LANGIT7.ID - Rektor Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah (INAIFAS) Kencong Jember, Rijal Mumazziq Z, menceritakan pertempuran para santri dan pemuda-pemuda Surabaya pada 10 November 1945.
Pada 9 November 1945, Mayjen Eric Carden Robert Mansergh menyebarkan ratusan ribu selebaran ultimatum kepada rakyat Surabaya. Ultimatum yang disebarkan pada pukul 09.00 pagi itu meminta para pejuang menyerahkan senjata dan mengibarkan bendera putih.
Ultimatum Sekutu yang ditulis dalam bahasa Inggris itu berupa selebaran dicetak di kertas lalu disebarkan menggunakan pesawat udara. Kalimatnya sangat merendahkan bangsa Indonesia. Terdapat dua reaksi ketika rakyat Surabaya membaca ultimatum itu.
Pertama dari kaum santri. Tanpa pikir panjang, mereka meneriakkan takbir siap berjihad. Kedua, dari pemuda-pemuda Surabaya. Para pemuda juga tak mau kalah. Mereka dengan gagah berani ke medan tempur tanpa rasa takut.
“Mereka tidak peduli kapal-kapal perang sekutu, mereka siap berjuang mempertahankan kemerdekaan. Maka, keesokan harinya, terjadi sebuah pertempuran akbar pada 10 November,” ucap Gus Rijal Rijal dalam Seminar Nasional ‘Refleksi Sejarah Resolusi Jihad untuk Kaum Muda Milenial’, Selasa (9/11/2021).
Dua Jenderal Sekutu TewasDalam rentan waktu 28-30 Oktober 1945, dua jenderal Inggris tewas dalam pertempuran. Padahal, selama melalui rentetan pertempuran selama Perang Dunia II, kedua jenderal itu menjadi andalan bagi Inggris ketika melawan pasukan Jepang.
Salah satu jenderal yang tewas itu adalah perwira operasional Inggris, Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby. Dia tiba di Indonesia pada 25 Oktober 1945. Kala itu, dia diminta memimpin Brigade 49 dari Divisi XXII untuk mendarat di Tanjung Perak, Surabaya. Pertempuran tak bisa dielakkan.
Nasionalisme pejuang RI kian berkobar. Pertempuran itu terus berlangsung hingga Jenderal Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945. Mallaby dimakamkan di lokasi yang kini menjadi komplek pemakaman Menteng Pulo, Jakarta. Tak sendiri, ia meregang nyawa saat melawan para santri dan pemuda Surabaya pada 10 November 1945.
Resolusi JihadMenurut Gus Rijal, para santri dan pemuda Surabaya kala itu gagah berani berjuang melawan penjajah karena kecipratan takbir Bung Tomo. Di sisi lain, Resolusi Jihad yang diteken KH Hasyim Asy’ari juga memantik darah juang rakyat Surabaya.
“Arek-arek Suroboyo yang bergerak itu karena kecipratan pekik takbir Bung Tomo dan Resolusi Jihad yang diteken KH Hasyim Asy’ari. Termasuk santri Tebuireng. Mereka berangkat sekitar tanggal 8-9 November. Saat itu, para santri dikumpulkan,” ucap Gus Rijal.
Fatwa Jihad yang dikeluarkan KH Hasyim Asyari itu berisi tiga seruan kepada umat Islam. Pertama, hukum umat Islam memerangi penjajah yang merintangi kemerdekaan Indonesia adalah fardhu ain. Kedua, umat Islam yang bertempur melawan penjajah mati syahid. Ketiga, hukum orang yang memecah-belah persatuan adalah dibunuh.
Gus Rijal menjelaskan, tujuan dari Resolusi Jihad itu adalah sebagai bahan untuk “mempengaruhi” pemerintah dan agar segera menentukan sikap melawan kekuatan asing yang terindikasi menggagalkan kemerdekaan.
“Jika himbauan yang ditujukan kepada pemerintah itu tidak terwujud maka resolusi bisa dijadikan pegangan moral bagi Laskar Hizbullah, Barisan Sabilillah, dan badan perjuangan lain untuk menentukan sikap dalam melawan kekuatan asing,” ucap Gus Rijal.
Resolusi Jihad itu terbukti memberikan dampak negatif bagi umat Islam di Surabaya. Gus Rijal mencatat dua dampak dari resolusi itu. Pertama, dampak politik. Resolusi Jihad ini memberikan keabsahan pembelaan secara agama terhadap bangsa dan negara.
Kedua, dampak militer. Resolusi Jihad telah memberikan spirit Jihad Fi Sabilillah bagi siapapun yang saat itu bertempur di Surabaya.
Maka dari itu, Gus Rijal berpesan, Islam dan Indonesia tidak bisa dipisahkan. Islam adalah ruh, Indonesia adalah jasad. Dia meminta para anak muda saat ini untuk berkontribusi bagi izzul Islam wal muslimin dalam berbagai bidang. “Berkontribusi bagi kemaslahatan Indonesia,” ucap Gus Rijal.
(jqf)