LANGIT7.ID-Metodologi sains modern yang bertumpu pada positivisme logis sering kali menerapkan standar pembuktian yang tidak proporsional dalam domain teologi. Komunitas ilmiah sekuler cenderung menolak eksistensi Pencipta dengan dalih bahwa zat-Nya tidak dapat diindra, tidak dapat diukur di dalam laboratorium, serta tidak dapat dijangkau oleh perangkat kognitif manusia.
Pendekatan ini memproduksi sebuah keangkuhan intelektual yang mengondisikan manusia untuk menolak percaya pada kebenaran transendental sebelum mereka mampu menyingkap dan mengetahui zat-Nya secara material.
Padahal, dalam operasional sains praktis sehari-hari, para ilmuwan secara reguler menerima dan memvalidasi keberadaan berbagai entitas fisik hanya berdasarkan pengamatan terhadap efek atau bekas yang ditimbulkannya, tanpa pernah melihat bentuk fisik zatnya secara langsung.
Paradoks validasi ini menjadi basis kritik yang sangat tajam di dalam struktur pemikiran Islam. Fenomena ini dianalisis secara mendalam dalam buku
Sejarah Hidup Muhammad. Buku teks historiografi standar yang memiliki bobot akademis tinggi ini ditulis oleh sejarawan terkemuka asal Mesir, Dr. Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya.
Melalui cetakan kelima yang dirilis pada tahun 1980, Haekal menyajikan analogi fisika yang sangat relevan: hingga detik ini manusia tidak pernah mampu menangkap atau melihat dengan mata kepala sendiri mengenai apa sebenarnya zat listrik itu. Manusia hanya menyaksikan bekas, dampak, dan manifestasi kinetiknya berupa cahaya lampu atau pergerakan motor mekanis.
Hal yang sama berlaku pada konsep gelombang mikro atau medium eter di ruang hampa. Meskipun zatnya tidak kasat mata, para insinyur telekomunikasi telah menentukan secara matematis bahwa gelombang tersebut bekerja memindahkan data suara serta gambar melintasi jarak ribuan kilometer.
Pengaruh, dampak sektoral, dan bekas yang ditinggalkan oleh fenomena-fenomena fisik tersebut dinilai sudah lebih dari cukup bagi rasio manusia untuk memercayai adanya listrik dan eter.
Atas dasar logika linear yang sama, menjadi sebuah bentuk keangkuhan psikologis yang luar biasa besar jika manusia setiap hari menyaksikan keindahan geometri alam, keteraturan kosmos, serta kebesaran sistem ekologi yang diciptakan Tuhan, namun mereka tetap menolak untuk beriman sebelum berhasil mengetahui zat-Nya.
Daulat Nisbi ManusiaTuhan dalam doktrin Islam berada pada posisi Yang Maha Transenden (mukhalafatu lil hawaditsi), jauh di luar jangkauan visual maupun imajinasi sosiologis yang dapat dilukiskan oleh makhluk.
Kenyataan empiris dalam sejarah pemikiran menunjukkan bahwa kelompok-kelompok yang memaksakan diri untuk menggambarkan zat Tuhan Yang Maha Suci sebenarnya adalah individu-individu yang kapasitas persepsinya telah mengalami kelumpuhan di tingkat operasional.
Mereka tidak lagi mampu menaikkan kapasitas intelektualnya untuk menjangkau hakikat yang berada di atas kehidupan insan. Akibatnya, mereka terjebak dalam error of logic dengan mencoba mengukur volume alam semesta serta kapasitas Pencipta alam menggunakan parameter manusia yang bersifat nisbi, subjektif, dan sangat terbatas di dalam batas-batas akumulasi ilmu pengetahuan yang hanya sedikit.
Sebaliknya, kelompok manusia yang telah mencapai derajat keilmuan yang matang dan tercerahkan secara intelektual akan selalu menyadari limitasi kognitif mereka. Ketika berhadapan dengan misteri kehidupan, para ilmuwan teosentris ini akan selalu teringat pada teks primer Al-Quran yang meletakkan batas demarkasi hukum yang tegas antara wilayah pencarian rasio dan wilayah rahasia ilahi.
Di dalam Surah Al-Isra (17) ayat 85, Allah Tala menegaskan batas tersebut secara absolut:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًاWayas'aluunaka 'anir-ruuh, qulir-ruuhu min amri rabbii wa maa uutiitum minal-'ilmi illaa qaliilaa.Artinya: "
Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Jawablah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku. Dan tidaklah kamu diberikan pengetahuan melainkan sedikit sekali."
Haekal memaparkan bahwa bagi manusia yang memiliki kejujuran intelektual, kalbu dan rasio mereka otomatis akan dipenuhi oleh iman kepada Pencipta Ruh dan Pencipta semesta alam setelah membaca data keterbatasan tersebut.
Mereka menyadari bahwa melakukan penetrasi pemikiran ke dalam zatiah Tuhan adalah sebuah kesia-siaan metodologis. Oleh karena itu, mereka memilih untuk tidak menjerumuskan diri ke dalam perdebatan spekulatif yang kosong, yang tidak akan memberikan hasil konklusif, tidak mencapai ujung kebenaran, serta hanya menghabiskan energi pembangunan peradaban.
