LANGIT7.ID, Yogyakarta - Nonton bareng film pengkhianatan
G30S PKI berlangsung di Plaza Masjid Jogokariyan. Rumah ibadah itu menyimpan sejarah kelam dengan kisah pemberontakan tersebut.
Masjid yang terletak di Jalan Jogokariyan Yogyakarta ini sekarang terkenal dengan program inovatif dan terobosan unik. Tapi siapa sangka dulunya merupakan basis PKI.
![Nonton Bareng Film G30S PKI dan Sejarah Masjid Jogokariyan]()
Untuk mengingatkan generasi muda terkait sejarah kelam itu, DKM
Masjid Jogokariyan akan menggelar 'layar tantjep' nonton bareng film pengkhianatan G30S PKI.
Baca Juga: Cerita Lucu Wisata Religi di Masjid Jogokariyan, Warga Cari-Cari Makam UlamaKegiatan tersebut akan berlangsung pada Kamis (30/9/2021) besok. Tujuannya untuk mengingatkan warga betapa bengis dan terlarangnya kelompok tersebut.
Ketua Dewan Syura Jogokariyan, Ustaz Muhammad Jazir ASP, mengungkapkan bahwa Masjid Jogokariyan baru bisa dibangun setelah operasi penumpasan G30S PKI.
![Nonton Bareng Film G30S PKI dan Sejarah Masjid Jogokariyan]()
Kampung Jogokariyan kala itu menjadi target operasi yang dilakukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo.
Selain Kampung Jogokariyan ada juga Kampung Karangkajen yang menjadi basis kaum muslimin. Di wilayah inilah ditempatkan pasukan di bawah pimpinan Kapten Rahardjo.
Karakter asal masyarakatnya yang cenderung 'abangan', membuat masyarakat Jogokariyan menyambut baik kehadiran PKI semasa era pergerakan nasional pada masa itu.
![Nonton Bareng Film G30S PKI dan Sejarah Masjid Jogokariyan]()
Wilayah Jogokariyan pun kemudian dikenal sebagai salah satu basis PKI di Yogyakarta. Namun berbeda dengan sekarang, warga di kawasan itu menjelma menjadi jamaah masjid.
"Nah setelah tertumpasnya aksi G30S, kaum muslimin yang ada di Jogokariyan didorong oleh warga Karangkajen untuk mendirikan masjid, dan dirintislah masjid," katanya.
Pada tanggal 22 September 1966 dilakukanlah peletakan batu pertama. Lalu pada 1967 tanggal 27 Agustus bertepatan dengan Jumat Kliwon diadakan shalat Jumat pertama.
Pada masa itu sangat sedikit umat yang datang untuk shalat Jumat, mayoritas didominasi anak-anak. Imam pertama sekaligus khatib yakni ayah dari Ustadz Jazir.
![Nonton Bareng Film G30S PKI dan Sejarah Masjid Jogokariyan]()
"Pada saat itu bapak saya yang menjadi khatib, sehingga saya dengan kakak sudah ikut Jumatan di masjid itu. Di hari-hari berikutnya, kegiatan inti dari masjid itu untuk pembinaan anak-anak, karena tidak mudah mengajak orang dewasa," katanya.
Sebab tragedi politik dan trauma berat dari peristiwa G30S itu masih dirasakan oleh ummat, warga, dan masyarakat di Kampung Jogokariyan.
"Alhamdulillah, Masjid Jogokariyan yang dominasi kegiatan anak-anak dan remaja malah berinovasi, tidak terlalu banyak peran orang tua," katanya.
Pada tahun 1999, saat Ustaz Jazir mendapat mandat sebagai Ketua Umum Masjid Jogokariyan, dia pun menggagas survei jamaah shalat untuk warga kampung sekitar.
Dari data tersebut tercatat ada 1.839 orang yang wajib shalat. Tapi sebanyak 816 belum menunaikan ibadah wajib atau masih bolong-bolong dengan berbagai alasan.
Kemudian takmir masjid mengirim sejumlah ustadz untuk membimbing warga, mulai dari mengajak ibadah berjamaah sampai mengajari mereka shalat.
Dia mengatakan, kegiatan ini mendapat respons baik. Pada 1999, ada 816 warga belum shalat, kemudian hingga 2009 tinggal 27 orang yang belum ke masjid untuk shalat.
Menurutnya, bila awalnya jamaah Shalat Subuh hanya 20 persen dari jamaah Shalat Jumat, pada 2010 meningkat hingga 50 persen dan akhirnya 2015 mencapai 75 persen.
(bal)