilah yang oleh para sosiolog disebut sebagai atomisasi sosial, di mana individu merasa bisa berdiri sendiri tanpa memerlukan jaringan pendukung tradisional bernama keluarga.

Puncaknya adalah su’ul mujawarah atau buruknya hubungan bertetangga. Di kawasan urban, fenomena ini telah mencapai titik yang sangat ekstrem. Banyak orang yang tinggal berdampingan selama bertahun-tahun tanpa saling mengenal nama, apalagi peduli terhadap kesulitan masing-masing. Pagar-pagar tinggi bukan hanya dibangun dari beton, melainkan dari sikap acuh tak acuh yang kronis.

Secara analitis, matinya hubungan bertetangga mencerminkan matinya rasa aman. Ketika tetangga bukan lagi orang pertama yang dimintai tolong, melainkan orang yang paling dicurigai, maka kontrak sosial alami manusia sebenarnya telah runtuh. Kiamat kecil hadir melalui isolasi sosial yang diciptakan oleh ego manusia itu sendiri.

Menuju Titik Nadir Peradaban

Kajian dalam IslamHouse tahun 2009 ini mengajak kita melakukan otopsi terhadap kehidupan harian. Apakah kita sedang berada di masa di mana urusan besar tentang kemanusiaan justru dikubur oleh kebencian dalam lisan dan kerenggangan dalam hubungan? Jika demikian, maka narasi eskatologis ini menjadi sangat relevan.

Kiamat sedang mendekat melalui jari-jari yang ringan mengetik makian, melalui pesan yang tak terbalas kepada orang tua, dan melalui pintu rumah yang tertutup rapat dari sapaan tetangga. Amanat untuk menjaga harmoni sosial telah ditukar dengan kebanggaan palsu atas kemandirian yang semu. Akhir zaman adalah saat di mana manusia merasa sangat dekat dengan dunia, namun sangat jauh dari manusia lainnya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 10 Februari 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
12:10
Ashar
15:26
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan