LANGIT7.ID-, Jakarta - - Berdasarkan data hasil
Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD/MI Sederajat dan SMP/MTS sederajat Tahun 2026 menunjukkan bahwa rerata nilai
Matematika berada di bawah
Bahasa Indonesia. Tak terkecuali
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang meraih rerata nilai tertinggi nasional. Mengapa?
Menilik hasil TKA jenjang SMA tahun 2025 ternyata terjadi hal yang sama dimana rerata nilai Matematika juga rendah.
Berdasarkan data statistik nasional yang dirilis Kemendikdasmen, rata-rata nilai mata pelajaran Matematika yaitu 36,10 dan Matematika Lanjut yaitu 39,32.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan, nilai yang rendah ini bukan semata-mata siswa gagal atau soal sulit.
"Hasil TKA tahun 2025 justru mencerminkan protret yang objektif setelah mungkin sistem evaluasi kita berpusat pada sistem akademik dan nilai rapor," katanya menanggapi hasil TKA jenjang SMA, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Yogyakarta Raih Nilai Rerata TKA Tertinggi Nasional di Jenjang SD dan SMPSementara untuk TKA jenjang SD/MI dan SMP/MTs sederajat, Toni menegaskan bahwa TKA menghasilkan big data pendidikan skala nasional yang kaya, strategis serta terpetakan hingga tingkat provinsi, kabupaten/kota, satuan pendidikan, bahkan kategori kompetensi peserta didik.
"Pemetaan mutu ini menjadi dasar penyusunan kebijakan pendidikan yang lebih presisi dan berbasis data, mengidentifikasi wilayah yang perlu penguatan, serta memastikan kebijakan dibangun berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan," ujar Toni dalam taklimat media di Jakarta, dikutip Sabtu (30/5/2026).
![Mengapa Rerata Nilai TKA Matematika Jeblok Dibanding Bahasa Indonesia? Tak Terkecuali Yogyakarta]()
Berdasarkan hasil nasional, capaian Bahasa Indonesia tercatat lebih tinggi dibandingkan Matematika. Untuk SD/MI sederajat, rerata Bahasa Indonesia mencapai 60,14 sedangkan Matematika 43,41. Sementara pada jenjang SMP/MTS sederajat, rerata Bahasa Indonesia berada di angka 60,83 dan Matematika 40,34.
Pada kesempatan yang sama Toni juga menegaskan bahwa TKA bukan alat untuk memberi label kepada daerah, sekolah, maupun murid.
Baca juga: Nilai Rerata TKA SD, SMP & SMA Yogyakarta Tertinggi Nasional, Apakah karena Tetap Mengadakan ASPD?Ia juga menilai hasil TKA memberikan sinyal penting terkait penguatan kemampuan bernalar dan pemecahan masalah, khususnya pada mata pelajaran Matematika.
"Ini menjadi perhatian bersama bahwa kemampuan berpikir logis, penalaran matematika, dan problem solving perlu terus diperkuat dalam proses pembelajaran sehari-hari," tutur Toni.
Nilai Jeblok Jangan Dipandang sebagai Kegagalan Siswa
Sementara itu, menurut salah satu dosen Matematika FMIPA Unesa, TKA tidak hanya menguji hafalan, tetapi melatih bagaimana siswa berpikir matematis. Jika siswa kesulitan, berarti ada ruang besar untuk memperbaiki cara kita mengajarkan matematika.
Tiga faktor yang mempengaruhi nilai TKA:1. Ketidaksiapan bahan ajar dan soal. Jadi siswa belum terbiasa menghadapi soal TKA yang tingkat kesulitannya lebih tinggi dan berbasis penalaran.
2. Kesiapan guru dan metode pembelajaran. Pembelajaran matematika masih banyak yang berorientasi rumus dan hafalan, bukan penalaran dan pemecahan masalah.
3. Konteks sosial-psikologi siswa. Tekanan seleksi, waktu persiapan yang pendek, serta kurangnya latihan soal berbasis standar nasional menyebabkan performa menurun.
Baca juga: Memahami Kemampuan Anak Berdasarkan Kategori dari Hasil TKA, Sekolah dan Orangtua Wajib TahuMelansir dari laman resmi Unesa, Rumpun Matematika FMIPA Unesa menilai bahwa penurunan nilai ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kegagalan siswa, tetapi sebagai indikator penting bahwa:
1. Pembelajaran matematika harus lebih menekankan penalaran
2. Guru perlu mengajarkan strategi pemecahan masalah
3. Siswa perlu latihan soal non-rutin sejak dini
4. Sekolah perlu menyesuaikan pembelajaran dengan asesmen nasional.
Tantangan nilai matematika dalam TKA bukan sekadar masalah ujian, melainkan cerminan dari kesiapan sistem pendidikan dalam menghadapi format asesmen baru yang menuntut integrasi konsep, penalaran, dan ketahanan kognitif siswa.
(lsi)