LANGIT7.ID-, Jenewa -
Rumah Pendidikan, inovasi digital karya anak bangsa yang dikembangkan
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meraih penghargaan internasional, sebagai Winner WSIS Prizes 2026 pada kategori e-Government di Jenewa, Swiss.
Penghargaan internasional ini diraih setelah menyisihkan 1.596 inovasi digital dari 122 negara. Dari seluruh inovasi yang diajukan, dewan juri internasional menetapkan 360 nominasi.
Untuk pertama kalinya sejak WSIS Prizes diselenggarakan oleh International Telecommunication Union (ITU) pada tahun 2012, Indonesia berhasil meraih predikat Winner pada kategori e-Government melalui inovasi digital karya anak bangsa yang dikembangkan oleh
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Penghargaan tersebut diterima oleh Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, yang mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI di Jenewa, Swiss, Kamis (9/7).
"Penghargaan ini merupakan buah dari visi Presiden Prabowo Subianto dalam memperluas akses pendidikan melalui teknologi, kepemimpinan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu'ti, serta dedikasi seluruh pemangku kepentingan pendidikan, khususnya jajaran Kemendikdasmen dan tim Rumah Pendidikan," ujar Suharti mengutip keterangan tertulis, Senin (13/7/2026).
Baca juga: Kemendikdasmen Prioritaskan Pengembangan Konten Bidang Kejuruan di Platform Rumah PendidikanIa menambahkan, pengakuan internasional ini semakin menguatkan komitmen kami untuk terus menghadirkan pendidikan bermutu yang dapat diakses oleh setiap anak Indonesia.
![Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan Inovasi Digital Internasional di Swiss]()
Penghargaan tersebut diraih setelah menyisihkan 1.596 inovasi digital dari 122 negara. Dari seluruh inovasi yang diajukan, dewan juri internasional menetapkan 360 nominasi.
Selanjutnya, berdasarkan lebih dari 2,2 juta suara publik, terpilih 90 Champion Project. Pada tahap akhir, dewan juri yang terdiri atas para pakar menetapkan 18 Winner dan 72 Champion pada 18 kategori WSIS Action Lines yang diperlombakan.
Pencapaian ini menjadi tonggak penting bagi transformasi digital pendidikan Indonesia sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi pelayanan publik Indonesia mampu bersaing dan memperoleh pengakuan di tingkat global.
Tentang WSIS PrizesWSIS Prizes merupakan bagian dari implementasi World Summit on the Information Society (WSIS) yang diselenggarakan oleh ITU bersama berbagai badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Baca juga: Banyak yang Bingung, Begini Cara Mengakses Banyak Ruang di Aplikasi Rumah PendidikanSetiap tahun, penghargaan ini memilih proyek-proyek terbaik dunia yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan melalui 18 kategori WSIS Action Lines.
Di antara seluruh kategori tersebut, Action Line C7: e-Government merupakan salah satu kategori paling bergengsi karena menilai bagaimana pemerintah memanfaatkan teknologi digital untuk menghadirkan layanan publik yang lebih efektif, inklusif, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Sejak WSIS Prizes pertama kali diselenggarakan pada tahun 2012, kategori Action Line C7: e-Government telah dimenangkan oleh berbagai inovasi digital dari India, Bangladesh, Arab Saudi, Türkiye, Rusia, Tiongkok, Azerbaijan, Uni Emirat Arab, dan Indonesia.
Selama lebih dari satu dekade, penghargaan tersebut didominasi oleh inovasi layanan publik seperti sistem pensiun, layanan administrasi pemerintahan, peradilan elektronik, pertanahan, perizinan, hingga layanan pemerintahan berbasis kecerdasan artifisial.
Kemudian pada tahun 2026, Indonesia berhasil mencatat sejarah melalui Rumah Pendidikan sebagai Winner pertama Indonesia pada kategori tersebut.
Sebelumnya Indonesia pernah menunjukkan kiprahnya pada WSIS Prizes 2021 melalui Superaplikasi Jakarta Kini (JAKI) yang memperoleh predikat Champion pada kategori Action Line C7: e-Government.
Dalam terminologi resmi ITU, Champion bukan berarti runner-up, melainkan proyek yang berhasil melewati proses seleksi internasional dan masuk ke jajaran proyek terbaik pada kategorinya. Sementara itu, Winner merupakan proyek yang akhirnya dipilih sebagai pemenang utama.
Pemanfaatan Rumah PendidikanHingga saat ini, ekosistem Rumah Pendidikan telah mengintegrasikan 66 layanan pendidikan yang dimanfaatkan oleh lebih dari 6,9 juta pengguna dan telah mencatat lebih dari 67 juta kunjungan.
Sebanyak 21 mitra turut menyediakan lebih dari 3.000 materi pembelajaran digital melalui Ruang GTK dan Ruang Murid, sementara Ruang Murid sendiri telah dikunjungi lebih dari 37,7 juta kali oleh sekitar 3,6 juta pengguna dengan akses gratis ke 4.843 sumber belajar.
Baca juga: Ini Delapan Fitur Utama di Rumah PendidikanDalam mendukung tata kelola pendidikan berbasis data, 339.000 satuan pendidikan bersama pemerintah daerah di 513 kabupaten/kota telah memanfaatkan Rapor Pendidikan melalui Rumah Pendidikan. Platform ini juga telah menggandeng lebih dari 50 mitra strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas ekosistem pendidikan.
![Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan Inovasi Digital Internasional di Swiss]()
Pemanfaatan Rumah Pendidikan terus meluas, termasuk oleh 104.814 guru di daerah 3T atau sekitar 54,6 persen dari total guru di wilayah tersebut. Melalui Learning Management System (LMS), tersedia 23.600 kelas pelatihan, termasuk untuk program prioritas Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA).
Selain itu, 1.450 Guru Penggerak Pejuang Digital (GPD) telah menyelenggarakan 2.700 kegiatan pengimbasan yang meningkatkan kapasitas lebih dari 137.000 guru dalam pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran.
Deputi Wakil Tetap RI/Duta Besar PTRI Jenewa, Achsanul Habib, yang juga hadir dalam acara penyerahan penghargaan WSIS Prizes 2026 menyampaikan bahwa Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) Jenewa akan terus mendukung dan memperjuangkan kepentingan Indonesia di berbagai forum multilateral di Jenewa yang merupakan salah satu pusat diplomasi digital dunia.
"Keberhasilan Indonesia meraih predikat Winner WSIS Prizes 2026 pada kategori Action Line C7: e-Government untuk pertama kalinya sejak ajang ini diselenggarakan pada 2012 merupakan pencapaian yang membanggakan bagi dunia pendidikan nasional," ujar Habib.
Melalui Rumah Pendidikan, guru memperoleh akses terhadap pengembangan kompetensi, sumber belajar, dan layanan pendidikan yang terintegrasi. Orang tua semakin mudah terlibat dalam proses belajar anak. Sekolah memperoleh layanan publik yang lebih sederhana dan efisien. Teknologi dimanfaatkan bukan untuk menggantikan guru, tetapi untuk memperkuat peran mereka sebagai pusat pembelajaran.
Keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa inovasi digital Indonesia semakin matang. Jika pada satu dekade lalu Indonesia masih belajar dari berbagai praktik baik dunia, kini Indonesia mulai berkontribusi dengan menghadirkan model transformasi digital yang relevan bagi negara-negara berkembang yang memiliki tantangan geografis serupa.
Pengakuan internasional ini sekaligus memperkuat komitmen Indonesia dalam memanfaatkan transformasi digital untuk meningkatkan mutu pendidikan dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
(lsi)