LANGIT7.ID, Yogyakarta - Kisah anak-anak eks
PKI yang kini menjadi ustadz dan imam masjid tak lepas dari peranan para pendiri Masjid Jogokariyan. Mereka mengubah sejarah kelam kampung tersebut, tak lagi identik dengan wilayah bekas basis
komunis.
Masjid Jogokariyan Yogyakarta menjadi contoh gerakan dakwah yang merangkul semua golongan. Baitullah ini pun berdiri karena latar belakang pahit saat tragedi 30 September 1965.
![Kisah Anak-Anak Eks PKI yang Kini Jadi Ustadz dan Imam Masjid]()
Sebelum semakmur sekarang ini,
Masjid Jogokariyan hanyalah langgar kecil di Kampung Pinggiran Selatan Yogyakarta. Pembangunannya dimulai pada 20 September 1966.
Baca Juga: Nonton Bareng Film G30S PKI dan Sejarah Masjid JogokariyanBeberapa ulama yang terlibat menggagas pendirian masjid antara lain, Zarkoni, Amin Sa'id, Dul Manan atau Muhammad Chamid. Awal-awal pembangunan memang terasa berat dengan masih adanya sisa-sisa gerakan komunisme ala PKI.
Tapi para aktivis Islam di Kampung Jogokariyan terus menggencarkan dakwah sebelum pembangunan masjid benar-benar terlaksana. Sebab warga di sana didominasi Islam Abangan, sedikit sekali yang menjalankan syariat agama.
![Kisah Anak-Anak Eks PKI yang Kini Jadi Ustadz dan Imam Masjid]()
"Mereka sering menganggu aktivitas ibadah kita. Misalnya ketika shalat dibunyikan mercon. Kita memang banyak dimusuhi. Akan tetapi tak menyurutkan semangat teman-teman untuk berdakwah," kata H Chamid, saksi sejarah perjuagan Islam di era 1966.
Dilansir buku 'Dari Kata Menjadi Senjata: Konfrontasi PKI dengan Umat Islam' terbitan JITU tersebut, H Chamid mengatakan, aktivis dakwah saat itu tak lebih dari lima orang. Namun, mereka getol mengajak anak-anak untuk rajin ke langgar.
Lewat pembinaan ini, perlahan tapi pasti, ajaran-ajaran Islam mulai bisa diterima Bahkan, banyak eks PKI ada yang menjadi muadzin, tak ketinggalan shalat berjamaah.
![Kisah Anak-Anak Eks PKI yang Kini Jadi Ustadz dan Imam Masjid]()
Muhammad Jazir ASP, tokoh Jogokariyan mengatakan ada beberapa faktor keberhasilan dakwah masjid di kampung komunis itu. Keberhasilan ini didorong semangat islah para aktivis dengan para keluarga eks PKI dan simpatisannya.
"Mereka diundang, anak-anaknya kita sekolahkan gratis. Kami anggap keluarga besar, kami tidak menyalahkan keluarga mereka," kata Jazir.
Baca Juga: Masjid Jogokariyan Gelar Layar Tanjep Nonton Bareng Film G30S PKIKedua, keikhlasan hati aktivis dakwah dalam membina membuat penyintas G30S PKI merasa diterima. Jazir mengisahkan pernah ada orang PKI yang baru pulang dari Pulau Buru terkaget-kaget karena anaknya sudah menjadi ustadz.
![Kisah Anak-Anak Eks PKI yang Kini Jadi Ustadz dan Imam Masjid]()
"Ia menangis sejadi-jadinya melihat anak-anaknya, dan mereka kini menjadi aktivis masjid. Kami menghapus kesan PKI pada mereka dan membuatnya lekat dengan masjid."
Masjid Jogokariyan bisa menjadi alat pemersatu ummat dan masyarakat bebasis kultur kampung, sehingga proses islah masyarakat dapat segera direalisasikan.
(bal)