Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 01 Mei 2026
home masjid detail berita

Dari Tauhid ke Materialisme: Pertarungan yang Tak Pernah Usai

miftah yusufpati Jum'at, 29 Agustus 2025 - 16:00 WIB
Dari Tauhid ke Materialisme: Pertarungan yang Tak Pernah Usai
Komunisme berangkat dari tanah dan kembali ke tanah Islam berangkat dari Tuhan dan kembali kepada-Nya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Islam sejak lahir membawa konsep tatanan sosial berporos pada tauhid, hukum ilahi, dan keadilan. Di sisi lain, komunisme yang lahir dari rahim materialisme historis Karl Marx menawarkan dunia tanpa kelas, penghapusan kepemilikan pribadi, dan penolakan total terhadap keberadaan Tuhan.

Philip Hitti dalam History of the Arabs (2002) menyebut bahwa dua kutub ini langsung berseberangan. Islam mengakui kepemilikan individu, tapi memberi batas melalui zakat dan larangan riba. Komunisme menolak konsep kepemilikan sama sekali.

Sosiolog Iran, Ali Syariati, dalam On the Sociology of Islam (1980) menegaskan bahwa Islam dan komunisme sama-sama berpihak kepada mustadh’afin atau kaum tertindas. Namun, titik pijaknya berbeda. Komunisme memandang sejarah sebagai pertarungan kelas tanpa ruang bagi iman. Islam justru menempatkan iman sebagai poros. “Dalam Islam, pembebasan manusia tidak bisa dipisahkan dari pembebasan akidah,” tulis Syariati.

Baca juga: Jejak Panjang Pertarungan Islam dan Komunisme: Sejarah, Ideologi, dan Dampaknya hingga Kini

Rebutan Basis Massa

Hassan Hanafi dalam bukunya Religion and Revolution (1980) menekankan, benturan ini bukan sekadar soal teologi, tetapi juga perebutan basis massa di lapangan politik. Abad ke-20 menjadi panggung utama. Uni Soviet menanamkan pengaruh komunisme di Asia Tengah, Iran, Afghanistan, hingga dunia Arab. Namun, ideologi ateis ini selalu dipandang sebagai ancaman terhadap struktur sosial dan spiritual masyarakat Muslim.

Nurcholish Madjid dalam Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan (1992) menulis bahwa komunisme gagal berakar kuat di negeri-negeri Muslim karena mengabaikan dimensi religius yang vital dalam kehidupan manusia. “Komunisme menafikan aspek transendental, padahal itu fondasi moral umat Islam,” kata Cak Nur.

Meski begitu, Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam Islamic Awakening Between Rejection and Extremism (1991) melihat ada persamaan visi: keduanya menentang ketimpangan dan eksploitasi. Itulah sebabnya, pada masa kolonial, aktivis kiri dan tokoh Islam kerap bersekutu melawan imperialisme Barat. Tetapi, aliansi itu hanya bertahan sementara. Begitu merdeka, mereka kembali berhadap-hadapan.

Baca juga: Mahfud MD: Paham Radikalisme dan Komunisme Tidak Dapat Berkuasa di Indonesia

Perang Dingin dan Garis Hijau

John Esposito dalam Islam and Politics (1991) mencatat, pasca-Perang Dunia II, dunia Islam menjadi arena perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Soviet mendukung partai-partai komunis Arab, sedangkan Amerika menggandeng kelompok Islam sebagai benteng antikomunisme. Dari sinilah lahir kebijakan “Green Belt” yang memberi ruang politik luas kepada kekuatan Islam untuk menahan laju komunisme global.

Afghanistan menjadi episentrum. Pada 1980-an, AS dan sekutunya menggelontorkan dana besar untuk memobilisasi mujahidin melawan invasi Soviet. Bagi Barat, ini strategi geopolitik. Namun, bagi umat Islam, ini jihad. Inilah titik ketika Islam bukan sekadar ideologi keagamaan, melainkan senjata strategis dalam Perang Dingin.

Indonesia: Dari Koalisi ke Tragedi

Herbert Feith dan Lance Castles dalam Indonesian Political Thinking 1945-1965 (1970) menyebut bahwa pertarungan ideologi di Indonesia mencapai puncaknya pada 1965. PKI, partai komunis terbesar di luar Blok Timur, berhadapan dengan kekuatan Islam politik. Dari aliansi di masa kolonial, mereka berubah menjadi musuh bebuyutan. Tragedi G30S adalah klimaksnya. “Konflik ideologi tidak pernah murni ideologis, melainkan sarat kepentingan kekuasaan,” tulis Feith.

Dampaknya panjang. Komunisme menjadi tabu, sementara Islam politik menemukan ruang baru, meski dengan pembatasan ketat oleh Orde Baru.

Baca juga: Kemunculan Neo-Komunisme Tak Bisa Dianggap Sepele, Tragedi 65 Jangan Terulang

Kini, komunisme sebagai sistem politik runtuh bersama Uni Soviet. Namun, Francis Fukuyama dalam Identity (2018) mengingatkan: ide-ide kiri tidak sepenuhnya mati. Wacana tentang pemerataan ekonomi, perlawanan terhadap kapitalisme, dan keadilan sosial tetap hidup, bahkan menguat di tengah krisis global.

Sebaliknya, politik Islam justru bangkit. Dari Ikhwanul Muslimin di Mesir hingga partai-partai berbasis syariah di Asia Selatan, Islam kembali menjadi kekuatan yang diperhitungkan. Pertanyaannya: apakah keduanya akan kembali berhadap-hadapan? Atau justru bertemu di persimpangan perjuangan melawan ketimpangan global?

Ali Syariati menutup analisisnya dengan kalimat tajam: “Komunisme berangkat dari tanah dan kembali ke tanah; Islam berangkat dari Tuhan dan kembali kepada-Nya.” Itulah garis batas yang, meskipun samar dalam isu sosial, tetap tak tergeser.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 01 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:50
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)