LANGIT7.ID-, Jakarta - - Bencana
banjir dan longsor di Sumatra menyisakan banyak cerita sedih di dalamnya. Mulai dari rumah hilang, akses jalan terputus, hingga melumpuhkan aktivitas masyarakat.
Namun siapa sangka, ada terselip kisah perjuangan dalam menjaga harapan dari bencana tersebut. Salah satu kisah haru ditorehkan oleh dua
santri asal Aceh Besar.
Feri Gunawan dan Khalis Akhyar, dua alumni Dayah Insan Qur'ani (IQ) Aceh Besar, rela menembus medan banjir dan longsor untuk menggapai harapannya.
Baca juga: Tips Kuliah di Luar Negeri Ala Koordinator Santri Mendunia di JepangDi tengah kondisi darurat, mereka tetap berjuang melanjutkan langkah menuju
Al-Azhar, Kairo, Mesir.Feri dan Khalis adalah santri yang berasal dari dataran tinggi Gayo, daerah yang terisolir karena banjir bandang dan tanah longsor.
Bermodal tekad kuat, dua santri ini berhasil menembus medan ekstrem dengan
berjalan kaki selama berhari-hari
Perjuangan Feri Gunawan, alumni Dayah IQ tahun 2025 asal Kampung Buntul, Kabupaten Bener Meriah, diawali dari tertutupnya akses keluar kampung halamannya karena banjir.
Jalan utama terputus, kendaraan tak dapat melintas, dan jaringan komunikasi nyaris lumpuh.
Dalam situasi tersebut, Feri bersama ayah, saudara, dan pamannya memulai perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka menembus hujan dan lumpur, memanggul barang-barang yang akan dibawa Feri ke Mesir.
Perjalanan itu sarat risiko. Jalan licin, arus air deras, dan rasa cemas terus menyertai. Namun niat yang telah ditautkan kepada Allah menjadi kekuatan yang menjaga langkah tetap tegap.
Setibanya di kawasan Kampung Kem (Kab. Bener Meriah), Feri dan ayahnya melanjutkan perjalanan dengan menumpang ojek menuju jalur lintas Gunung Salak–Krueng Geukueh.
Baca juga: Habib Muhammad Ingin Santri Juga Jadi Doktor dan DokterBegitu menemukan area dengan sinyal, ayah Feri segera menghubungi panitia keberangkatan IKAT Aceh. Perjalanan panjang itu akhirnya membawa mereka ke Banda Aceh.
Malam dilewati di Sekretariat IKAT sebagai jeda singkat sebelum perpisahan.
Keesokan paginya, sang ayah melepas Feri dengan mata berkaca-kaca dan pesan penuh makna.
“Kalau banjir tak menghentikan kita, maka tak ada alasan untuk berhenti mengejar ilmu.” demikian cerita Feri, seperti dikutip dari laman Kemenag, Rabu (24/12/2025).
Diiringi doa orang tua dan pertolongan Allah, Feri akhirnya menginjakkan kaki di Mesir pada 9 Desember 2025, membawa harapan dari kampung halamannya yang tengah diuji bencana.
Ujian berat juga dialami Khalis Akhyar, alumni Dayah IQ tahun 2024 asal Takengon, Aceh Tengah. Sejak akhir November 2025, hujan lebat memicu banjir dan longsor yang memutus akses wilayah serta melumpuhkan jaringan internet.
Selama hampir sepekan, Khalis kehilangan informasi mengenai keberangkatannya. Hingga akhirnya, dengan memanfaatkan akses Wi-Fi seadanya di kantor keuchik, ia berhasil menghubungi panitia IKAT Aceh dan memastikan jadwal keberangkatan ke Mesir pada 17 Desember 2025.
Bersama kedua orang tuanya, Khalis berupaya mencari jalur menuju Banda Aceh. Namun seluruh akses darat (melalui Bireuen, Beutong Ateuh, hingga Simpang KKA) terputus. Opsi berjalan kaki puluhan kilometer dinilai terlalu berisiko di tengah kondisi darurat.
Baca juga: Santri Didorong Manfaatkan Teknologi Digital Guna Ciptakan Peluang UsahaHarapan kembali muncul ketika Khalis memperoleh kabar adanya penerbangan darurat TNI dari Bandara Rembele, Bener Meriah. Dengan penuh doa, ia dan keluarganya menuju bandara tersebut.
Namun ujian belum berakhir. Kapasitas pesawat terbatas, penumpang membludak, dan prioritas diberikan kepada warga dengan kondisi medis darurat. Seharian penuh Khalis menunggu tanpa kepastian.
Sore hari, penerbangan Hercules dinyatakan selesai sementara namanya belum juga dipanggil. Tawaran terbang ke Medan menggunakan pesawat komersial terpaksa ditolak karena harga tiket yang melonjak tinggi. Khalis memilih bersabar dan bertawakal.
Usai menunaikan salat Ashar, kabar baik datang. Pihak bandara mengumumkan penerbangan tambahan menuju Banda Aceh menggunakan helikopter.
Ketika banyak calon penumpang telah pulang karena lelah menunggu, Khalis justru mendapatkan kesempatan itu.
Malam harinya, Khalis akhirnya tiba di Banda Aceh. Dengan hati penuh syukur, ia bersiap melanjutkan perjalanan menuju Mesir sesuai jadwal.
Kisah Feri Gunawan dan Khalis Akhyar adalah potret keteguhan niat, kesabaran menghadapi ujian, serta keyakinan bahwa Allah selalu membuka jalan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu.
(est)