LANGIT7.ID, Jakarta - Umat Islam memiliki peran yang besar dalam mewujudkan kemerdekaan dengan menjadi penggerak utama dalam melawan kolonialisme dengan gerakan jihad fisabilillah. Namun, setelah Indonesia merdeka, pelan-pelan peran umat Islam hendak dipinggirkan oleh kelompok sekuler.
Kaum sekuler ingin menerapkan nasionalisme ala Barat di Indonesia. Namun, itu tak berhasil karena ideologi Islam sudah lebih dulu mengakar di tengah masyarakat. Terlebih, umat Islam memegang peranan penting dalam perjuangan melawan Belanda. Hingga pada akhirnya, pergulatan Islam dan sekularisme mengerucut pada awal kemerdekaan.
Baca Juga: Sejarawan: Jihad Fisabilillah adalah Nasionalisme Islam Melawan Penjajah
“Setelah kemerdekaan Indonesia, maka kelompok sekularisme bertarung dengan kelompok Islam. Kelompok yang sekuler itu membawa gagasan nasionalisme, dan nasionalisme itu dari Barat. Di Eropa kan nasionalisme wajah lain dari sekularisme,” kata Sejarawan dari Persatuan Islam (Persis), Dr Tiar Anwar Bachtiar, kepada LANGIT7.ID, Rabu (17/8/2022).
Nasionalisme yang mengandung ideologi Islam itu hendak diberi warna tegas. Usulan kelompok Islam sangat sederhana, negara Indonesia harus berlandaskan Islam. Ada faktor sejarah yang memberi pengaruh besar, sehingga kelompok Islam sangat percaya diri mengusulkan itu di rapat-rapat kemerdekaan seperti BPUPKI.
“Usulnya apa? bahwa bangsa Indonesia itu harus dasarnya Islam. Mereka percaya diri. Kenapa sangat kuat bicara dan mengusulkan itu, karena latar belakang sejarahnya. Kontribusinya jelas, dan agama lain tidak ada yang berani. Itu hanya gerakan islam saja,” ucap Tiar.
Baca Juga: Ulama Jadi Tumpuan Harapan dalam Perjuangan Merebut Kemerdekaan
Hanya saja pergulatan antar elit umat Islam dan sekuler tidak bisa dihindarkan. Umat Islam datang dengan gagasan konkrit didukung dengan fakta sejarah kuat. Sementara, kaum sekuler ingin menetralkan wajah nasionalisme itu dari pengaruh agama dan hal itu berhasil.
Pergulatan kelompok Islam dan sekuler melahirkan Piagam Jakarta. Saat perumusan Pancasila, redaksi dari Pancasila di piagam Jakarta diubah. Itu lahir dari kebesaran hati umat Islam. Mereka ingin merangkul semua golongan di bawah payung nasionalisme khas Indonesia, tidak seperti di Barat.
“Itu adalah nasionalisme yang punya identitas keagamaan yang kuat. Terutama identitas Islam, makanya muncullah pancasila, yang hasilnya sila pertama adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Sebelumnya, di Piagam Jakarta itu Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya,” jelas Tiar.
Pada hakikatnya ancasila itu merupakan bentuk kegagalan kaum Sekuler. Mereka tidak bisa mensekulerkan Indonesia. Meski begitu, umat Islam tetap berbesar hati dengan menerima usulan-usulan mereka. Sila pertama di Pancasila diubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.
Baca Juga: Sejarawan: Peran Umat Islam dalam Kemerdekaan Terpinggirkan di Buku Sejarah
“Karena ada tuntutan dari kaum sekuler ini, maka kelompok Islam mau menerima tawaran yaitu tidak menyebut secara tegas islam, tapi di situ memberi ruang bagi agama, umat Islam secara konkrit,” ucap Tiar.
Setelah kemerdekaan, permintaan kelompok Islam juga sangat sederhana. Salah satunya pembentukan Departemen Agama. Institusi itu dibentuk untuk melayani kepentingan umat Islam. Meskipun pada Orde Baru, Departemen Agama dikembangkan untuk melayani semua agama di Indonesia.
“Makanya, setelah Indonesia Merdeka, permintaanya kan sederhana, departemen agama. Itu departemen untuk melayani kepentingan Islam pada mulanya. Walaupun perkembangannya pada masa orde baru, departemen dikembangkan untuk melayani agama yang lain,” ujar Tiar.
(jqf)