LANGIT7.ID- Dalam konstelasi pemikiran Islam, konsep al-wala’ (loyalitas) dan al-bara’ (berlepas diri) bukanlah sekadar terminologi teologis yang kering. Ia adalah roh yang menggerakkan integritas seorang mukmin dalam memilah mana yang harus dicintai karena Allah dan mana yang harus dijauhi demi menjaga kesucian iman. Di titik inilah, sejarah menoleh kepada sosok Ibrahim Alaihissalam sebagai prototipe manusia yang paling tuntas dalam mempraktikkan dialektika tersebut. Ibrahim bukan hanya seorang nabi, ia adalah monumen hidup tentang bagaimana seorang hamba berdiri teguh di atas prinsip, bahkan ketika harus berhadapan dengan kaum dan keluarga sedarahnya sendiri.
Allah Azza wa Jalla secara eksplisit memerintahkan umat Islam untuk menjadikan Ibrahim sebagai uswah hasanah atau suri teladan yang baik dalam hal ini. Hal tersebut terekam dengan sangat jernih dalam surah Al-Mumtahanah ayat 4:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِSesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah." (QS. Al-Mumtahanah: 4).
Interpretasi atas ayat ini menyuguhkan sebuah sikap yang tanpa kompromi. Ibrahim secara deklaratif menyatakan pemutusan hubungan secara akidah terhadap kesyirikan yang dilakukan kaumnya. Frasa "
inna bura’au minkum" bukan sekadar benci secara personal, melainkan sebuah pernyataan ideologis bahwa kebenaran tidak bisa dicampuradukkan dengan kebatilan. Ibrahim mengajarkan bahwa loyalitas tertinggi hanya diberikan kepada Allah, dan segala bentuk penyembahan selain-Nya harus diingkari (kafar-na bikum).
Namun, ada sebuah noktah yang sering kali menjadi perdebatan: permohonan ampun Ibrahim untuk ayahnya, Azar. Al-Quran memberikan catatan khusus dalam surah Al-Mumtahanah tersebut, kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu." Di sinilah letak ketajaman tafsir para ulama dunia. Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di dalam Taisir al-Karim al-Rahman memberikan peringatan keras agar umat tidak salah dalam mencontoh bagian ini.
Menurut As-Sa’di, umat Islam tidak boleh memohonkan ampun bagi orang musyrik dengan dalih mengikuti sunah Ibrahim. Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan uzur atau alasan di balik tindakan Ibrahim tersebut melalui surah At-Taubah ayat 114. Permohonan ampun itu hanyalah pemenuhan janji Ibrahim di masa lalu. Namun, saat Ibrahim menyadari sepenuhnya bahwa ayahnya adalah musuh Allah yang tetap bersikukuh dalam kesyirikan, maka Ibrahim pun berlepas diri (tabarra’a minhu).
فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌMaka, tatkala tampak jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (QS. At-Taubah: 9:114).
Sikap ini menunjukkan bahwa prinsip al-bara’ atau berlepas diri bagi Ibrahim bersifat final ketika hujah telah tegak dan kebatilan telah jelas. As-Sa’di menekankan bahwa Ibrahim adalah sosok yang awwah (sangat lembut hatinya) dan halim (penyantun), namun kelembutan hati itu tidak melunturkan ketegasan akidahnya. Ia tidak mengorbankan prinsip tauhid demi sentimen kekeluargaan.
Ulama dunia lainnya, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam
Al-Iqtidha, menjelaskan bahwa al-wala’ wal bara’ adalah tali iman yang paling kuat. Tanpa pemisahan yang jelas antara apa yang dicintai Allah dan apa yang dibenci-Nya, maka iman akan menjadi cair dan kehilangan bentuknya. Ibrahim memberikan contoh bahwa berlepas diri tidak berarti melakukan kekerasan fisik tanpa sebab, melainkan ketegasan dalam sikap batin dan penolakan terhadap ritual-ritual kesyirikan.
Pesan interpretatif dari pribadi Ibrahim adalah bahwa integritas iman menuntut kejujuran. Ibrahim berani menyatakan permusuhan dan kebencian terhadap kesyirikan selama kaumnya tidak beriman kepada Allah yang Esa. Ini adalah sebuah sikap radikal dalam makna positif; kembali ke akar (radix) tauhid yang paling murni. Ibrahim mengajarkan bahwa cinta kepada Allah haruslah menjadi filter utama dalam membangun relasi sosial.
Di era modern yang serba relatif ini, meneladani Ibrahim berarti memiliki kompas moral yang jelas. Menjadi muslim yang santun seperti Ibrahim (halim) namun memiliki garis batas yang tegas dalam masalah akidah. Ibrahim tetap menjadi imam bagi orang-orang yang bertauhid karena ia berhasil menuntaskan ujian loyalitas yang paling berat: memilih antara rida pencipta atau kenyamanan bersama keluarga dan lingkungan yang menyimpang.
(mif)