Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 10 Februari 2026
home masjid detail berita

Tanda-Tanda Kiamat: Orang Tua Bergaya Anak Muda

miftah yusufpati Selasa, 03 Februari 2026 - 16:03 WIB
Tanda-Tanda Kiamat: Orang Tua Bergaya Anak Muda
Narasi eskatologis ini mengajak kita melakukan otopsi terhadap budaya kecantikan hari ini. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dunia hari ini seolah sedang merayakan pemujaan berlebihan terhadap kemudaan. Di bawah dikte industri kecantikan dan tekanan media sosial, proses penuaan dianggap sebagai musuh yang harus diperangi habis-habisan. Uban yang seharusnya menjadi tanda kebijakan justru dipandang sebagai aib estetik yang harus ditutupi.

Namun, di balik upaya menyangkal usia tersebut, literatur eskatologi Islam menyimpan catatan peringatan yang sangat spesifik. Fenomena orang tua yang memaksakan diri bergaya layaknya anak muda, terutama melalui perubahan fisik yang manipulatif, dipandang sebagai bentuk disorientasi jiwa di ujung zaman.

‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam buku Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyebutkan, fenomena ini diulas bukan sekadar sebagai masalah pilihan gaya hidup atau perawatan diri.

Naskah yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah ini membedah bagaimana upaya manusia untuk mengakali tanda-tanda alamiah pada tubuhnya mencerminkan pengikisan rasa syukur dan kesiapan menghadapi hari esok yang abadi.

Landasan nubuat ini bersumber dari riwayat Imam Ahmad, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan gambaran yang tajam mengenai perilaku sosiologis di masa depan:

يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِى آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ ، لاَ يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

Artinya: Akan ada di akhir zaman satu kaum yang menyemir rambut mereka dengan warna hitam bagaikan dada burung merpati, mereka tidak akan pernah mencium harumnya surga.

Simbolisme Dada Merpati dan Keangkuhan Usia

Istilah menyemir rambut dengan warna hitam bagaikan dada burung merpati merujuk pada upaya untuk terlihat tetap muda secara ekstrem dan tidak natural. ‘Awadh bin ‘Ali dalam naskah yang diterjemahkan oleh Muh. Khairuddin Rendusara menekankan bahwa persoalan utamanya bukan terletak pada teknis pewarnaan rambut, melainkan pada motif penipuan terhadap diri sendiri dan orang lain (at-tazwir).

Secara sosiologis, fenomena ini mencerminkan apa yang disebut sebagai krisis paruh baya yang bersifat massal. Orang-orang tua tidak lagi menjadi mercusuar kebijaksanaan atau simbol ketenangan. Mereka justru terjebak dalam kompetisi citra yang sama dengan generasi muda. Ketika orang tua kehilangan kewibawaan karena terlalu sibuk memoles lahiriah agar tetap terlihat remaja, terjadilah kekosongan keteladanan dalam tatanan masyarakat.

Secara analitis, ancaman tidak mencium harumnya surga menunjukkan betapa seriusnya dampak dari perilaku ini terhadap integritas iman. Keinginan untuk menyembunyikan realitas penuaan sering kali berhulu pada kecintaan berlebihan terhadap dunia (hubbud dunya) dan ketidaksiapan mental untuk menyambut kematian. Kiamat kecil hadir melalui pudarnya garis batas antara generasi yang seharusnya membimbing dan generasi yang sedang mencari arah.

Dalam perspektif keilmuan Islam, uban sering disebut sebagai nur atau cahaya bagi seorang mukmin. Namun, di era pasca-modern, cahaya itu dianggap sebagai beban. ‘Awadh bin ‘Ali dalam catatan IslamHouse tahun 2009 ini mengingatkan bahwa kiamat sedang mendekat ketika manusia lebih sibuk menghitung jumlah kerutan di wajah daripada menghitung amal perbuatan.

Obsesi untuk tetap muda ini beriringan dengan perilaku-perilaku kekanak-kanakan yang diadopsi oleh mereka yang sudah berusia lanjut. Pakaian yang tidak sesuai umur, bahasa yang dipaksakan, hingga hobi yang mengabaikan tanggung jawab keluarga menjadi potret nyata dari masyarakat yang menolak tua. Akibatnya, hubungan antar-generasi menjadi kacau karena tidak ada lagi sosok yang mampu memberikan nasehat dengan wibawa uban yang jujur.

Narasi eskatologis ini mengajak kita melakukan otopsi terhadap budaya kecantikan hari ini. Apakah kita sedang berada di masa di mana kejujuran terhadap alam dianggap sebagai kekalahan? Jika semir hitam telah menjadi kedok bagi jiwa yang ketakutan akan hari pertemuan dengan Tuhannya, maka peringatan ini menjadi sangat relevan.

Kiamat sedang mendekat melalui cermin-cermin yang menipu, melalui botox dan pewarna yang menyembunyikan hikmah penuaan, dan melalui hilangnya rasa malu pada mereka yang seharusnya telah matang oleh pengalaman. Akhir zaman adalah saat di mana senja dipaksa menjadi pagi, dan manusia lupa bahwa setiap helai putih di kepala adalah utusan yang mengingatkan bahwa waktu untuk pulang kian dekat.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 10 Februari 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
12:10
Ashar
15:26
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan