Ulama dan Sejarawan, Ustadz Tiar Anwar Bachtiar, menilai Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu ormas keagamaan yang menaungi banyak ulama di Indonesia.
Dia mengatakan bahwa sosok mantan ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini memiliki kesempatan untuk menjadi pejabat besar negara ataupun seorang dengan bergelimang harta.
Sejarawan Muslim, Dr Tiar Anwar Bachtiar, mengungkapkan bahwa penulisan sejarah tidak netral. Worldview atau ideologi berpengaruh pada metodologi penulisan sejarah. Salah satunya dilakukan gerakan feminis untuk mengampanyekan pemikiran mereka di tengah masyarakat.
Pakar sejarah nusantara, Ustaz Dr Tiar Anwar Bachtiar mengatakan, sejarah masuknya Islam di Maroko bersaman dengan perluasan kekuasaan yang dilakukan Bani Umayyah sejak zaman Muawiyah bin Abu Sufyan pada 650-an M.
Bukan berarti masjid tidak boleh dipakai sebagai tempat budaya dalam mengembangkan ilmu. Tetapi ada batasan yang harus dijaga, sebab masjid adalah tempat yang suci dengan tujuan utama bagi umat Islam untuk menunaikan ibadah salat.
Syekh Al-Qaradhawi sangat berupaya menyatukan perbedaan pandangan dalam karya-karyanya. Misalnya bagaimana ulama asal Mesir itu menengahi perdebatan tasawuf dan syariat.
Dalam kumpulan khutbah Jumat yang dipublikasikan itu, Tiar kemudian menerjemahkan beberapa seri. Artikel yang diminatinya saat itu adalah seri tentang perempuan dalam Islam.
Ia berharap agar anak-anak muda yang terjun ke dunia politik membawa niat ikhlas, bersih, dan jujur agar politik di Indonesia bersih dan semakin membaik yang berdampak positif bagi seluruh warga Indonesia.
Umat Islam memiliki peran yang besar dalam mewujudkan kemerdekaan dengan menjadi penggerak utama dalam melawan kolonialisme dengan gerakan jihad fisabilillah. Namun, setelah Indonesia merdeka, pelan-pelan peran umat Islam hendak dipinggirkan oleh kelompok sekuler.
Narasi tentang peran umat Islam dalam kemerdekaan Indonesia, tak banyak tertulis di buku sejarah. Terlebih di buku-buku yang diajarkan di sekolah. Menurut Dr. Tiar Anwar Bachtiar, sejarawan sekuler berusaha mengelabui sejarah Indonesia dengan meminggirkan peran umat Islam.
Pakar Sejarah Islam, Dr Tiar Anwar Bachtiar, mengatakan, pesantren menjadi basis pergerakan masyarakat melawan penjajah. Dan ulama menjadi tumpuan dalam perjuangan merebut kemerdekaan.
Sejarawan dari Persatuan Islam (Persis), Dr. Tiar Anwar Bachtiar, nasionalisme yang berkembang di Indonesia sangat berbeda dengan nasionalisme ala Barat. Inti nasionalisme Indonesia adalah gerakan jihad yang digerakkan para ulama dari kalangan pesantren.
Sekretaris Lembaga Seni Budaya Dan Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) , Dr Tiar Anwar Bachtiar, mengusulkan agar struktur pengurus MUI lebih dirampingkan lagi. Hal tersebut perlu dilakukan agar MUI bisa melakukan akselerasi lebih cepat.