LANGIT7.ID-Madinah; Di tengah riuh ibadah di Masjid Nabawi, ribuan pekerja house keeping (pelayanan kebersihan) masjid terbesar di Madinah, bekerja dalam sunyi dan tertib. Melayani jamaah. Menyiapkan air zamzam, distribusi al Qur'an, membersihkan karpet dan halaman masjid hingga kebersihan toilet.
Aura autentik memancar di raut wajahya. Bekerja dalam ketulusan. Penuh pengabdian. Status kerja kontrak dari perusahaan outsourching, anak usaha Bin Ladin Group.
![Royan, 20 Tahun Bekerja di Arab Saudi, Bangga Jadi Pembersih Masjid Nabawi dan Masjidil Haram]()
Di antara ribuan pekerja dari pelbagai negara, saya berjumpa satu pekerja yang ramah Royan namanya. Berasal dari pelosok dusun di Lombok Tengah, NTB.
Royan, lelaki 48 tahun. Sudah bekerja di Arab Saudi selama 20 tahun. Awalnya, ia di Qatar, kemudian pindah. Sekarang bekerja di Masjid Nabawi dan Masjid Haram Sudah 16 tahun.
![Royan, 20 Tahun Bekerja di Arab Saudi, Bangga Jadi Pembersih Masjid Nabawi dan Masjidil Haram]()
Demi pekerjaan, Royan rela berpisah dengan 4 buah hati yang sudah menginjak dewasa. Meninggalkan istri, Nur Aini, yang ia nikahi pada 2001 di Lombok.
Royan, tiap dua tahun, balik ke Lombok. Bertemu sanak keluarga, melepas kangen. "Ahamdulilah sudah memiliki rumah sederhana yg cukup representatif". katanya.
Cukup banyak Royan yang bekerja di Arab sebagai pekerja migran. Mengirim remitansi untuk mendongkrak devisa. Berkontribusi untuk negara. Mereka adalah varian the bottom of the pyramid, kata AK. Prahalad (2010).
Banyak peluang yang dimanfaatkan pemodal raksasa untuk membisniskan the bottom. Surplus ekonomi ditransfer dari the bottom ke raksasa (the have).
Bagai lautan terdalam (blue ocean), ikan kecil akan selalu jadi mangsa dari ikan raksasa.(*)
(lam)