LANGIT7.ID-Dalam sejarah panjang pencarian Tuhan, nama Ibrahim Alaihissalam muncul bukan sekadar sebagai nabi, melainkan sebagai sebuah institusi nilai. Ia adalah antitesis dari segala bentuk penghambaan kepada materi. Al-Quran tidak hanya menyebutnya sebagai sosok yang saleh, namun menyematkan gelar ummah atau imam bagi orang-orang yang mentauhidkan Allah secara murni. Kedudukan ini merupakan konsekuensi logis dari sebuah perjalanan spiritual yang berdarah-darah, menembus kabut kesyirikan yang menyelimuti kaumnya.
Identitas Ibrahim sering kali menjadi rebutan klaim berbagai golongan. Namun, Allah Azza wa Jalla menutup pintu perdebatan itu melalui surah Ali Imran ayat 67:
مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَIbrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri kepada Allah dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. (QS. Ali Imran: 3:67).
Ayat ini memberikan penegasan interpretatif bahwa esensi Ibrahim adalah al-hanifiyyah, yakni kelurusan iman yang tidak terkontaminasi oleh kepentingan kelompok atau distorsi sejarah. Ia adalah seorang muslim dalam makna yang paling fundamental: berserah diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Penobatan Ibrahim sebagai imam manusia bukanlah sebuah hadiah cuma-cuma, melainkan hasil dari serangkaian ujian (
ibtila) yang ia tuntaskan tanpa celah. Dalam surah Al-Baqarah ayat 124, Allah mengisahkan bagaimana Ibrahim diuji dengan berbagai kalimat perintah dan larangan, dan ia menunaikannya (fa atammahunna). Ketuntasan Ibrahim dalam menjalankan misi ilahiah inilah yang membuatnya layak memimpin silsilah umat yang bertauhid.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam kitab
Taisir al-Karim al-Rahman menjelaskan bahwa kedudukan imamah (kepemimpinan) yang diraih Ibrahim adalah buah dari kesabaran dan keyakinan yang kokoh. Ibrahim adalah "umat" dalam satu raga, karena ia memiliki kualitas kebaikan yang biasanya tersebar pada sekumpulan orang. Ia adalah qanitan lillahi, sosok yang senantiasa patuh dan berdiri tegak di atas prinsip kebenaran meski harus berdiri sendirian di tengah mayoritas pemuja patung.
Keberanian Ibrahim mencapai puncaknya ketika ia melakukan aksi dekonstruksi terhadap simbol-simbol kesyirikan. Ia tidak hanya berteori, namun turun tangan langsung menghancurkan berhala-berhala kaumnya. Al-Quran merekam sumpah heroiknya dalam surah Al-Anbiya ayat 57, di mana ia berjanji akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala tersebut.
Strategi Ibrahim menghancurkan semua berhala dan menyisakan yang terbesar adalah sebuah tamparan logika yang sangat keras. Ketika kaumnya bertanya siapa yang melakukan perusakan tersebut, Ibrahim memancing akal sehat mereka untuk bertanya kepada patung yang masih utuh. Saat kaumnya terpojok karena tahu patung tak bisa bicara, Ibrahim melontarkan kritik tajam yang diabadikan dalam surah Al-Anbiya ayat 66-67:
أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَAh (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? (QS. Al-Anbiya: 21:67).
Kata "uff" dalam bahasa Arab merupakan ekspresi kekesalan yang mendalam terhadap ketidalarasan logika kaumnya. Bagi Ibrahim, menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat maupun mudarat adalah bentuk degradasi martabat manusia yang paling rendah. Ibrahim merubuhkan berhala kayu dan batu untuk merubuhkan berhala pikiran yang telah membelenggu fitrah kemanusiaan.
Sayyid Qutb dalam
Fi Zhilalil Quran menafsirkan bahwa perjuangan Ibrahim adalah perjuangan abadi antara tauhid yang jernih melawan mitos dan takhayul. Ibrahim mengajarkan bahwa iman membutuhkan keberanian untuk memutus tradisi yang batil, bahkan jika harus berseberangan dengan keluarga dan penguasa. Imamah Ibrahim adalah kepemimpinan ideologis yang menyerukan kemerdekaan jiwa manusia dari segala jenis tuan selain Allah.
Warisan Ibrahim adalah warisan tauhid yang lurus. Ia tetap menjadi imam karena ajarannya melampaui batas etnis dan geografi. Meneladani Ibrahim berarti meneladani keteguhan hati dalam memegang prinsip, ketajaman akal dalam berargumen, dan totalitas dalam menghambakan diri hanya kepada Allah Azza wa Jalla.
(mif)