Di luar itu, keprihatinan muncul jika jumlah yang banyak itu tidak diimbangi dengan mutu sumber daya insani yang unggul. Tantangan saat ini adalah bagaimana membudayakan semangat maju, meningkatkan kualitas umat.
Umat Islam memiliki peran yang besar dalam mewujudkan kemerdekaan dengan menjadi penggerak utama dalam melawan kolonialisme dengan gerakan jihad fisabilillah. Namun, setelah Indonesia merdeka, pelan-pelan peran umat Islam hendak dipinggirkan oleh kelompok sekuler.
Narasi tentang peran umat Islam dalam kemerdekaan Indonesia, tak banyak tertulis di buku sejarah. Terlebih di buku-buku yang diajarkan di sekolah. Menurut Dr. Tiar Anwar Bachtiar, sejarawan sekuler berusaha mengelabui sejarah Indonesia dengan meminggirkan peran umat Islam.
Pakar Sejarah Islam, Dr Tiar Anwar Bachtiar, mengatakan, pesantren menjadi basis pergerakan masyarakat melawan penjajah. Dan ulama menjadi tumpuan dalam perjuangan merebut kemerdekaan.
Umat Islam terlebih kalangan santri memiliki andil yang besar dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Pesantren pun jadi basis konsolidasi massa melawan penjajah. Menurut sejarawan muslim, Tiar Anwar Bachtiar, hal itu terjadi karena kerajaan-kerajaan banyak dikooptasi penjajah.
Direktur Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya, Dr. Ahmad Kholili Hasib, menegaskan, ulama dan umat Islam memiliki jasa besar dalam kemerdekaan Indonesia.
Ulama memiliki jasa besar terhadap kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Itu fakta sejarah yang tidak bisa dibantah. Mulai dari sebelum kemerdekaan hingga detik-detik proklamasi, ada peran umat Islam di sana.
Kejadian penyerangan nine-eleven atau 9/11 WTC di New York misalnya, seharusnya dengan serangan tersebut Islam akan dijauhi atau hilang di Amerika Serikat. Namun sebaliknya, setelah kejadian tersebut orang-orang tertarik untuk mempelajari Islam.
Bisa dibilang, negeri ini merdeka dari pengorbanan darah, keringat, dan air mata mereka. Para pahlawan merupakan tokoh besar umat Islam di negeri ini, yang memiliki jasa dan peran penting dalam kemerdekaan.
Rektor Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah (INAIFAS) Kencong Jember, Rijal Mumazziq Z, menceritakan pertempuran para santri dan pemuda-pemuda Surabaya pada 10 November 1945.