Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home masjid detail berita

Jejak Panjang Pertarungan Islam dan Komunisme: Sejarah, Ideologi, dan Dampaknya hingga Kini

miftah yusufpati Kamis, 28 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Jejak Panjang Pertarungan Islam dan Komunisme: Sejarah, Ideologi, dan Dampaknya hingga Kini
Ketegangan antara Islam dan komunisme di Indonesia bukan fenomena sesaat, melainkan hasil benturan ideologis yang berakar sejak awal pergerakan nasional. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Ketegangan antara Islam dan komunisme di Indonesia bukan fenomena sesaat, melainkan hasil benturan ideologis yang berakar sejak awal pergerakan nasional. Dalam sejarah politik Indonesia, keduanya pernah berada di garis yang sama, melawan kolonialisme, namun kemudian menjadi musuh bebuyutan.

Sejarah mencatat, Partai Komunis Indonesia (PKI) berdiri tahun 1920 sebagai kelanjutan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang digagas Henk Sneevliet. Ide-ide Marxisme masuk ke tanah air melalui jalur pergerakan buruh dan tani. Di sisi lain, Sarekat Islam (SI) yang lahir pada 1912 juga mengusung perlawanan terhadap kolonialisme, tetapi dengan basis Islam.

Keduanya sempat beririsan dalam isu anti-penjajahan. Bahkan, sejumlah tokoh SI Merah seperti Semaun dan Darsono berafiliasi dengan komunisme. Namun, konflik mulai muncul ketika ideologi ateistik PKI bertabrakan dengan prinsip tauhid dalam Islam. Menurut Herbert Feith dan Lance Castles dalam "Indonesian Political Thinking 1945-1965" (Cornell University Press, 1970), pertentangan ini bersifat fundamental karena menyentuh akar keyakinan.

Baca juga: Mahfud MD: Paham Radikalisme dan Komunisme Tidak Dapat Berkuasa di Indonesia

Perpecahan Sarekat Islam dan Lahirnya Polarisasi

Pada 1921, Sarekat Islam mengeluarkan disiplin partai, melarang rangkap keanggotaan dengan PKI. Keputusan ini memicu perpecahan: kubu HOS Tjokroaminoto tetap memilih jalur Islam, sementara Semaun dan kelompoknya mendirikan SI Merah yang kemudian bertransformasi menjadi PKI. Sejak itu, polarisasi Islam-Komunis kian mengeras.

Sejarawan Harry J. Benda dalam "The Crescent and the Rising Sun" (Yale University Press, 1958) menulis, konflik ini bukan sekadar ideologi, melainkan juga strategi politik memperebutkan basis massa petani dan buruh. PKI mengklaim mewakili kaum tertindas, sementara organisasi Islam menganggap perjuangan harus sesuai syariat.

Ketegangan mencapai puncaknya pada Pemberontakan Madiun 1948. PKI dituduh berusaha merebut kekuasaan dengan senjata. Umat Islam melalui laskar Hizbullah dan Sabilillah berada di garis depan melawan PKI. Menurut M.C. Ricklefs dalam "Sejarah Indonesia Modern 1200–2008" (Ricklefs, 2008), peristiwa ini memperdalam stigma PKI sebagai ancaman bagi agama.

Konflik ideologi itu meledak lagi dalam Gerakan 30 September 1965. Organisasi Islam seperti NU ikut mengonsolidasikan massa melawan PKI. Dalam "Islam dan Politik di Indonesia" karya Bahtiar Effendy (Paramadina, 1998), disebutkan bahwa kolaborasi militer dan kelompok Islam menjadi faktor penting dalam penghancuran PKI pasca-1965.

Baca juga: Kemunculan Neo-Komunisme Tak Bisa Dianggap Sepele, Tragedi 65 Jangan Terulang

Mengapa Komunisme Ditolak?

Penolakan Islam terhadap komunisme bukan hanya karena faktor politik, tetapi juga ideologi. Komunisme berbasis materialisme historis yang menolak keberadaan Tuhan, sementara Islam berpusat pada tauhid. Nurcholish Madjid dalam "Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan" (Mizan, 1992) menegaskan, pertentangan ini absolut: Islam menempatkan moral dan spiritual sebagai dasar, sedangkan komunisme menekankan determinisme ekonomi.

Selain itu, komunisme mempromosikan perjuangan kelas dan penghapusan kepemilikan pribadi, sesuatu yang dianggap bertentangan dengan prinsip kepemilikan dalam fiqh Islam. Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam "Islamic Awakening Between Rejection and Extremism" menilai bahwa komunisme mengabaikan fitrah manusia yang mengakui kepemilikan, meski dibatasi oleh etika sosial.

Hingga kini, komunisme tetap menjadi isu sensitif. Organisasi Islam berada di garis terdepan menolak segala bentuk revivalisme komunisme. Kendati, menurut Vedi R. Hadiz dalam "Islamic Populism in Indonesia and the Middle East" (Cambridge University Press, 2016), realitas sosial-politik kini lebih ditentukan oleh kapitalisme dan oligarki ketimbang komunisme klasik.

Namun, memori kolektif konflik masa lalu masih membekas. Perang ideologi antara Islam dan komunisme mungkin sudah usai, tetapi polarisasi yang lahir dari sejarah itu masih menjadi amunisi politik.

Baca juga: Tragedi 1965 Beri Pelajaran, Komunisme dan Pancasila Tak Mungkin Bersatu

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)