LANGIT7.ID- Islam sejak lahir membawa konsep tatanan sosial berporos pada
tauhid, hukum ilahi, dan keadilan. Di sisi lain, komunisme yang lahir dari rahim materialisme historis Karl Marx menawarkan dunia tanpa kelas, penghapusan kepemilikan pribadi, dan penolakan total terhadap keberadaan Tuhan.
Philip Hitti dalam
History of the Arabs (2002) menyebut bahwa dua kutub ini langsung berseberangan. Islam mengakui kepemilikan individu, tapi memberi batas melalui zakat dan larangan riba. Komunisme menolak konsep kepemilikan sama sekali.
Sosiolog Iran, Ali Syariati, dalam
On the Sociology of Islam (1980) menegaskan bahwa Islam dan komunisme sama-sama berpihak kepada mustadh’afin atau kaum tertindas. Namun, titik pijaknya berbeda. Komunisme memandang sejarah sebagai pertarungan kelas tanpa ruang bagi iman. Islam justru menempatkan iman sebagai poros. “Dalam Islam, pembebasan manusia tidak bisa dipisahkan dari pembebasan akidah,” tulis Syariati.
Baca juga: Jejak Panjang Pertarungan Islam dan Komunisme: Sejarah, Ideologi, dan Dampaknya hingga Kini Rebutan Basis MassaHassan Hanafi dalam bukunya
Religion and Revolution (1980) menekankan, benturan ini bukan sekadar soal teologi, tetapi juga perebutan basis massa di lapangan politik. Abad ke-20 menjadi panggung utama. Uni Soviet menanamkan pengaruh komunisme di Asia Tengah, Iran, Afghanistan, hingga dunia Arab. Namun, ideologi ateis ini selalu dipandang sebagai ancaman terhadap struktur sosial dan spiritual masyarakat Muslim.
Nurcholish Madjid dalam
Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan (1992) menulis bahwa komunisme gagal berakar kuat di negeri-negeri Muslim karena mengabaikan dimensi religius yang vital dalam kehidupan manusia. “Komunisme menafikan aspek transendental, padahal itu fondasi moral umat Islam,” kata Cak Nur.
Meski begitu, Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam
Islamic Awakening Between Rejection and Extremism (1991) melihat ada persamaan visi: keduanya menentang ketimpangan dan eksploitasi. Itulah sebabnya, pada masa kolonial, aktivis kiri dan tokoh Islam kerap bersekutu melawan imperialisme Barat. Tetapi, aliansi itu hanya bertahan sementara. Begitu merdeka, mereka kembali berhadap-hadapan.
Baca juga: Mahfud MD: Paham Radikalisme dan Komunisme Tidak Dapat Berkuasa di Indonesia Perang Dingin dan Garis HijauJohn Esposito dalam
Islam and Politics (1991) mencatat, pasca-Perang Dunia II, dunia Islam menjadi arena perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Soviet mendukung partai-partai komunis Arab, sedangkan Amerika menggandeng kelompok Islam sebagai benteng antikomunisme. Dari sinilah lahir kebijakan “Green Belt” yang memberi ruang politik luas kepada kekuatan Islam untuk menahan laju komunisme global.
Afghanistan menjadi episentrum. Pada 1980-an, AS dan sekutunya menggelontorkan dana besar untuk memobilisasi mujahidin melawan invasi Soviet. Bagi Barat, ini strategi geopolitik. Namun, bagi umat Islam, ini jihad. Inilah titik ketika Islam bukan sekadar ideologi keagamaan, melainkan senjata strategis dalam Perang Dingin.
Indonesia: Dari Koalisi ke TragediHerbert Feith dan Lance Castles dalam
Indonesian Political Thinking 1945-1965 (1970) menyebut bahwa pertarungan ideologi di Indonesia mencapai puncaknya pada 1965. PKI, partai komunis terbesar di luar Blok Timur, berhadapan dengan kekuatan Islam politik. Dari aliansi di masa kolonial, mereka berubah menjadi musuh bebuyutan. Tragedi G30S adalah klimaksnya. “Konflik ideologi tidak pernah murni ideologis, melainkan sarat kepentingan kekuasaan,” tulis Feith.
Dampaknya panjang. Komunisme menjadi tabu, sementara Islam politik menemukan ruang baru, meski dengan pembatasan ketat oleh Orde Baru.
Baca juga: Kemunculan Neo-Komunisme Tak Bisa Dianggap Sepele, Tragedi 65 Jangan Terulang Kini, komunisme sebagai sistem politik runtuh bersama Uni Soviet. Namun, Francis Fukuyama dalam Identity (2018) mengingatkan: ide-ide kiri tidak sepenuhnya mati. Wacana tentang pemerataan ekonomi, perlawanan terhadap kapitalisme, dan keadilan sosial tetap hidup, bahkan menguat di tengah krisis global.
Sebaliknya, politik Islam justru bangkit. Dari
Ikhwanul Muslimin di Mesir hingga partai-partai berbasis syariah di Asia Selatan, Islam kembali menjadi kekuatan yang diperhitungkan. Pertanyaannya: apakah keduanya akan kembali berhadap-hadapan? Atau justru bertemu di persimpangan perjuangan melawan ketimpangan global?
Ali Syariati menutup analisisnya dengan kalimat tajam: “Komunisme berangkat dari tanah dan kembali ke tanah; Islam berangkat dari Tuhan dan kembali kepada-Nya.” Itulah garis batas yang, meskipun samar dalam isu sosial, tetap tak tergeser.
(mif)