Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 April 2026
home masjid detail berita

Ibrahim dari Gua: Jawara Tauhid di Negeri Seribu Berhala

miftah yusufpati Selasa, 22 Juli 2025 - 05:15 WIB
Ibrahim dari Gua: Jawara Tauhid di Negeri Seribu Berhala
Ibrahim bukan hanya anak gua yang melawan takdir kekuasaan, tetapi juga pelopor keberanian untuk mempertanyakan segala sesuatu yang di luar akal sehat. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di antara dua sungai besar yang jadi nadi peradaban dunia—Tigris dan Efrat—berdiri Babilon. Negeri yang dalam riwayat Yunani kuno disebut sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Temboknya tebal, istananya menjulang, taman-taman gantungnya termasyhur hingga kini. Tapi di balik batu bata lumpur yang kini hanya jadi tumpukan debu, di situlah seorang bocah lahir. Dari seorang ibu yang menyembunyikannya di gua, untuk melindunginya dari algojo Namrud. Bocah itu bernama Ibrahim.

Ia lahir di zaman ketika manusia menggantungkan sembah sujud pada bintang-bintang di langit, pada patung-patung buatan tangan sendiri, bahkan pada sesama manusia. Dan di tengah kegelapan itu, dengan sabar dan tabah, ia belajar membaca tanda-tanda semesta.

Ja’far Subhani dalam buku "Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW" menerangkan kisah tentang Ibrahim menyisakan ironi. Lahir di Babilon yang agung, tapi justru menolak keagungan palsu itu. Tumbuh di bawah bayang-bayang raja yang menyebut dirinya tuhan, tetapi kelak menjadi orang pertama yang menantangnya. Namrud, sang penguasa, bukan hanya memaksa rakyat menyembah patung, tetapi juga memaksa mereka percaya bahwa ia sendiri dewa.

Konon, ketakutan Namrud berawal dari bisikan para astrolog: tahtanya akan runtuh oleh seorang bayi yang lahir di kerajaannya. Maka dimulailah pembantaian bayi laki-laki dan pemisahan paksa lelaki-perempuan. Namun, takdir punya jalannya sendiri. Ibrahim lahir diam-diam, disembunyikan di sebuah gua, dan tumbuh selama 13 tahun jauh dari pandangan penguasa.

Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim: Lembah Tujuh Tempat Kambing Membawa Air Kembali

Ketika akhirnya ia keluar, Ibrahim sudah belajar dari langit. Ia lihat bintang paling terang lalu berkata, “Inilah Tuhanku.” Tapi ketika bintang itu tenggelam, ia tinggalkan. Ia lihat bulan, lalu matahari, lalu berkata: semua itu hanya makhluk. Tuhan yang sejati tak pernah lenyap.

Keyakinannya membuat ia tampil di hadapan rakyat Babilon. Ia ajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengguncang logika mereka: kenapa menyembah patung yang kalian buat sendiri? Kenapa menunduk pada manusia yang sama rapuhnya dengan kalian? Ia bahkan pernah diam-diam menghancurkan berhala-berhala di kuil, lalu meninggalkan palunya di leher patung terbesar. Ketika rakyat marah, ia hanya menjawab ringan: “Tanyakan saja pada berhala besar itu. Bukankah kalian bilang ia bisa berbicara?”

Hari ini, Babilon hanyalah tumpukan lempung di gurun Irak. Tak ada lagi kemegahan tembok atau riuh festival penyembahan. Yang tersisa justru hikmah dari seorang bocah yang dulu bersembunyi di gua.

Nabi Ibrahim, jawara tauhid, mengajarkan bahwa akal manusia tidak boleh dikalahkan oleh takhayul, dan kebenaran tidak tunduk pada kekuasaan siapa pun. Bahwa berhala terbesar kadang bukan sekadar patung di altar, tetapi juga rasa takut kita sendiri untuk melawan kezaliman.

Baca juga: Api, Kapak, dan Kekasih Tuhan: Tafsir Pembakaran Nabi Ibrahim pada 10 Muharram

Di tengah masyarakat yang mabuk kemewahan, mengagungkan bintang-bintang, dan mudah terlena oleh pesona kekuasaan, kisah Ibrahim terasa seperti tamparan. Sabar, tenang, tapi pasti.

Ibrahim bukan hanya anak gua yang melawan takdir kekuasaan, tetapi juga pelopor keberanian untuk mempertanyakan segala sesuatu yang di luar akal sehat. Dari gua sempit ia keluar, lalu mengguncang kerajaan seluas dunia.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)