LANGIT7.ID-Sejarah agama-agama samawi tidak pernah bisa dilepaskan dari satu sosok sentral yang menjadi poros ketauhidan: Ibrahim Alaihissalam. Bagi para penganut monoteisme, Ibrahim bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan prototipe manusia yang telah tuntas dengan egonya. Ia adalah representasi dari kalimat aslamtu (aku berserah diri) yang dilakukan bukan dalam ruang hampa, melainkan di tengah ujian-ujian yang secara logika kemanusiaan terasa mustahil untuk dijalani. Ketundukan Ibrahim kepada Allah Azza wa Jalla adalah sebuah narasi tentang cinta yang telah mencapai titik nadir, di mana perintah Kekasih Tertinggi jauh melampaui kecintaan terhadap diri sendiri maupun keluarga.
Salah satu fragmen paling getir sekaligus indah dalam perjalanan ketundukannya adalah saat ia diperintahkan membawa istrinya, Hajar, dan putranya yang masih bayi, Ismail, ke sebuah lembah gersang di dekat Baitullah al-Haram. Lembah itu tidak berpenghuni, tanpa sehelai pun tumbuhan, dan jauh dari sumber air. Secara rasional, meninggalkan anak istri di tempat seperti itu identik dengan menjemput maut. Namun, Ibrahim tetap melangkah. Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri dalam
Ringkasan Fiqih Islam (2012) menggambarkan betapa minimnya perbekalan yang ditinggalkan saat itu.
Dialog yang menyertai kepergian Ibrahim menjadi kunci interpretatif bagi kualitas iman keluarga ini. Ketika Hajar mengejar dan bertanya, "Apakah Allah Azza wa Jalla yang menyuruhmu melakukan ini?", Ibrahim menjawab dengan satu kata yang mantap: "Ya." Jawaban itu cukup bagi Hajar untuk kemudian berkata, "Kalau begitu, Allah Azza wa Jalla tidak menyia-nyiakan kita." Di sini, ketundukan Ibrahim bersambut dengan ketawakalan Hajar. Ibrahim mengajarkan bahwa kepatuhan kepada perintah Ilahi, meski terlihat pahit, merupakan jaminan keamanan yang paling hakiki karena Allah adalah sebaik-baik penjaga.
Ujian ketundukan Ibrahim mencapai puncaknya saat ia diperintahkan untuk menyembelih Ismail, anak semata wayang yang kehadirannya telah dinantikan selama puluhan tahun. Perintah itu datang justru saat Ismail telah mencapai usia sanggup bekerja (
sa'ya), sebuah masa di mana ikatan emosional antara ayah dan anak sedang kuat-kuatnya. Namun, Ibrahim tidak berdiskusi dengan logika atau perasaan pribadinya. Ia menyampaikan perintah itu kepada Ismail bukan untuk meminta izin, melainkan untuk melihat kesiapan sang anak dalam menunaikan takdir Ilahi.
Dalam surah Ash-Shaffaat ayat 102-111, Allah mengabadikan momen dramatis tersebut. Ismail menjawab dengan keteguhan yang sama:
يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَHai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS. Ash-Shaffaat: 102).
Ketika keduanya telah berserah diri (aslama) dan Ibrahim membaringkan Ismail di atas pelipisnya, terjadilah sebuah manifestasi ketaatan yang sempurna. Ibrahim telah membenarkan mimpi itu dalam perbuatan nyata. Sebagai balasannya, Allah menebus Ismail dengan seekor sembelihan yang besar. Peristiwa ini bukan sekadar tentang ritual kurban, melainkan tentang bagaimana Ibrahim berhasil menyembelih kecintaan yang berlebihan kepada makhluk di dalam hatinya, sehingga yang tersisa hanyalah cinta kepada Allah.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam
Taisir al-Karim al-Rahman menjelaskan bahwa ujian ini adalah balai latihan bagi para nabi untuk mencapai derajat khulullah (kekasih Allah). Seorang kekasih tidak boleh memiliki ruang di hatinya untuk selain Sang Kekasih. Ibrahim membuktikan bahwa imannya tidak goyah oleh tajamnya pedang maupun air mata seorang ayah. Ketundukan ini kemudian diabadikan sebagai pujian yang baik di kalangan orang-orang setelahnya hingga akhir zaman.
Interpretasi dari kisah Ibrahim membawa pesan kuat bagi manusia modern: bahwa kepatuhan kepada Tuhan sering kali menuntut pengorbanan hal-hal yang paling kita cintai secara duniawi. Namun, di balik setiap perintah yang terasa berat, selalu ada tebusan yang jauh lebih besar dan pujian yang kekal. Ibrahim adalah cermin bagi setiap mukmin bahwa ketundukan adalah jalan menuju kesejahteraan dan keselamatan yang sejati.
(mif)