Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home global news detail berita

Kemunculan Neo-Komunisme Tak Bisa Dianggap Sepele, Tragedi 65 Jangan Terulang

ahmad zuhdi Kamis, 30 September 2021 - 16:05 WIB
Kemunculan Neo-Komunisme Tak Bisa Dianggap Sepele, Tragedi 65 Jangan Terulang
Sejarawan sekaligus dosen tetap Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam (STAI Persis) Garut Dr Tiar Anwar Bachtiar. Foto: Istimewa
LANGIT7.ID, Jakarta - Seolah berulang, di penghujung bulan September tema yang sering menjadi perbincangan di Indonesia adalah Komunisme. Indonesia pernah mengalami sejarah kelam di bulan September pada tahun 1965 yang dikenal dengan peristiwa Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu) atau lebih populer lagi dengan sebutan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI).

Sejarawan sekaligus dosen tetap Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam (STAI Persis) Garut Dr Tiar Anwar Bachtiar menjelaskan, kemunculan Neo-Komunisme di Indonesia di era digital dan media sosial seperti sekarang ini sangat mungkin terjadi. Apalagi secara historis di Indonesia pernah ada PKI, sebuah partai komunis yang mengikuti pemilu tahun 1955 dan menjadi salah satu kekuatan besar dalam peta perpolitikan di Indonesia saat itu.

Baca Juga: Kisah Anak-Anak Eks PKI yang Kini Jadi Ustadz dan Imam Masjid

"Karena itu, kemunculan Neo-Komunisme ini tidak bisa dianggap sepele. Tentunya ini menjadi tantangan sendiri bagi bangsa Indonesia, bagaimana caranya agar peristiwa kelam di tahun 1965 tidak terulang kembali hari ini," ujar Tiar dalam keterangannya, Kamis (30/9/2021).

Pengurus Bidgar Dakwah di Pimpinan Pusat Persis itu mengungkapkan kemunculan ideologi komunisme antara tahun 1948 dan 1965 dengan sekarang tentu berbeda, terutama dalam aspek situasi ekonomi dan politik. Pada masa awal kemerdekaan kondisi ekonomi di Indonesia baru mengalami fase kebangkitan pasca runtuhnya kolonialisme yang mewariskan kemiskinan massal.

"Situasi ini menjadi lahan subur bagi tumbuhnya paham komunis di masyarakat melalui jargonnya yang terkenal 'membela rakyat kecil alias wong cilik'," katanya.

Baca Juga: Masjid Jogokariyan Gelar Layar Tanjep Nonton Bareng Film G30S PKI

Menurut dia, situasi ini tentunya berbeda dengan sekarang. Sementara dalam aspek politik, pada saat itu dinamika politik masih sangat labil dan masih mencari bentuk idealnya (termasuk menjadikan komunisme sebagai alternatif). Hal ini tentunya berbeda dengan sistem politik sekarang yang mulai mapan.

"Itu artinya, untuk membandingkan antara situasi hari ini dengan tahun 1948 dan 1965 tentunya tidak sama persis," ujarnya.

Kendati begitu, sosok yang konsisten menggeluti bidang sejarah pada saat kuliah di Unpad dan UI ini menjelaskan, ideologi komunisme itu bersifat dinamis. Komunisme akan menyesuaikan dirinya dengan tuntutan zaman dengan tampilan wajahnya yang baru yang hari ini dikenal dengan istilah Neo-Komunisme. Langkah ini menjadikan China hari ini sebagai pesaing utama bagi kekuatan ekonomi Amerika.

"Cina menjadi contoh negara yang menampilkan wajah baru komunisme ini. Sistem politiknya memang masih menganut komunisme tetapi sistem ekonominya menganut faham yang menjadi lawan komunisme sendiri, yaitu kapitalisme," tuturnya.

Baca Juga:

Nonton Bareng Film G30S PKI dan Sejarah Masjid Jogokariyan

Isu Perubahan Iklim Global, Ini Target dan Capaian Indonesia


(asf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)