Dekonstruksi MaterialismePandangan Haekal mengenai keangkuhan rasio modern yang menuntut pembuktian zatiah ini mendapatkan konfirmasi dan perluasan akademis dari para pemikir Islam dunia terkemuka.
Filsuf sains asal Iran, Prof. Dr. Mehdi Golshani, dalam bukunya
The Holy Qur'an and the Sciences of Nature (1986), menjelaskan bahwa krisis terbesar sains Barat sekuler adalah bias materialisme yang mengasumsikan bahwa realitas hanyalah apa yang bisa diukur oleh alat indra (positivisme kasar).
Golshani memberikan argumen bahwa sains modern sebenarnya berdiri di atas sekumpulan asumsi metafisika yang tidak bisa dibuktikan secara eksperimental, seperti asumsi bahwa alam ini teratur dan dapat dipahami.
Oleh karena itu, menolak keberadaan Pencipta hanya karena zat-Nya tidak dapat diindra adalah sebuah kecacatan epistemologis, sebab sains sendiri pun selalu menggunakan pembuktian berbasis efek (inference to the best explanation) dalam merumuskan teori-teori fisika kuantum modern.
Di sisi lain, cendekiawan Muslim internasional Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam bukunya
Prolegomena to the Metaphysics of Islam (1995), menegaskan bahwa konsep keangkuhan manusia dalam menuntut melihat zat Tuhan adalah akibat dari hilangnya adab intelektual.
Al-Attas menjelaskan bahwa akal manusia diciptakan dengan kapasitas untuk mengetahui keberadaan (existence) Tuhan melalui tanda-tanda-Nya di alam semesta (ayat), bukan untuk meliputi esensi (essence) zat Tuhan.
Memaksa akal untuk melintasi batas ketakterbatasan zatiah ilahi hanya akan melahirkan kejenuhan mental yang berujung pada ateisme atau nihilisme eksistensial.
Islam datang untuk mengarahkan akal agar fokus pada pengelolaan alam semesta berdasarkan hukum-hukum moral ketuhanan, bukan terjebak dalam labirin spekulasi teologis yang merusak.
Reorientasi DigitalDi ruang publik digital, perang pemikiran antara keangkuhan agnosisisme dan iman intelektual terus mengemuka secara intensif. Dalam sebuah rekaman kuliah umum yang disiarkan oleh platform YouTube melalui kanal resmi Yaqeen Institute for Islamic Research (2025), Dr. Omar Suleiman mengulas tentang fenomena psikologis di balik ateisme baru (New Atheism).
Suleiman memaparkan data sosiologis yang menunjukkan bahwa penolakan generasi muda Barat terhadap Tuhan sering kali bukan didasarkan pada argumen ilmiah yang valid, melainkan pada keangkuhan psikologis yang menuntut agar Tuhan tunduk pada skenario dan kemauan manusia.
Suleiman menggunakan analogi Haekal mengenai listrik dan angin untuk menyadarkan audiens digital bahwa dalam kehidupan nyata, manusia secara konsisten memercayai hal-hal gaib yang memiliki dampak nyata. Menolak Tuhan tetapi memercayai konsep matematika abstrak atau gravitasi tanpa bentuk adalah sebuah standar ganda intelektual yang akut.
Lebih jauh, dalam sebuah diskusi panel virtual yang diselenggarakan oleh Center for Islam and Science (2024), Prof. Dr. Muzaffar Iqbal menegaskan bahwa integrasi antara pengamatan makrokosmos dan kesadaran akan keterbatasan rasio adalah kunci utama untuk membongkar keangkuhan positivisme Barat.
Iqbal menyatakan bahwa Al-Quran menggunakan pendekatan empiris-induktif untuk meruntuhkan kesombongan berpikir manusia. Dengan menyajikan fakta mengenai keteraturan orbit bintang, keindahan struktur biologis tumbuhan, hingga misteri penciptaan ruh yang tidak dapat dipecahkan oleh neurosains modern, Al-Quran memaksa rasio manusia untuk bertekuk lutut mengakui batas kemampuannya.
Keimanan di dalam Islam dengan demikian tidak lahir dari ketidaktahuan (ignorance), melainkan dari puncak pengetahuan tertinggi yang menyadari secara jujur di mana batas akhir dari kemampuan akal manusia.
Melalui tanggapan kebudayaan yang meletakkan rasio pada porsi yang tepat—sebagai pengamat efek kosmis dan bukan sebagai pengukur zat ketuhanan—Islam berhasil menyediakan sistem penawar bagi krisis eksistensial dunia modern.
Keimanan intelektual yang kokoh menuntut manusia untuk menghentikan spekulasi teologis yang merusak dan mengalihkan energi intelektual mereka untuk mengeksplorasi sains alam demi kemaslahatan publik, sekaligus memelihara rasa takjub dan syukur yang konstan di hadapan keindahan dan kebesaran yang setiap hari digelar oleh Sang Pencipta di atas panggung semesta.
(mif)