Oleh: Dr Mukhaer Pakkanna (Ketua Lembaga Penggerak Ekonomi Umat MUI Pusat)LANGIT7.ID-Medio 1980-an, ghirah revolusi Iran msh menjangkiti dunia Islam, bahkan menular ke kampus kampus Tanah Air. Salah satu intelektual par excellence yang digandrungi anak anak muda saat itu, ada sosok Ali Syariati, sosiolog revolusioner Iran, jebolan Sorbonne University, Paris. Sebelum wafat di usia muda pada 1977, beliau menulis buku tentang Haji. Kemudian 1989, buku itu diterjemahkan Penerbit Pustaka, Bandung.
Haji, kata Syariati, bukan semata ritual formal per se, melainkan juga drama ketuhanan, yang melibatkan gerakan pembebasan. Dari titik ini, muncul revolusi sosial. Orang yang berhaji, harus mampu bertransformasi, mulai dari dirinya. Revolusi harus dimulai dari nilai nilai pribadi (ibda' bi nafsik).
Setiap gerakan dalam ritual haji, papar Syariati, memilki makna simbolik untuk mengonstruksi kisah trajektori penciptaan dan perjuangan manusia. Dari titik inilah, sejatinya, manusia bukanlah siapa siapa. Dia adalah makhluk lemah, yang harus selalu menghamba ke Sang Pencipta.
Nabi Ibrahim sebagai etafet awal revolusi prosesi haji, adalah simbol ketauhidan (monetisme). Ibrahim dengan tulus mengorbankan segalanya demi Allah. Dia adalah bapak Tauhid, tempat perjumpaan atau induk antar pelbagai agama.
Simbol Siti Hajar, adalah representasi dari kaum tertindas dan perempuan budak, yg diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Dia diangkat, karena kesetiaan dan ikhtiarnya (sa’i). Orang yang berhaji, seyogianya berani melakukan advokasi kepada kaum tertindas (mustadh'afin). Tidak semata itu, mendampingi dan memberdayakan mereka.
Sementara Ismail, adalah simbol dari apapun yang paling kita cintai. Cinta dalam hidup, jangsn sampai menjadi noktah penghalang menuju cinta Sang Kudus. Apa pun yang kita miliki di dunia, hanyalah titipan Tuhan. Dan pasti itu akan diambil Tuhan. Tidak ada yang abadi.
Melangkah lbih jauh, ada simbol melawan “trio berhala” sbg penindas. Kita ingat, ada nama beken, Firaun sebagai penguasa politik yang zalim, ditemani pesohor Qorun. Simbol penguasa modal yang serakah dan monopolistik. Di tepi lain, ada nama Bal’am, penasehat spritual, sebagai tokoh agama yang munafik dan mendagangkan agama. Jika para penguasa politik, penguasa uang, dan penguasa "sorga" sudah beroligarki, maka hanya hitungan waktu, Tuhan pasti melaknatnya.
Yang jelas, haji adalah ajang persatuan jutaaan wakil ummat yang berkumpul untuk mempelajari tujuan bersama, persatuan, dan menghapus sekat sosial. Sejatinya, tidak ada kastanisasi dlm prosesi haji. Kasta, dibuat oleh kekuatan duit. Adanya kastanisasi haji ini dapat dilihat dengan pelbagai fasilitas dan privilege. Mereka yang kasta tertinggi, mengalienasi tanpa menceburkan diri dan berinteraksi dengan kasta kasta lain.
Padahal, ada simbol ihram sebagai wujud kebersamaan tanpa kasta. Ada thawaf sebagai gerakan sentripetal menuju kasih Tuhan. Sementara Sai, sebagai lari-lari kecil. Simbol dari ikhtiar tuk mengenyahkan ego. Manusia jatuh, karena merasa paling hebat dari yang lain. Wallahu a'lam
Madinah, 11 Mei 2026(*)
(lam)